China-AS Perang AI Buat Program Rencana Serangan Udara Masif

CNN Indonesia
Rabu, 05 Agu 2026 11:10 WIB
China dan Amerika Serikat semakin sengit perang program akal imitasi (AI) untuk membantu rencana serangan udara secara masif.
China dan Amerika Serikat semakin sengit perang program akal imitasi (AI) untuk membantu rencana serangan udara secara masif. (REUTERS/Tingshu Wang)
Jakarta, CNN Indonesia --

China dan Amerika Serikat semakin sengit perang program akal imitasi (AI) untuk membantu rencana serangan udara secara masif.

Beijing kini mulai serius mengembangkan AI ke arah tujuan militer tersebut secara lebih eksplisit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sistem pendukung ini dirancang untuk mendukung latihan yang melibatkan "ratusan target dan puluhan formasi," menurut media pemerintah China, dikutip dari South China Morning Post.

Angkatan Udara China menggunakan sistem berbasis AI menyusun rencana pertempuran untuk operasi yang melibatkan lebih dari 100 unit, menurut sebuah film laporan dokumenter televisi pemerintah.

"Sistem perencanaan serangan cerdas" dan presisi itu dirancang untuk membantu komandan dan pilot dengan memprioritaskan target, mengoordinasikan gelombang serangan, dan mengalokasikan tugas-tugas spesifik kepada unit, demikian laporan CCTV yang disiarkan pada Minggu, menambahkan bahwa sistem tersebut telah digunakan "berkali-kali."

Pengetahuan yang langka tentang penggunaan AI ini menyoroti upaya Beijing untuk mengintegrasikan teknologi baru ke dalam operasi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan mendukung konsep yang dikenal sebagai peperangan "sistem-dari-sistem."

Berbagai platform dan sistem senjata akan digabungkan dan diselaraskan dalam satu program AI.

Sistem peperangan udara ini dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Kolonel Senior Deng Jianping untuk mendukung latihan yang menampilkan formasi yang semakin besar dan berbagai jenis pesawat.

"Dalam latihan angkatan udara skala besar, lebih dari 100 unit taktis, dengan mengandalkan perencanaan sistem ini, mengoordinasikan serangan mereka, mencapai ketepatan waktu sepersekian detik. Biarkan perangkat lunak menentukan peralatan, menentukan operasi, dan menentukan medan perang," kata Deng.

Pada Kamis, Presiden Xi Jinping mengatakan dalam sesi studi Politbiro bahwa PLA harus "memperkuat penerapan militer teknologi cerdas tak berawak, memperdalam pengembangan dan penerapan sistem informasi jaringan, dan secara bertahap membangun sistem militer cerdas."

Sebelumnya, Beijing fokus pada bidang-bidang seperti kawanan drone dalam penggunaan AI oleh PLA, ketimbang sistem yang dirancang untuk mendukung operasi skala besar yang melibatkan pilot manusia.

AS juga mengembangkan sistem pendukung AI untuk militer, tetapi program Washington seperti Proyek Maven berbeda dari program China. Program itu lebih menekankan pada kesadaran situasional medan tempur dan analisis intelijen.

(bac)


[Gambas:Video CNN]