Mengapa Presiden AS Trump Sering 'Ngajak' Ribut Negara Lain?

CNN Indonesia
Jumat, 28 Agu 2026 12:35 WIB
Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sering mengajak ribut negara lain bukan tanpa alasan.
Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sering mengajak ribut negara lain bukan tanpa alasan. (REUTERS/Stoyan Nenov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sering mengajak ribut negara lain bukan tanpa alasan.

Terbaru, Trump mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika," di tengah perang dagang Kanada.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (27/8), Trump menyatakan telah menandatangani Perintah Eksekutif yang menandai perubahan nama danau tersebut, dan menyebut perubahan itu akan berlaku "segera".

"Kami akan mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, berlaku segera. Perubahan nama danau ini sebenarnya adalah hal yang sudah lama saya pikirkan," kata Trump kepada wartawan, seperti dilansir Reuters.

Sebelumnya, dia juga berseteru dengan Perdana Menteri Ontario atau Premier Ontario Doug Ford. Mulanya, Trump melontarkan kalimat kasar kepada Ford dalam unggahan di media sosialnya, Truth Social.

Trump mengunggah pesan panjang kepada perdana menteri yang setingkat gubernur negara bagian itu, mengatakan bahwa Ford adalah "saudara yang tidak mengesankan" dari mantan walikota Rob Ford.

"Banyak sekali 'gertakan' dari Doug Ford, yang merupakan Perdana Menteri Provinsi Ontario di Kanada, tetapi lebih dikenal sebagai saudara laki-laki mendiang Rob Ford yang hebat, kurang karismatik, cerdas, dan secara keseluruhan tidak mengesankan," tulis Trump pada hari Senin (24/8).

"Gubernur Carney, dan anteknya, Ford tidak akan diizinkan terus mengambil keuntungan dari Amerika Serikat, kunci kelangsungan hidup mereka. Ingat, sebagian besar listrik, minyak, dan gas yang diterima Kanada diangkut melalui AS. Seseorang harus membuat para badut ini 'menuruti perintah' atau, konsekuensinya bagi Kanada akan jauh LEBIH BURUK!" ujarnya lagi.

America First

Langkah Donald Trump yang sering mengintervensi negara lain bukan tanpa alasan. Situs Gedung Putih, whitehouse.gov, memberi sejumlah penjelasan yang semuanya bermuara pada slogan Ameria First (utamakan Amerika).

"Presiden Trump akan mengambil tindakan berani untuk mengamankan perbatasan kita dan melindungi komunitas Amerika," tulis situs itu.

Presiden Trump juga disebut akan mengantarkan zaman keemasan bagi Amerika dengan mereformasi dan meningkatkan birokrasi pemerintah agar bekerja untuk rakyat Amerika.

Kemudian Angkatan Bersenjata, termasuk Garda Nasional, akan terlibat dalam pengamanan perbatasan, yang merupakan bagian dari keamanan nasional, dan akan dikerahkan ke perbatasan untuk membantu personel penegak hukum yang ada.

Analisis dari situs Robert Lansing Institute memaparkan pendekatan Trump memprioritaskan pembuatan kesepakatan transaksional, pengaruh bilateral, dan keuntungan strategis jangka pendek daripada komitmen jangka panjang terhadap demokrasi, hak asasi manusia, dan kerja sama multilateral.

Karakteristik kebijakan luar negeri utama Trump disebut berulang kali membingkai hubungan internasional dalam istilah bisnis: sekutu harus "membayar bagian mereka," perjanjian harus menghasilkan "kemenangan," dan kemitraan harus memberikan keuntungan langsung .

Hal ini mencerminkan pandangan dunia di mana negara bukanlah komunitas dengan nilai-nilai yang sama, melainkan pesaing di pasar kekuasaan.

Kebijakan luar negeri Trump berorientasi pada kesepakatan karena latar belakang Trump di dunia bisnis membentuk pola pikir di mana hubungan bersifat dinamis, loyalitas bersyarat, dan hasil lebih penting daripada norma.

Pola kebijakan ini telah menghasilkan tiga konsekuensi utama, seperti erosi kepemimpinan berbasis nilai, melemahkan kredibilitas AS di antara sekutu-sekutu demokratis, ketidakpastian strategis, yang dicontohkan oleh posisi kontroversial mengenai Greenland dan retorika eskalasi terhadap Iran.

"Secara keseluruhan, tren-tren ini berisiko melemahkan peran Amerika Serikat sebagai pemimpin dunia bebas, menggantikannya dengan kekuatan yang lebih sempit dan didorong oleh kepentingan pribadi, serta kurang memiliki kohesi ideologis," tulis laman itu.

(imf/bac)
placeholder