Iran-Oman Bahas Masa Depan Selat Hormuz, Apa Isinya?

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 14:05 WIB
Iran's Foreign Minister Abbas Araghchi on the day he addresses a special session of the Conference on Disarmament at the United Nations, aside of U.S.-Iran talks in Geneva, Switzerland, February 17, 2026. REUTERS/Pierre Albouy     TPX IMAGES OF THE D
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: REUTERS/Pierre Albouy
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran dan Oman disebut telah membicarakan masa depan rute pelayaran minyak global Selat Hormuz dan kini telah memasuki tahap akhir.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan hasil pembicaraan dengan Muscat dalam rapat kabinet pada Minggu (2/8).

"Negosiasi berada di jalur menuju finalisasi dan sedang memasuki tahap akhir," demikian laporan media pemerintah Iran, Mehr News, mengutip Araghchi. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Araghchi juga mengatakan negosiasi kedua pihak terus berlanjut soal Selat Hormuz.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan Selat Hormuz tidak akan kembali ke situasi sebelum perang. Ia juga menekankan perjanjian dengan Oman tak serta merta pembukaan penuh rute tersebut.

"Dalam keadaan apa pun Selat Hormuz tidak akan kembali ke situasi sebelum perang," kata dia.

Lebih lanjut, Baghaei mengatakan Iran dan Oman sebagai dua negara pesisir Selat Hormuz, memiliki tanggung jawab bersama untuk bekerja sama dalam keamanan maritim dan navigasi yang aman.

Baghaei lantas mengutip poin kelima dalam nota kesepahaman (MoU) yang sudah ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu. Menurut poin itu, pengelolaan Selat Hormuz di masa mendatang dilakukan Teheran dan berkonsultasi dengan Oman serta negara di kawasan.

Selama 22 atau 23 hari pertama implementasi perjanjian, lanjut dia, jalur utara Selat Hormuz aman dan kapal bisa melintas.

"Namun, sebelum periode 30 hari berakhir, yang tadinya direncanakan untuk memulihkan lalu lintas maritim ke kondisi sebelum perang, terjadi tindakan agresi terhadap Iran," kata dia, dikutip Mehr News.

Baghaei menyebut rute yang disepakati di masa depan di Selat Hormuz bukanlah rute utara atau rute selatan saat ini, melainkan rute baru yang akan ditentukan melalui kesepakatan antara Iran dan Oman. Ia menekankan pembicaraan Teheran dengan Muscat bersifat bilateral dan tidak melibatkan pihak ketiga mana pun.

"Kita harus memastikan Selat Hormuz tak bisa disalahgunakan pihak-pihak yang sudah melakukan agresi terhadap Iran. Hal ini membutuhkan mekanisme, di mana hak kedaulatan Iran sepenuhnya dihormati," kata dia.

Iran menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari balasan mereka atas serangan brutal Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut pada akhir Februari.

Iran dan AS sebetulnya sudah sepakat gencatan senjata pada April lalu dan diperpanjang tanpa pengumuman batas waktu. Kedua negara juga sudah meneken MoU yang berisi penghentian pertempuran dan mekanisme di Selat Hormuz.

Namun pada pertengahan Juli, AS melanggar gencatan dan MoU dengan menggempur Iran dan menargetkan infrastruktur sipil. Teheran lalu membalas, perang pun berkobar lagi selama nyaris dua pekan.

(isa/dna)