Kanada Siapkan Balasan untuk Tarif Baru Trump

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 03:00 WIB
Kanada akan mengumumkan langkah balasan terhadap tarif baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (25/8). REUTERS/U.S. NETWORK POOL
Jakarta, CNN Indonesia --

Kanada akan mengumumkan langkah balasan terhadap tarif baru yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (25/8). Kebijakan tersebut semakin memperuncing perang dagang antara kedua negara yang sebelumnya merupakan sekutu dekat.

Pemerintah Kanada mengatakan sejumlah menteri dan pejabat akan menggelar konferensi pers di Ottawa untuk menjelaskan langkah yang akan diambil guna melindungi pekerja dan dunia usaha Kanada.

Melansir AFP, langkah itu menyusul kegagalan Kanada dan AS mencapai kesepakatan pada Jumat (21/8) untuk mencegah pemberlakuan tarif baru sebesar 50 persen terhadap sejumlah produk Kanada.

Tarif tersebut mulai berlaku pada Sabtu (22/8), sementara Ottawa telah menyiapkan rencana pembalasan.

Trump kemudian kembali memperbesar tekanan terhadap Kanada. Dia mengatakan akan menggandakan tarif terhadap mobil Kanada menjadi 50 persen mulai tahun depan pada Senin (24/8).

Saat ini, mobil Kanada dikenai tarif AS sebesar 25 persen untuk komponen yang berasal dari luar Amerika Utara. Sementara itu, produk baja yang masuk ke AS secara umum dikenai tarif 50 persen.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya menolak kesepakatan yang ditawarkan Washington. Dia mengatakan Kanada akan memberlakukan tarif balasan mulai 8 September yang menyasar produk baja dan industri susu AS, serta sejumlah sektor lain seperti peralatan pertanian, kertas, dan elektronik.

Carney mengatakan pemerintah Kanada tidak ingin menerima kesepakatan yang merugikan negaranya hanya demi mengakhiri perselisihan dagang.

"Tujuan pembicaraan perdagangan dengan Washington selalu untuk mendapatkan kesepakatan terbaik bagi warga Kanada, bukan kesepakatan dengan harga berapa pun atau dalam jangka waktu apa pun," kata Carney, seperti dilansir AFP, Selasa (25/8).

Menurut Carney, selama proses negosiasi, pemerintah Kanada menilai AS berupaya melemahkan sejumlah industri utama negaranya.

"Kami mengetahui bahwa selama negosiasi, pihak Amerika ingin menghancurkan industri-industri utama kami termasuk sektor otomotif, baja, dan aluminium melalui persyaratan negosiasi yang tidak adil. Dan itu adalah salah satu alasan utama mengapa kami mengatakan tidak," ujarnya.

Carney menegaskan penguatan industri dalam negeri dan diversifikasi perdagangan dengan negara lain telah menjadi strategi Kanada sejak awal.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyalahkan Kanada atas kegagalan negosiasi tersebut. Dia menyebut Ottawa mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal pada tahap akhir pembicaraan.

Dampak perang dagang

Hubungan perdagangan Kanada dan AS menjadi semakin tegang di tengah ketergantungan ekonomi kedua negara.

AS merupakan mitra dagang terbesar Kanada. Sekitar 70 persen ekspor Kanada ditujukan ke AS. Sementara bagi AS, Kanada menjadi mitra dagang barang terbesar kedua pada tahun ini setelah Meksiko.

Tarif terbaru AS berdampak pada sekitar 5,5 persen barang Kanada yang masuk ke pasar AS. Nilainya diperkirakan mencapai US$20 miliar dan mencakup sejumlah produk, antara lain stik hoki dan semen.

Kebijakan Trump juga mendapat sorotan dari pemerintah daerah di Kanada. Perdana Menteri Ontario Doug Ford mengkritik ancaman tarif terhadap industri otomotif Kanada dan memperingatkan bahwa provinsinya dapat kembali mempertimbangkan biaya tambahan terhadap ekspor listrik ke AS.

Pada fase sebelumnya dalam perselisihan dagang, Ontario pernah memberlakukan biaya tambahan 25 persen terhadap ekspor listrik ke tiga negara bagian AS.
Trump kemudian merespons dengan mengancam akan memberikan konsekuensi yang lebih berat kepada Kanada.

Meski ketegangan meningkat, dukungan terhadap keputusan pemerintah Kanada untuk meninggalkan negosiasi masih cukup besar. Survei Angus Reid Institute yang dirilis Minggu (23/8) menunjukkan tiga dari empat warga Kanada mendukung keputusan Carney tersebut.

Di sisi lain, sekitar dua dari lima warga Kanada mengaku khawatir terhadap dampak perselisihan dagang terhadap pekerjaan mereka.

Trump sendiri kembali menyerang Kanada, Senin lalu. Dia menuding negara tersebut selama bertahun-tahun merugikan AS dan menyebut Washington tidak membutuhkan Kanada.

"Kanada telah menipu Amerika Serikat selama bertahun-tahun," kata Trump. "Kami tidak membutuhkan Kanada, mereka yang membutuhkan kami."

Perselisihan tarif ini juga terjadi ketika Kanada dan AS harus membahas revisi Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara, USMCA. Trump sebelumnya menyatakan tidak ingin memperpanjang perjanjian tersebut dalam bentuk yang berlaku saat ini.

Hubungan kedua negara juga semakin renggang akibat pernyataan Trump yang berulang kali menyebut Kanada berpotensi menjadi bagian dari AS serta menyebut Carney dan mantan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sebagai 'gubernur', meski keduanya merupakan kepala pemerintahan negara berdaulat.

(anm/mik)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK