Korban Tewas Banjir Bandang Nepal Tambah Jadi 682 Orang, Ribuan Hilang

CNN Indonesia
Sabtu, 29 Agu 2026 22:32 WIB
A survivor is transported to a safer place in a JCB following a flash flood at Trishuli in Nuwakot district, Nepal, August 26, 2026. REUTERS/Navesh Chitrakar
Banjir bandang di perbatasan Nepal-China menewaskan 682 orang, dengan 2.426 masih hilang. Korban termasuk warga asing dan petugas keamanan. (FOTO:REUTERS/Navesh Chitrakar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Penanggulangan Bencana Nepal melaporkan sedikitnya 675 orang tewas dalam bencana banjir bandang di Nepal per Sabtu (29/8). Jumlah tersebut belum termasuk tujuh korban tewas di Tibet.

Sebelumnya media pemerintah China telah mengonfirmasi tujuh korban tewas di Tibet terdampak bencana banjir yang berlangsung Rabu (26/8), dengan begitu total korban tewas secara keseluruhan saat ini mencapai 682 orang, dilansir dari AFP.

Jumlah korban yang dinyatakan hilang di Nepal masih tertahan di angka 2.426 orang, setelah sempat melonjak tajam pada Sabtu (29/8) pagi waktu setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data dari Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal, daftar korban hilang tersebut mencakup 517 warga negara asing (WNA), serta 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berlokasi di sungai tempat aliran banjir bandang tersebut menerjang.

Selain itu, dalam daftar korban hilang juga terdapat 45 prajurit Angkatan Darat Nepal, 40 petugas kepolisian, serta 19 petugas imigrasi dan bea cukai.

Di India, pihak berwenang menyatakan bahwa mereka telah menemukan tujuh jenazah dari sungai-sungai yang mengalir dari Nepal, yang diduga kuat sebagai korban banjir tersebut. Kendati demikian, ketujuh jenazah ini belum dimasukkan ke dalam total resmi jumlah korban tewas.

Jurnalis Minelle Fernandez dari Al Jazeera melaporkan dari Nepal, Kathmandu bahwa pemerintah telah meminta bantuan spesialis dari India dan China untuk "mengisi celah" dalam operasi penyelamatan. Bantuan tersebut berupa tim-tim, termasuk penyelamat terowongan yang diperkirakan tiba Sabtu.

"Alasan juru bicara kementerian luar negeri (Nepal) mengatakan bahwa keputusan ini telah diambil adalah karena nyawa dipertaruhkan dan itu sangat, sangat mendesak," kata Minelle.

Ia juga menjelaskan alasan semulai Nepal enggan menerima bantuan dari pihak luar adalah untuk menghindari kemungkinan kekacauan karena tim-tim besar hadir di berbagai daerah.

Banjir bandang dan tanah longsor menyapu Nepal pada Rabu (26/8). Laporan awal menyebutkan, bencana ini dipicu gempa bumi yang mengakibatkan longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi wilayah Nepal dan Tibet.

Namun, analisis lebih lanjut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menunjukkan tidak ada gempa bumi sebelum insiden tanah longsor dan banjir bandang terjadi.

[Gambas:Video CNN]

(ins/ins)