Iran: Pasukan Asing Harus Pergi dari Timteng demi Stabilitas Keamanan

CNN Indonesia
Sabtu, 08 Agu 2026 22:00 WIB
Soldiers from the U.S. Army’s 1st Armored Brigade Combat Team rest while waiting at a staging area before boarding a transport plane bound for Europe, on a deployment launched in response to the invasion of Ukraine by Russia, at Hunter Army Airfiel
Ilustrasi pasukan militer Amerika Serikat (AS). AS punya pasukan militer di Timur Tengah. (REUTERS/MICHAEL MCCOY)
Jakarta, CNN Indonesia --

Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran untuk Urusan Internasional, Ali Akbar Velayati, menegaskan pada Sabtu (8/8) bahwa seluruh "pasukan asing" harus segera pergi dari kawasan Timur Tengah. Ia menyebut ketiadaan intervensi asing merupakan kunci utama stabilitas keamanan.

"Dinamika terbaru mencerminkan ketangguhan angkatan bersenjata, ketabahan rakyat Iran, serta keberanian Poros Perlawanan," ujar Velayati melalui unggahan di platform media sosial X.

"Kekalahan rezim Zionis dan Amerika Serikat makin memperkuat keyakinan bahwa pasukan asing, yang menjadi pemicu utama ketidakstabilan, harus segera meninggalkan kawasan ini (Timur Tengah)," tegasnya, seperti dilansir Anadolu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Velayati juga menambahkan bahwa peningkatan kerja sama di antara negara-negara di kawasan Timur Tengah dapat menjadi jaminan utama keamanan bersama, meski ia tidak merinci bentuk kerja sama yang dimaksud.

Pernyataan ini mengemuka di tengah situasi kawasan yang masih rapuh. Eskalasi konflik regional sebelumnya sempat memuncak pada 28 Februari lalu usai serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas militer, nuklir, serta infrastruktur energi Iran.

Teheran kemudian membalas gabunan AS dan Israel lewat gelombang serangan rudal dan drone.

Meskipun Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar untuk menghentikan kontak tembak, proses negosiasi menuju kesepakatan akhir kini dilaporkan mengalami kebuntuan.

Perselisihan kedua negara terutama tertahan pada isu keamanan jalur maritim serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz-jalur ekspor vital bagi komoditas minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke pasar dunia.

(wiw)


[Gambas:Video CNN]