Ogah Manut Trump, Netanyahu Ancam Serang Iran Tanpa Restu AS

CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2026 08:40 WIB
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengisyaratkan Israel dapat mengambil tindakan militer secara sepihak terhadap Iran. (Foto: REUTERS/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengisyaratkan Israel dapat mengambil tindakan militer secara sepihak terhadap Iran.

Hal itu diutarakan Netanyahu di tengah keberlanjutan upaya diplomatik AS untuk mencapai kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang dengan Iran. Israel menolak upaya diplomatik mengakhiri perang ini karena menganggap Iran masih akan menjadi ancaman keamanan terbesar bagi negaranya.

"Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat untuk terus mengembangkan senjata nuklir," kata Netanyahu seperti dikutip Anadolu Agency pada Rabu (5/8).

"Sebagai perdana menteri Israel, saya bertekad mencegah Iran memperoleh senjata nuklir," tambahnya.

Menyebut AS sebagai "sekutu terbesar Israel", perdana menteri Israel tersebut mengatakan dirinya tetap "bertekad melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan" keamanan Israel.

Pada Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari mengatakan upaya mediasi antara AS dan Iran telah memasuki "tahap lanjutan", dengan kedua pihak saling bertukar rancangan proposal.

Dalam konferensi pers mingguan kementerian, Al-Ansari mengatakan upaya untuk mencapai solusi diplomatik masih terus dilakukan bersama seluruh pihak.

Perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak Februari lalu, menurut otoritas Teheran, telah menewaskan lebih dari 3.000 orang hingga hari ini.

Sejak digempur habis-habisan AS-Israel, Iran merespons dengan melancarkan serangan terhadap negara-negara di kawasan yang menjadi lokasi aset-aset militer AS.

Pada Juni, Qatar bergabung dengan Pakistan sebagai bagian dari tim mediasi antara Washington dan Teheran. Upaya tersebut menghasilkan penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni dan dimulainya perundingan menuju kesepakatan final.

Namun, pembicaraan kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat terkait keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Antara 8 hingga 24 Juli, ketegangan kembali meningkat ketika AS melancarkan serangan terhadap Iran.

Teheran kemudian menargetkan apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, khususnya Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

(rds)


Saksikan Video di Bawah Ini:

Detik-detik Serangan AS ke Pulau Qeshm Iran

KOMENTAR

TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK