Dilarang China, Mangga Asal Taiwan Ludes Dijual di Eropa
Mangga Irwin asal Taiwan menjadi salah satu komoditas yang paling banyak diburu warga di sejumlah negara Eropa, meski dibanderol dengan harga tinggi.
Mangga Irwin Taiwan terjual habis hanya dalam dua hari setelah debut di Prancis pada bulan Juni, dipatok dengan harga €99,90 atau sekitar Rp2.073.000 per kilogram.
Mangga Irwin dikenal karena kulitnya yang berwarna merah cerah keunguan, aromanya yang kaya, dan rasa manisnya yang lembut dan lumer di mulut tanpa serat.
Pada awal Juli ini, pelanggan di Prancis membeli lebih dari empat ton mangga Taiwan, semuanya dengan harga yang sangat tinggi.
"Kami menerima minat dari restoran kelas atas dan vendor lain untuk lebih banyak mangga. Tetapi kami berada di akhir musim sehingga mereka harus menunggu hingga tahun depan," kata wakil ketua eksekutif Natural House Group, Carrie Wong, eksportir Taiwan di balik pengiriman ke Eropa.
Mangga Irwin berasal pada tahun 1939 di negara bagian Florida, Amerika Serikat, melalui penyerbukan silang yang tidak disengaja antara pohon mangga Lippens dan Haden di kebun ahli hortikultura F.D. Irwin.
Bibit Irwin diimpor ke Taiwan pada tahun 1950-an dan kemudian dibawa ke Jepang pada tahun 1980-an.
Di Taipei, kesuksesan penjualan Mangga Irwin ke Prancis dirayakan sebagai kisah sukses besar, salah satunya karena berhasil masuk ke pasar Eropa yang punya standar karantina tanaman hingga residu pestisida paling ketat di dunia.
Hal ini juga memungkinkan Taiwan lebih mendiversifikasikan ketergantungan ekspornya dari China, di tengah tuduhan taktik Beijing terhadap barang-barang pertanian Taiwan.
China disebut telah memberikan tekanan ekonomi yang menargetkan produsen makanan Taiwan, tersebut melalui larangan impor dengan tujuan menimbulkan kerugian finansial.
Setelah China melarang impor mangga Taiwan pada 2023 dengan alasan kekhawatiran biosekuriti, Taiwan pun mengalihkan fokus perdagangannya yang berorientasi volume ke pasar premium di negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan.
"Mangga Taiwan laris di Korsel dan sekarang di Prancis, membuktikan bahwa tidak perlu bergantung pada pasar China," kata hakim di Pingtung, Taiwan selatan, Chou Chun Mi, tempat banyak mangga Irwin Taiwan ditanam.
Taiwan memproduksi sekitar 100 juta kilogram mangga per tahun, sebagian besar dikonsumsi di dalam negeri. Pada tahun panen yang baik, mangga Irwin harganya hanya sekitar NT$100 (Rp55 ribu) hingga NT$300 (Rp167 ribu) per kilogram di pasar lokal.
Dari satu persen yang diekspor tiap tahun, China merupakan pasar yang penting. Pada puncaknya di tahun 2019, pasar China menyumbang 59 persen dari ekspor mangga Taiwan. Saat ini, Jepang adalah importir terbesar.
(bac/dna)