PM China 'Jagal Koruptor' Meninggal, Pernah Dihukum Kerja Paksa

CNN Indonesia
Jumat, 14 Agu 2026 12:00 WIB
Perdana Menteri kelima China Zhu Rongji telah meninggal dunia pada Rabu (12/8) di Beijing dalam usia 97 tahun. (AFP/)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri kelima China Zhu Rongji telah meninggal dunia pada Rabu (12/8) di Beijing dalam usia 97 tahun.

Dia dikenal sebagai administrator serta reformis ekonomi yang paling efektif setelah berdirinya negara tersebut pada tahun 1949.

Zhu yang menjabat sebagai perdana menteri pada 1998-2003 itu, dikenal karena keberanian dalam mengungkapkan gagasan dan kritik.

Salah satu kutipanya yang paling dikenal ia nyatakan pada tahun 1998, "Saya telah menyiapkan 100 peti mati di sini - 99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri," dikutip dari surat kabar partai, People's Daily. Hal ini membuatnya mendapat julukan "Sang Bos".

Sebagai sosok yang blak-blakan dan tegas, ia terkenal keras terhadap korupsi, bahkan pernah memecat gubernur provinsi Heilongjiang di tempat karena gagal memenuhi target pertumbuhan.

Hal ini menjadi dasar popularitasnya di Tiongkok secara umum, dan penghargaan tinggi yang diberikan kepadanya di luar negeri. Ia tampak mendekati citra ideal seorang pemimpin Tiongkok yang memiliki martabat moral.

Sebagai satu-satunya politisi tingkat tinggi pada zamannya yang berusaha menjangkau masyarakat luas dan berbicara kepada mereka sebagai setara. Ia juga tidak mau bersikap formal.

Kritik pemimpin tertinggi

Namun, jauh sebelum menjadi perdana menteri, Zhu adalah salah satu orang partai komunis yang berani mengeritik pemimpin tertinggi.

Di masa masa Mao Zedong dia mengeritik kebijakan ekonomi China "lompatan jauh". Mao adalah pemimpin tertinggi sekaligus pendiri RRC itu. Akibatnya dia diasingkan ke pedesaan dan disuruh kerja kasar pada 1957.

Kala itu, Zhu berani mengambil contoh ekonomi negara barat dan memujinya. Akibatnya, Zhu dicap sebagai "kaum kanan" dan dikeluarkan dari partai,

Dan pengasingan kedua, terjadi di masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976).

Tapi nama baiknya kemudian dipulihkan pada 1979 setelah Mao meninggal dunia.

Setelah memimpin Chian, Zhu kemudian dikenal sebagai reformis ekonomi China.

Pencapaiannya yang paling signifikan sebagai perdana menteri adalah mengamankan masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Apa yang dimulai pada tahun 1986 sebagai negosiasi tentang masuk ke dalam Perjanjian Umum tentang Tarif dan Pajak (GATT), telah berlangsung selama lebih dari satu dekade, melibatkan serangkaian perjanjian epik dengan Uni Eropa, AS, dan puluhan negara lainnya.

Pada tahun 1999, kesepakatan dengan AS, yang merupakan kesepakatan paling kontroversial dan penting, hampir selesai.

Zhu sedang berkunjung ke Washington , berharap untuk menandatangani kesepakatan tersebut, tetapi kesepakatan itu dibatalkan oleh Presiden Bill Clinton saat itu karena masalah domestik menyusul skandal Monica Lewinsky.

Zhu sering disebut sebagai "Gorbachev-nya China", meskipun itu adalah julukan yang tidak disukainya. Terlepas dari penderitaannya di masa lalu, ia tetap teguh berkomitmen pada Partai Komunis dan kelanjutan kekuasaannya, dan reformasi ekonominya ditujukan untuk memastikan hal itu terjadi.

(imf/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK