Bom Truk Meledak Jelang Pelantikan Presiden Kolombia, 14 Orang Terluka
Sebuah bom truk meledak di dekat sebuah kantor polisi di Kota Cucuta, Kolombia, pada Sabtu (2/8), melukai 14 orang. Insiden itu terjadi hanya beberapa hari sebelum presiden terpilih Abelardo de la Espriella dilantik pada 7 Agustus mendatang.
De la Espriella, pengacara miliarder berhaluan kanan yang akan menggantikan Gustavo Petro, presiden berhaluan kiri pertama dalam sejarah Kolombia, mengecam keras serangan tersebut.
"Tindakan terorisme tidak akan mengintimidasi Kolombia," tulis De la Espriella melalui akun X miliknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Kolombia menyalahkan kelompok gerilya Tentara Pembebasan Nasional (National Liberation Army/ELN) atas ledakan yang terjadi di kota yang berada tak jauh dari perbatasan Venezuela tersebut.
Menteri Pertahanan Pedro Sanchez menyebut "narkoteroris" ELN sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. Pemerintah juga menawarkan hadiah lebih dari US$64.000 bagi siapa pun yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan para pelaku.
Menurut data resmi terbaru, korban luka terdiri dari 11 anggota polisi dan tiga warga sipil. Jurnalis AFP di lokasi melaporkan kendaraan yang digunakan dalam serangan terbakar, sementara sejumlah bangunan di sekitar lokasi mengalami kerusakan akibat ledakan.
Gubernur Departemen Norte de Santander, William Villamizar, mengatakan dua polisi yang menjadi korban berada dalam kondisi kritis dan sedang "berjuang untuk bertahan hidup."
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut mengecam serangan tersebut dan menilai ledakan itu telah memicu ketakutan di kalangan masyarakat.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan menjelang pergantian pemerintahan. Kelompok-kelompok gerilya sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada De la Espriella, yang berencana mengakhiri proses perundingan damai yang dijalankan Presiden Gustavo Petro dengan berbagai kelompok bersenjata.
Perundingan damai antara pemerintah Kolombia dan ELN sendiri terhenti sejak Januari 2025 setelah kelompok tersebut melancarkan serangan terhadap gerilyawan rival di wilayah timur laut Kolombia yang menewaskan lebih dari 100 orang.
Kolombia merupakan produsen kokain terbesar di dunia, sementara ELN dikenal sebagai kelompok gerilya tertua yang masih bertahan di benua Amerika. Kelompok itu membiayai aktivitasnya melalui perdagangan narkoba dan berbagai kegiatan ilegal lainnya.
Dengan dukungan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, De la Espriella berjanji akan memperketat operasi terhadap kelompok gerilya dan jaringan perdagangan narkoba yang dinilai memicu gelombang kekerasan terburuk di Kolombia dalam satu dekade terakhir.
Ia juga berencana memperkuat kerja sama militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Tempat pelantikan presiden Kolombia akan dipindahkan
Pelantikan presiden Kolombia yang biasanya digelar di gedung Kongres di Bogota akan dipindahkan ke Kota Cali atas permintaan De la Espriella. Kota di wilayah barat daya itu selama ini menjadi salah satu daerah yang kerap dilanda bentrokan antara kelompok gerilya dan kartel narkoba.
Sebanyak 11.000 personel militer dan polisi akan dikerahkan untuk mengamankan proses pelantikan melalui operasi darat, laut, dan udara.
De la Espriella juga berulang kali mengklaim adanya rencana pembunuhan terhadap dirinya.
Situasi keamanan di Kolombia memang memburuk selama masa kampanye pemilihan presiden. Konflik bersenjata meningkat dengan maraknya penggunaan bom, drone bermuatan bahan peledak, serta serangan terhadap aparat keamanan.
Pada 2025, calon presiden dari kubu kanan sekaligus senator Miguel Uribe Turbay ditembak saat menghadiri sebuah acara di Bogota dan kemudian meninggal dunia.
Sementara itu, Presiden Gustavo Petro tengah melakukan kunjungan ke Kuba pada hari-hari terakhir masa jabatannya dan hingga kini belum memberikan tanggapan atas serangan bom tersebut.
(van/mik)[Gambas:Video CNN]

