Dubes Pakistan Respons Pakta Pertahanan Makkah Picu Konflik Meluas

CNN Indonesia
Senin, 17 Agu 2026 13:00 WIB
Dubes Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri berkomentar soal Pakta Pertahanan Makkah yang dianggap berpotensi memicu perluasan konflik Timur Tengah.
Dubes Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri berkomentar soal Pakta Pertahanan Makkah yang dianggap berpotensi memicu perluasan konflik Timur Tengah. (CNN Indonesia/Taufiq Hidayatullah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri buka suara soal Pakta Pertahanan Makkah yang menuai kritik karena berpotensi memicu konflik lebih luas di Timur Tengah.

Zahid menyampaikan komentar itu ke awak media dalam acara peringatan kemerdekaan Pakistan ke-79 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Jumat (14/8) malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami percaya ini adalah perkembangan yang sangat penting, tetapi ini untuk tujuan pertahanan," kata Zahid saat ditanya Pakta Pertahanan Makkah dinilai berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.

Dia lalu berujar, "Pakistan selalu bekerja untuk pertahanan, dan kami akan terus memainkan peran untuk keamanan kolektif kawasan kami."

Lebih lanjut, Zahid mengatakan, Pakistan meyakini bahwa keamanan kawasan sangatlah penting. Oleh karena itu, Islamabad memainkan peran yang sangat aktif, baik sebagai fasilitator maupun mediator.

"Namun, kami juga meyakini betapa pentingnya bagi seluruh negara di kawasan ini untuk bekerja sama demi kepentingan masing-masing maupun kepentingan bersama," imbuh dia.

Pekan lalu, Pakistan, Arab Saudi, dan Turki menandatangani pakta pertahanan trilateral Mecca Joint Defence Agreement atau dikenal Pakta Pertahanan Makkah.

Perjanjian tersebut menjadi sorotan karena mengandung pasal yang mirip Pakta Aliansi Pertahanan Atantik Utara (NATO). Klausul itu yakni berbunyi agresi terhadap salah satu dari tiga negara itu akan dianggap sebagai agresi terhadap ketiga anggota.

Kesepakatan itu menuai kritik dari pengamat di tengah situasi yang memanas di Timur Tengah, terutama saat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih berlangsung.

AS dan sekutunya Israel lebih dulu menggempur Iran habis-habisan pada akhir Februari. Teheran lalu membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan AS di negara-negara Teluk termasuk di Saudi.

Saat wilayah Saudi digempur, Riyadh mengecam Iran dan meminta mereka menghentikan serangan. Namun, sejauh itu mereka menahan diri untuk mengambil tindakan militer.

Di tengah perang tersebut, Saudi juga sempat saling tempur dengan milisi yang didukung Iran, Houthi. Pertempuran kedua pihak kian memperburuk situasi di Timur Tengah.

Melihat kondisi semacam itu, sejumlah pihak khawatir kesepakatan trilateral ini justru memperluas konflik di Timur Tengah. Mereka juga menggambarkan skenario buruk jika klausul serupa NATO itu diaktifkan secara agresif.

Namun, ada pula pengamat yang menilai kesepakatan itu mencerminkan posisi AS yang melemah dan sudah tak bisa diandalkan di kawasan.

(isa/asr)