Kenapa Puluhan Ribu Migran dari Maroko Serbu Ceuta Spanyol?

CNN Indonesia
Sabtu, 01 Agu 2026 16:00 WIB
Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, Spanyol, dalam kekacauan. Penyebabnya diduga disinformasi dan faktor politik. (Foto: via REUTERS/ATLAS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Puluhan ribu migran mencoba memasuki Ceuta, wilayah otonomi khusus Spanyol, dalam beberapa hari terakhir. Situasi di perbatasan Maroko-Spanyol itu berubah menjadi kekacauan setelah pengawasan perbatasan diduga melemah.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 50.000 orang melintasi perbatasan sejak Kamis pagi, sementara pemerintah daerah Ceuta memperkirakan jumlahnya mencapai 60.000 orang.

Aksi penyeberangan massal ini dianggap merupakan pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol. Gelombang migran ini diduga dipicu oleh disinformasi yang disebarkan oleh penyelundup manusia pascaputusan Mahkamah Agung.

Lebih dari 37.500 orang telah dikembalikan ke sisi Maroko. Ratusan orang lainnya terus kembali setiap jam, pada Jumat (31/7).

Krisis tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dalam upaya menyeberangi perbatasan melalui jalur yang berbahaya.

Apa itu Ceuta?

Melansir The Guardian, Ceuta merupakan wilayah Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara. Bersama Melilla yang terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur, Ceuta menjadi satu-satunya wilayah yang memiliki perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika.

Berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580, Ceuta dihuni masyarakat dengan latar belakang Kristen dan Muslim. Penduduk Spanyol dan Maroko, serta para pekerja harian di sana umumnya hidup berdampingan dengan relatif rukun.

Namun, Maroko tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai bagian dari wilayah Spanyol. Pemerintah Maroko kerap menyebut keduanya sebagai wilayah yang diduduki.

Posisi geografis tersebut membuat Ceuta menjadi salah satu jalur penting bagi orang-orang yang ingin memasuki Eropa dari Afrika.

Mengapa Ceuta menjadi titik rawan migrasi?

Spanyol merupakan salah satu pintu masuk utama ke Eropa bagi orang-orang yang mencari peluang ekonomi lebih baik atau melarikan diri dari konflik dan kekerasan di negara asal.

Ceuta dan Melilla memiliki sistem keamanan perbatasan yang ketat karena keduanya menjadi tujuan migran dari Maroko maupun wilayah Afrika lainnya.

Untuk mencapai Ceuta, sebagian migran mencoba berenang dari kota Fnideq di Maroko dengan jarak sekitar 5 kilometer. Sebagian lainnya mencoba masuk melalui wilayah Belyounech yang lebih dekat.

Kenapa tiba-tiba puluhan ribu orang mencoba masuk?

Belum ada penjelasan pasti mengenai mengapa begitu banyak orang dapat melewati perbatasan Ceuta dalam waktu singkat.

Pemerintah Maroko juga belum memberikan pernyataan resmi mengenai kejadian tersebut. Karena itu, belum diketahui seberapa jauh otoritas Maroko berupaya mencegah para migran menyeberang.

Salah satu dugaan mengarah pada hubungan politik Maroko dengan Aljazair dan Spanyol.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez baru saja melakukan kunjungan ke Aljazair pada Senin (20/7) lalu. Kunjungan tersebut menjadi yang pertama bagi kepala pemerintahan Spanyol ke negara itu dalam empat tahun dan dianggap sebagai tanda membaiknya hubungan Madrid-Aljazair.

Hubungan Spanyol dan Aljazair sebelumnya sempat memburuk setelah Madrid pada 2022 mengubah kebijakan terkait sengketa Sahara Barat dan mendukung rencana Maroko atas wilayah tersebut.

Maroko dan kelompok Polisario Front sama-sama mengklaim Sahara Barat. Kelompok tersebut didukung Aljazair.

Peneliti migrasi dari Italian Institute for International Political Studies, Matteo Villa, menilai faktor politik kemungkinan berperan dalam lonjakan migrasi kali ini.

Villa membandingkan situasi tersebut dengan gelombang migrasi pada Mei 2021, ketika ribuan orang berhasil memasuki Ceuta setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan di tengah perselisihan diplomatik dengan Spanyol.

"50.000 orang tidak datang dalam semalam ketika biasanya jumlahnya hanya ratusan per bulan. Sánchez pergi ke Aljazair adalah sesuatu yang tidak terlalu disukai Maroko," kata Villa.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Villa, Maroko mungkin sengaja melonggarkan pengawasan sebagai cara menunjukkan bahwa mereka masih memiliki posisi kuat dalam hubungan dengan Spanyol dan negara-negara Eropa.

Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan pasukan militer dan tambahan polisi untuk mengendalikan situasi serta memulihkan keamanan di perbatasan.

Sánchez yang berada di Ceuta pada Jumat (31/7) menyebut masuknya puluhan ribu migran tersebut sebagai pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol.

(anm/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK