Daftar Ancaman Trump ke Iran yang Cuma Omong Kosong
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi membatalkan ancamannya untuk menyerang brutal Iran.
Pada Jumat (31/7) pekan lalu, sumber yang dikutip CBS News membocorkan bahwa kabinet Trump sedang merencanakan pengeboman terkeras terhadap infrastruktur energi Iran.
Trump pada hari yang sama juga sempat mengatakan kepada wartawan bahwa AS akan menyerang Iran "dengan sangat keras" hingga suatu saat Teheran akan berkata 'kami tidak tahan lagi'."
Namun, rencana serangan itu mendadak batal dieksekusi. Pada Sabtu (1/8), melalui unggahan di Truth Social, Trump menyampaikan ia "menunda" serangan terhadap Iran karena "batas" kesepakatan telah disetujui.
Ini bukan kali pertama Trump melontarkan ancaman apokaliptik yang ujung-ujungnya gagal terwujud. Apa saja ancaman-ancaman Trump ke Iran?
Ancam serangan keras
Pada 11 Juni, Trump pernah mengancam akan menyerang Iran "SANGAT KERAS MALAM INI", namun batal dilakukan setelah para pemimpin Teluk dan Pakistan menghubunginya.
Di hari yang sama, Trump menyampaikan bahwa kesepakatan perdamaian dengan Iran dapat ditandatangani paling cepat akhir pekan.
Ia tidak merinci isi kesepakatan, namun mengatakan bahwa kesepakatan itu "sudah dalam bentuk yang cukup final."
Mau musnahkan peradaban Iran
Pada 7 April lalu, Trump juga pernah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini" jika Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai.
Saat itu, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran. Tindakan yang dianggap banyak orang sebagai kejahatan perang itu akhirnya batal dilakukan karena pembicaraan tatap muka bersejarah dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Batalnya rencana serangan pada Sabtu sendiri terjadi setelah Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) menelepon Trump untuk memintanya mengurangi ketegangan regional.
Menurut laporan kantor berita resmi Riyadh, MbS mendesak Trump untuk memprioritaskan dialog dengan Teheran.
Sebut Iran mohon-mohon
Dalam unggahannya, Trump juga mengaku bahwa pembatalan serangan yang diklaim terbesar sejak Perang Dunia II tersebut diputuskan karena diminta oleh Iran dan negara-negara Timur Tengah.
Ia pun berharap keputusan tersebut dapat "bermanfaat bagi dunia di masa depan, dan demikian pula bagi kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur."
Negara-negara Arab sekutu AS sejak awal telah menyuarakan kekhawatiran bahwa wilayah mereka akan kena imbas kemarahan Iran jika negara itu berkonflik dengan AS. Pasalnya, mereka bertetangga dengan Iran, berbeda dengan Washington yang di luar jangkauan rudal Teheran.
Negara-negara Arab umumnya cemas infrastruktur penting mereka seperti pabrik desalinasi air menjadi target gempuran Iran. Oleh karenanya, para pemimpin Arab terus mendorong upaya diplomatik terhadap AS dan Iran guna mencegah hal tersebut.
Klaim-klaim Trump mengenai Iran sendiri selalu dibantah oleh Teheran. Draft perundingan yang disebut Trump cukup final, disebut tidak disetujui oleh Iran.
Permintaan Iran agar AS membatalkan serangan juga dibantah tegas. Teheran menekankan tidak pernah meminta demikian dan seluruh pernyataan AS hanya "kebohongan belaka".
(blq/dna)