Negara Ini Punya 'Gunung Emas' Tapi Didera Penyakit & Kelaparan Parah
Pada 2021, sebuah "gunung emas" dilaporkan ditemukan di Republik Demokratik Kongo.
Dalam video yang viral di media sosial, warga dengan mudah mendapat emas dalam jumlah yang banyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan itu membuat negara Kongo pun menjadi perhatian publik. Republik Demokratik Kongo dinilai sebagai negara yang sangat kaya akan potensi emasnya.
Lokasi gunung emas itu berada di Provinsi Kivu Selatan, Venant Burume Muhigirwa, pernah menjadi buruan para penambang untuk mencari kekayaan.
Para penambang, pedagang, dan anggota angkatan bersenjata Republik Kongo (FARDC) diminta meninggalkan lokasi tambang.
Penghentian penambangan emas itu bertujuan agar para penambang bisa diidentifikasi. Selain itu, untuk memastikan para penambang terdaftar sesuai di administrasi yang mengatur pertambangan tradisional.
Pemerintah RD Kongo kini melarang aktivitas penambangan di lokasi. Para pejabat pertambangan Kivu Selatan membenarkan bahwa penemuan bijih kaya emas di wilayah itu 2021 itu bikin warga berlomba-lomba mencari emas.
Namun RDK memang dikenal sebagai negara penghasil emas terbesar di dunia. "Sektor pertambangan merupakan tulang punggung perekonomian Republik Demokratik Kongo.
Sektor ini menyumbang sebagian besar PDB negara dan menawarkan potensi untuk pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan, tulis situs afsic.net.
Belitan Ebola dan kelaparan
Meski dikenal dengan tambangnya yang melimpah, namun RDK juga menghadapi serangan penyakit ebola dan kelaparan ekstrim yang belum bisa diatasi. Kasus terkonfirmasi melonjak menjadi 5.514 kasus dengan 2.642 kematian per Agustus 2026.
Wabah ini memberikan tekanan tambahan pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan, meningkatkan kebutuhan kemanusiaan di komunitas yang terkena dampak konflik dan pengungsian. Mitra kemanusiaan dan kesehatan mendukung pengawasan, pengobatan, pencegahan infeksi, dan keterlibatan masyarakat untuk membantu mengendalikan penyebaran penyakit ini.
Sementara situs Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kemanusiaan, UN OCHA merilis masyarakat di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus menghadapi situasi kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, ditandai dengan konflik bersenjata yang berkelanjutan, pengungsian massal, guncangan iklim, dan epidemi yang berulang.
Bagi jutaan warga Kongo, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup, dalam konteks di mana kekerasan, kemiskinan, dan ketidakstabilan menambah kelelahan akibat krisis yang berkepanjangan.
Pada saat yang sama, negara tersebut sedang berjuang melawan wabah Ebola yang berkembang pesat yang berpusat di provinsi-provinsi timur, di mana ketidakamanan dan kendala akses kemanusiaan mempersulit upaya penanggulangan.
Krisis kemanusiaan semakin diperparah oleh konsekuensi perubahan iklim. Pada tahun 2025, hujan lebat dan banjir menghancurkan Kinshasa dan wilayah lainnya. Di Kasai Raya dan Maniema, bencana tersebut menghancurkan ribuan hektar lahan pertanian, memperburuk kerawanan pangan. Hampir seperempat penduduk kini hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut.
(imf/bac)

