Trump Klaim Selat Hormuz Sudah Bebas dari Ranjau Laut

CNN Indonesia
Rabu, 26 Agu 2026 08:14 WIB
A map showing the Strait of Hormuz and Iran is seen behind a 3D printed miniature of U.S. President Donald Trump in this illustration taken June 22, 2025. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Ilustrasi. Trump klaim Selat Hormuz sudah bebas dari ranjau laut. Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim semua ranjau laut di perairan internasional Selat Hormuz telah berhasil disingkirkan atau diledakkan.

"Iran telah diberitahu bahwa kapal atau perahu mana pun yang menebar ranjau baru, akan dihancurkan seketika dan sistematis," tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip Anadolu Agency.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump juga menegaskan kebijakan "nol toleransi" terhadap penebaran ranjau laut.

Dia menyebut AS bakal menggunakan teknologi Space Force untuk memantau "setiap jengkal" jalur Selat Hormuz, serta Pickaxe Mountain dan tiga lokasi nuklir lainnya yang disebut telah dihancurkan.

Belum ada komentar resmi dari Iran soal pernyataan terbaru Trump.

Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan fluktuasi harga minyak tajam di pasar dunia. Trump kerap mengeklaim bahwa AS mengendalikan jalur perairan itu, namun Iran telah menembaki kapal-kapal yang menurut mereka berusaha melintas tanpa izin.

Iran beberapa kali telah mengindikasikan bahwa mereka ingin membangun kendali penuh atas selat tersebut. Baru-baru ini, Iran disebut telah menyepakati mekanisme pengelolaan selat itu dalam negosiasi dengan tetangganya Oman.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan jalur masuk ke Teluk akan melalui perairan Iran dan jalur keluar melalui perairan teritorial Oman, dan kapal akan melewati perairan Iran di kedua jalur tersebut.

Dia juga menegaskan tidak ada kapal militer yang akan diizinkan melewati Selat Hormuz, dan hanya kapal komersial yang akan diizinkan melewatinya.

"Jika permintaan Iran tidak dikabulkan, Selat itu akan ditutup," ujar Gharibabadi, dikutip BBC.

Iran telah berada di bawah sanksi sepanjang waktu, bahkan sejak berdirinya Republik Islam pada tahun 1979. Namun perekonomian Teheran makin "babak belur" akibat perang hingga blokade pelabuhan yang dilakukan AS selama berminggu-minggu.

(dna)