Profesor Kulit Hitam Cambridge Ditemukan Tewas Usai Dituduh Plagiat

CNN Indonesia
Minggu, 16 Agu 2026 19:38 WIB
Mantan Profesor Cambridge, Jason Arday, meninggal dunia di usia 41 tahun hanya 9 hari setelah pengunduran diri akibat tuduhan plagiarisme.
Ilustrasi. Mantan Profesor Cambridge, Jason Arday, meninggal dunia di usia 41 tahun hanya 9 hari setelah pengunduran diri akibat tuduhan plagiarisme. (Foto: iStockphoto/Lukasz Kochanek)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan Profesor Cambridge University Jason Arday ditemukan meninggal dunia pada Jumat (16/8) kemarin atau sembilan hari pasca pengunduran dirinya buntut tuduhan plagiarisme.

Akademisi kulit hitam tersebut meninggal dunia di umur 41 tahun. Ia ditemukan tewas di wilayah London Selatan. Kematian Arday juga dibenarkan oleh pihak Universitas Cambridge.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami sangat berduka mendengar kabar tragis ini," ujar Wakil Rektor Universitas Cambridge, Deborah Prentice, dalam pernyataan singkat dikutip dari AFP.

Sementara itu, keluarga Arday menyoroti tudingan yang ditujukan kepada korban baik terkait karya akademik maupun kehidupan pribadinya. Mereka bahkan menyebut apa yang dialami Arday sebagai 'kampanye pelecehan'.

"Kampanye misinformasi itu terlalu berat bagi Jason, yang merupakan pribadi lembut dan selalu ingin melihat sisi terbaik dari setiap orang," ujar keluarga dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui penerbitnya, Simon & Schuster.

Skandal plagiarisme Arday muncul setelah sejumlah akademisi dan laporan media mengaku curiga terhadap bagian dari disertasi doktoralnya selaku profesor kulit hitam termuda Universitas Cambridge di tahun 2023.

Isu tersebut kemudian semakin berkembang setelah sayap kanan parlemen Inggris menuding Arday memperoleh keuntungan secara tidak adil dari kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI).

Arday kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai profesor sekaligus fellow di Jesus College pada 5 Agustus. Tak berselang lama, Cambridge University dan Jesus College mengumumkan penyelidikan terkait dugaan plagiarisme Arday.

Dalam sebuah surat yang diunggah secara daring, Arday mengatakan bahwa pengunduran dirinya adalah "satu-satunya cara" untuk mengakhiri "masa yang sulit", tetapi menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak boleh "disalahartikan sebagai penerimaan terhadap narasi-narasi yang mengelilingi saya".

Sementara itu pihak kepolisian Inggris mengatakan pihaknya dipanggil oleh London Ambulance Service setelah adanya laporan seorang pria ditemukan tidak bernyawa di sebuah properti di kawasan Battersea, London.

"Untuk saat ini kematiannya diperlakukan sebagai kejadian yang tidak terduga, namun tidak diyakini mencurigakan. Kasus ini sedang diselidiki oleh petugas dari Central South Command Unit milik Metropolitan Police. Sebuah berkas akan disiapkan untuk koroner," ujar Polisi dalam pernyataan resmi.

Di sisi lain, Menteri Pendidikan Inggris, Lucy Powell mengaku dirinya sangat terkejut dan berduka usai mendegar kabar kematian Arday.

Ia mendesak masyarakat untuk memberikan keluarga Arday "privasi selama masa yang sangat sulit ini dan mengingat bahwa ada manusia nyata beserta orang-orang tercinta yang terlibat".

Terpisah, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham juga menyerukan adanya refleksi pasca kematian Arday yang sedang menghadapi tuduhan plagiarisme. Ia menentang apa yang disebut sebagai tindakan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan.

"Ini adalah tragedi dalam berbagai aspek. Ini adalah waktunya untuk melakukan refleksi, merenungkan bagaimana keadaannya bisa terjadi hingga seperti ini," kata Burnham.

(tfq/wis)
placeholder