Apa Itu 'Madman Theory' yang Digunakan Trump untuk Menekan Iran?
CNN Indonesia
Sabtu, 15 Agu 2026 09:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Selama perang melawan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump selalu memperlihatkan sosok seperti pemarah dan tak terkontrol. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama perang melawan Iran, Presiden Amerika SerikatDonald Trump selalu memperlihatkan sosok seperti pemarah dan tak terkontrol.
Hal itu bisa dilihat dari pernyataan atau cuitannya di media sosial miliknya. Misalnya, pada 7 April lalu, Trump juga pernah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini" jika Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai.
Saat itu, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tindakan yang dianggap banyak orang sebagai kejahatan perang itu akhirnya batal dilakukan karena pembicaraan tatap muka bersejarah dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Trump juga mengamuk pada Iran karena tidak membuka Selat Hormuz.
"Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka - lihat saja! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP," tulisanya.
Gaya berkomunikasnya tak seperti seorang presiden, namun punya landasan. Itulah yang disebut "Madman Theory" alias Teori Orang Gila.
Teori 'Orang Gila'
Teori Orang Gila pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Richard Nixon saat menghadapi perang Vietnam awal tahun 1970-an.
Nixon menguraikan gagasan tersebut kepada calon kepala staf Gedung Putihnya, Bob Haldeman, dalam suasana yang tidak lazim. Kala itu mereka tengah berjalan-jalan di pantai pesisir Samudra Pasifik pada 1968 sebelum ia terpilih sebagai presiden, dan menyarankan bahwa hal itu mungkin dapat mengakhiri perang di Vietnam.
"Saya menyebutnya 'teori orang gila' Bob," katanya kepada Haldeman, seperti yang diceritakan oleh Anthony Summers dalam The Arrogance of Power, yang diterbitkan pada tahun 2000.
"Saya ingin Vietnam Utara percaya bahwa saya telah mencapai titik di mana saya mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Kita akan menyelipkan pesan kepada mereka bahwa 'demi Tuhan, Anda tahu Nixon terobsesi dengan komunis. Kita tidak bisa menahannya ketika dia marah, dan dia memegang kendali atas tombol nuklir', dan Ho Chi Minh sendiri akan berada di Paris dalam dua minggu memohon perdamaian," dikutip dari The Guardian.
Trump diam-diam mengagumi teori Orang Gila Nixon, dan mempergunakannya untuk menekan Iran.
"Presiden (Trump) telah membawa aksi penghormatannya ke tingkat yang baru dengan mengancam untuk menghapus Iran sebagai sebuah peradaban, hanya untuk mundur dari ambang kehancuran ketika rezim Teheran setuju, dengan harga tertentu, untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat penting secara ekonomi.
Robert Tait, yang menganalisis teori ini pada Trump, menyatakan jika dilihat bahwa klaim kemenangan yang sering diumbar Trump adalah kemenangan semu. Itu mengingatkan pada Nixon dan Vietnam Utara pada tahun 1972.
Namun, karena Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah setelah hampir enam minggu pengeboman. Di sisi lain, Trump sangat membutuhkan penopang untuk menghindari kesan lemah dan ancaman apokaliptik yang mungkin menjadi kunci keberhasilannya, seperti yang pernah dilakukan Nixon sebelumnya.
"Karena dia belum mampu meraih kemenangan telak dari konflik ini sejauh ini, dia mungkin sedang mencari semacam langkah besar agar bisa mundur dan menyatakan kemenangan tanpa para kritikusnya mampu membantah narasi kemenangannya," kata Ali Vaez, direktur program Iran dari International Crisis Group.
Maka, dengan terlihat mengintimidasi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut, Trump juga dapat terbebas dari pilihan mengerikan "pengerahan pasukan darat," seperti halnya klaimnya pada Selasa pagi bahwa Iran telah berjanji untuk "menggali dan menyingkirkan" material nuklir.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Analisis teori "Orang Gila" juga diulas oleh Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School di situs Tufts University.
Dalam beberapa kesempatan selama masa jabatan pertamanya, Trump sengaja membangun reputasi sebagai orang gila. Hal ini paling jelas terlihat dalam pendekatannya terhadap Korea Utara dan Korea Selatan.
Sepanjang 2017, Trump meningkatkan retorikanya terhadap Korea Utara, mengatakan kepada wartawan pada Agustus, "Korea Utara sebaiknya tidak lagi mengancam Amerika Serikat.Mereka akan dihadapi dengan api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya."
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB sebulan kemudian, Trump menjuluki pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai "Manusia Roket" dan berjanji bahwa Amerika Serikat dapat "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya."
Pendekatan "orang gila" Trump meluas hingga ke Korea Selatan. Pada 2017, pemerintahannya berupaya untuk menegosiasikan ulang ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea.
Jonathan Swan melaporkan di Axios bahwa Trump secara eksplisit memerintahkan kepala negosiator perdagangan Robert Lighthizer untuk memberi tahu rekan-rekannya di Korea Selatan bahwa Trump adalah orang gila.
"Katakan kepada mereka, 'Orang ini sangat gila sehingga dia bisa menarik diri kapan saja.' Katakan kepada mereka jika mereka tidak memberikan konsesi sekarang, orang gila ini akan menarik diri dari kesepakatan."
Swan lebih lanjut mencatat, "Banyak pemimpin dunia berpikir presiden itu gila dan dia tampaknya menganggap reputasi orang gila itu sebagai aset."
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama perang melawan Iran, Presiden Amerika SerikatDonald Trump selalu memperlihatkan sosok seperti pemarah dan tak terkontrol.
Hal itu bisa dilihat dari pernyataan atau cuitannya di media sosial miliknya. Misalnya, pada 7 April lalu, Trump juga pernah memperingatkan bahwa "seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini" jika Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai.
Saat itu, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tindakan yang dianggap banyak orang sebagai kejahatan perang itu akhirnya batal dilakukan karena pembicaraan tatap muka bersejarah dijadwalkan berlangsung di Pakistan.
Trump juga mengamuk pada Iran karena tidak membuka Selat Hormuz.
"Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka - lihat saja! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP," tulisanya.
Gaya berkomunikasnya tak seperti seorang presiden, namun punya landasan. Itulah yang disebut "Madman Theory" alias Teori Orang Gila.
Teori 'Orang Gila'
Teori Orang Gila pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Richard Nixon saat menghadapi perang Vietnam awal tahun 1970-an.
Nixon menguraikan gagasan tersebut kepada calon kepala staf Gedung Putihnya, Bob Haldeman, dalam suasana yang tidak lazim. Kala itu mereka tengah berjalan-jalan di pantai pesisir Samudra Pasifik pada 1968 sebelum ia terpilih sebagai presiden, dan menyarankan bahwa hal itu mungkin dapat mengakhiri perang di Vietnam.
"Saya menyebutnya 'teori orang gila' Bob," katanya kepada Haldeman, seperti yang diceritakan oleh Anthony Summers dalam The Arrogance of Power, yang diterbitkan pada tahun 2000.
"Saya ingin Vietnam Utara percaya bahwa saya telah mencapai titik di mana saya mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Kita akan menyelipkan pesan kepada mereka bahwa 'demi Tuhan, Anda tahu Nixon terobsesi dengan komunis. Kita tidak bisa menahannya ketika dia marah, dan dia memegang kendali atas tombol nuklir', dan Ho Chi Minh sendiri akan berada di Paris dalam dua minggu memohon perdamaian," dikutip dari The Guardian.
Trump diam-diam mengagumi teori Orang Gila Nixon, dan mempergunakannya untuk menekan Iran.
"Presiden (Trump) telah membawa aksi penghormatannya ke tingkat yang baru dengan mengancam untuk menghapus Iran sebagai sebuah peradaban, hanya untuk mundur dari ambang kehancuran ketika rezim Teheran setuju, dengan harga tertentu, untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat penting secara ekonomi.
Robert Tait, yang menganalisis teori ini pada Trump, menyatakan jika dilihat bahwa klaim kemenangan yang sering diumbar Trump adalah kemenangan semu. Itu mengingatkan pada Nixon dan Vietnam Utara pada tahun 1972.
Namun, karena Iran tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah setelah hampir enam minggu pengeboman. Di sisi lain, Trump sangat membutuhkan penopang untuk menghindari kesan lemah dan ancaman apokaliptik yang mungkin menjadi kunci keberhasilannya, seperti yang pernah dilakukan Nixon sebelumnya.
"Karena dia belum mampu meraih kemenangan telak dari konflik ini sejauh ini, dia mungkin sedang mencari semacam langkah besar agar bisa mundur dan menyatakan kemenangan tanpa para kritikusnya mampu membantah narasi kemenangannya," kata Ali Vaez, direktur program Iran dari International Crisis Group.
Maka, dengan terlihat mengintimidasi Teheran untuk membuka kembali selat tersebut, Trump juga dapat terbebas dari pilihan mengerikan "pengerahan pasukan darat," seperti halnya klaimnya pada Selasa pagi bahwa Iran telah berjanji untuk "menggali dan menyingkirkan" material nuklir.
Bersambung ke halaman berikutnya...
'Gila' sebagai Aset
Teori Orang Gila pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Richard Nixon saat menghadapi perang Vietnam awal tahun 1970-an. (REUTERS/Stoyan Nenov)
Analisis teori "Orang Gila" juga diulas oleh Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School di situs Tufts University.
Dalam beberapa kesempatan selama masa jabatan pertamanya, Trump sengaja membangun reputasi sebagai orang gila. Hal ini paling jelas terlihat dalam pendekatannya terhadap Korea Utara dan Korea Selatan.
Sepanjang 2017, Trump meningkatkan retorikanya terhadap Korea Utara, mengatakan kepada wartawan pada Agustus, "Korea Utara sebaiknya tidak lagi mengancam Amerika Serikat.Mereka akan dihadapi dengan api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya."
Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB sebulan kemudian, Trump menjuluki pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai "Manusia Roket" dan berjanji bahwa Amerika Serikat dapat "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya."
Pendekatan "orang gila" Trump meluas hingga ke Korea Selatan. Pada 2017, pemerintahannya berupaya untuk menegosiasikan ulang ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea.
Jonathan Swan melaporkan di Axios bahwa Trump secara eksplisit memerintahkan kepala negosiator perdagangan Robert Lighthizer untuk memberi tahu rekan-rekannya di Korea Selatan bahwa Trump adalah orang gila.
"Katakan kepada mereka, 'Orang ini sangat gila sehingga dia bisa menarik diri kapan saja.' Katakan kepada mereka jika mereka tidak memberikan konsesi sekarang, orang gila ini akan menarik diri dari kesepakatan."
Swan lebih lanjut mencatat, "Banyak pemimpin dunia berpikir presiden itu gila dan dia tampaknya menganggap reputasi orang gila itu sebagai aset."