Sungai Mengering, Hungaria Tutup Pembangkit Tenaga Nuklir
Hungaria akan menutup sementara satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di negara itu setelah permukaan Sungai Danube turun ke level terendah sehingga pasokan air untuk mendinginkan reaktor tidak lagi mencukupi.
Melansir Reuters, Perdana Menteri Peter Magyar mengatakan PLTN Paks di Hungaria tengah akan dimatikan mulai Minggu (3/8).
Langkah ini menjadi penghentian operasi penuh pertama sejak pembangkit tersebut mulai beroperasi 44 tahun lalu.
PLTN Paks selama ini memasok hampir separuh kebutuhan listrik Hungaria. Namun, penyusutan debit Sungai Danube membuat sistem pendingin reaktor tidak dapat bekerja secara optimal.
Menurut Magyar, kapasitas pembangkit terus menurun dalam beberapa hari terakhir. Produksi listrik tercatat hanya mencapai 965 megawatt pada Jumat, kemudian merosot menjadi 240 megawatt pada malam harinya, jauh di bawah kapasitas normal sekitar 2.000 megawatt.
PLTN peninggalan era Uni Soviet itu memanfaatkan air Sungai Danube untuk mendinginkan empat reaktornya. Akan tetapi, permukaan sungai yang terus menyusut membuat pompa kesulitan menarik air dalam jumlah yang dibutuhkan untuk menjaga suhu reaktor tetap stabil.
Pemerintah Hungaria menyebut pembangkit harus dihentikan apabila permukaan Sungai Danube di wilayah Paks mencapai minus 134 sentimeter. Sementara itu, ketinggian air diperkirakan akan turun hingga minus 144 sentimeter, melampaui rekor sebelumnya sebesar minus 98 sentimeter yang tercatat pada 2018.
Sungai Danube, yang membentang dari Jerman hingga Laut Hitam, menjadi salah satu sungai besar di Eropa yang mengalami penyusutan debit akibat gelombang panas dan kekeringan berkepanjangan dalam beberapa bulan terakhir.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah Hungaria memberlakukan pembatasan penggunaan air di lebih dari 100 kota dan desa. Pemerintah juga meminta perusahaan-perusahaan dengan konsumsi air tinggi untuk secara sukarela mengurangi pemakaiannya demi menjaga ketersediaan air.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan sektor energi. Pemerintah menyebut kondisi tersebut turut mengganggu pelayaran, pariwisata, pertanian, dan industri di tengah perlambatan ekonomi yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir.
Di tengah situasi itu, Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mengatakan negaranya terus memantau kondisi pasokan energi di kawasan dan siap memberikan bantuan apabila diperlukan.
Sejak Mei lalu, sebagian besar wilayah Eropa dilanda gelombang panas secara beruntun. Bahkan, benua itu mencatat gelombang panas paling ekstrem pada Juni tahun ini.
Sejumlah ilmuwan dari kelompok World Weather Attribution menilai bukti-bukti ilmiah menunjukkan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia menjadi penyebab utama suhu ekstrem yang melanda kawasan tersebut.
(del/mik)