Iran Ancam Serang Ladang Minyak Milik Sekutu AS Jika Ada Serangan Baru

CNN Indonesia
Minggu, 02 Agu 2026 07:50 WIB
Ilustrasi. Iran mengancam akan memperluas serangan ke fasilitas energi negara-negara lain sekutu Amerika Serikat (AS) apabila AS kembali melancarkan serangan. HO / Iranian Presidency / AFP
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengancam akan memperluas serangan ke fasilitas energi negara-negara lain sekutu Amerika Serikat (AS) apabila AS kembali melancarkan serangan terhadap wilayahnya.

Ancaman itu disampaikan ketika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Sabtu (1/8) menegaskan Teheran akan memberikan respons tegas terhadap setiap aksi militer baru dari Washington.

Pernyataan itu disampaikan dalam percakapan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Panglima Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, serta Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan.

Melansir Reuters, Araqchi memperingatkan bahwa setiap bentuk 'agresi' dari AS akan dibalas secara proporsional. Ia juga membahas potensi memburuknya situasi keamanan kawasan apabila konflik kembali meningkat.

Kepada Arab Saudi, Araqchi menegaskan serangan AS maupun Israel, termasuk keterlibatan negara-negara lain di kawasan, akan mendapat balasan yang sepadan dari Iran.

Ancaman itu muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan berhasil menghancurkan sejumlah drone yang disebut diluncurkan Iran dan mengarah ke beberapa fasilitas vital di negara tersebut.

Serpihan drone dilaporkan sempat menghantam fasilitas pemerintah di Kuwait utara serta properti sebuah perusahaan di Pulau Bubiyan, namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Media Iran yang berafiliasi dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Nournews, bahkan memperingatkan apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran, Teheran akan membalas dengan menyerang ladang minyak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta ladang gas Qatar dan Israel.

Media tersebut menyebut seluruh fasilitas energi itu berpotensi "dibakar hingga menjadi abu."

Ancaman terhadap pasokan energi

Meningkatnya ancaman terhadap fasilitas energi memperbesar kekhawatiran pasar global yang sejak beberapa bulan terakhir dibayangi konflik di Timur Tengah.

Perang antara AS, Israel, dan Iran yang dimulai melalui serangan ke Iran pada 28 Februari telah mendorong harga minyak dunia tetap bertahan di level tinggi.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya berulang kali menyatakan tujuan utama operasi tersebut adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, meski kebijakan itu ikut memicu lonjakan harga energi.

Di sisi lain, Trump mengatakan jalur diplomasi dengan Iran sebenarnya masih terbuka. Dalam rapat kabinet di Camp David, ia menyebut negosiator AS, termasuk Jared Kushner, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, masih berupaya mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Namun, Trump juga mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap Iran dan kembali mengancam akan melancarkan serangan.

Selat Hormuz masih jadi sorotan

Ketegangan yang terus berlangsung membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi pasar energi internasional.

Kenaikan risiko keamanan juga mendorong harga minyak terus menguat. Kontrak minyak mentah Brent tercatat melonjak sekitar 24 persen sepanjang Juli, sementara analis yang disurvei Reuters memperkirakan tren kenaikan harga masih akan berlanjut hingga akhir tahun.

Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, kembali mengancam jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk Laut Merah yang menjadi rute ekspor penting minyak Arab Saudi menuju pasar global.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga sebelumnya melaporkan dua insiden terhadap kapal di perairan Oman. Salah satunya melibatkan sebuah kapal tanker yang terkena proyektil tak dikenal hingga ruang mesinnya mengalami kerusakan.

Dalam insiden lain, nakhoda kapal tanker melaporkan adanya ledakan di dekat kapalnya, meski tidak menyebabkan kerusakan.

Rangkaian insiden tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan energi dunia apabila situasi terus memburuk.

(del/mik)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK