Tingkat Persetujuan Trump Anjlok, Terendah Sejak Jadi Presiden AS
Tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali merosot tajam. Survei Reuters dan Ipsos terbaru menunjukkan hanya 33 persen warga AS yang menyetujui kinerja Trump.
Survei yang digelar Jumat hingga Senin pekan ini melibatkan 1.166 responden dengan margin kesalahan tiga poin persentase. Sebanyak 33 persen menyetujui kinerja Trump, sementara 64 persen responden menyatakan tidak menyetujui kinerja Trump.
Angka persetujuan itu turun dua poin persentase dibandingkan survei sebelumnya, seperti dilaporkan Reuters dan Ipsos, Senin (3/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingkat persetujuan 33 persen menjadi yang terendah selama masa jabatan kedua Trump. Angka tersebut juga menyamai titik terendah pada masa jabatan pertamanya, yang tercatat pada Desember 2017.
Padahal, saat kembali menjabat pada Januari 2025, Trump mendapat tingkat persetujuan 47 persen. Saat itu, hanya 41 persen responden yang tidak menyetujui kinerjanya.
Tingkat ketidaksetujuan terhadap kinerja Trump melonjak di atas 50 persen kurang dari sebulan setelah ia kembali menjabat dan belum turun di bawah angka tersebut.
Beberapa hari sebelum Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan perang dengan Iran, tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump mencapai 58 persen.
Sebelumnya, Trump mengindikasikan bahwa AS akan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai semua tujuannya di Iran. Namun, konflik tersebut terus berlanjut sepanjang musim semi dan sebagian besar musim panas tanpa kesepakatan antara kedua pihak mengenai pembatasan program nuklir Iran.
Perang ini telah menimbulkan kerugian ekonomi bagi Amerika, terutama pembatasan yang pengiriman barang di Selat Hormuz.
Keterbatasan itu telah mengacaukan perdagangan minyak global, dengan harga gas rata-rata di AS di atas $4 sepanjang musim panas ini setelah AAA melaporkan harganya di bawah $3 hanya dua hari sebelum perang dimulai.
Menurut indeks harga konsumen, harga energi naik 14,7 persen secara tahunan bulan lalu. Inflasi harga energi tahunan mencapai puncaknya pada 23,5 persen di bulan Mei.
Dikutip The Hill, Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa hal itu sepadan bagi warga AS untuk "membayar sedikit lebih mahal" untuk bensin agar AS dapat mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
"Jadi ingatlah itu, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya $4, tidak apa-apa. ... Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar," ujar Trump di Garden City, New York.
Delapan dari 10 responden dalam survei Reuters dan Ipsos terbaru mengatakan konflik di Timur Tengah akan berlangsung lama, termasuk 71 persen dari Partai Republik, 80 persen dari kelompok independen, dan 87 persen dari Partai Demokrat.
Para kandidat Partai Republik di seluruh negeri sedang bergulat dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik yang sedang berlangsung.
Namun, Partai Republik berusaha membalikkan keadaan dengan berargumen bahwa kemenangan-kemenangan dalam pemilihan pendahuluan baru-baru ini oleh kandidat sayap kiri menunjukkan bahwa partai tersebut telah menganut "sosialisme."
Per hari Senin, Decision Desk HQ memperkirakan bahwa Partai Demokrat memiliki peluang 66 persen untuk merebut kembali kendali DPR dan peluang 45 persen untuk merebut Senat. Angka terakhir ini naik 3 poin dari bulan lalu.
(mae/dna)
