Putus Asa, Keluarga Pasang Foto Korban Banjir Nepal yang Hilang

CNN Indonesia
Senin, 31 Agu 2026 05:35 WIB
Keluarga pasang foto korban banjir bandang Nepal yang hilang.
Keluarga pasang foto korban banjir bandang Nepal yang hilang. (REUTERS/Navesh Chitrakar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lima hari setelah bencana banjir bandang yang melanda Nepal, banyak korban belum ditemukan.

Pada Minggu (30/8), jumlah korban hilang telah meningkat menjadi lebih dari 3.000, baik di Nepal maupun Tibet seperti dilaporkan The Guardian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para keluarga yang anggotanya belum ditemukan mendatangi rumah sakit untuk mencari tahu. Namun informasi yang didapat sangat terbatas di tengah ratusan mayat yang dievakuasi.

Di kota Chitwan, Nepal, kamar mayat kewalahan dengan banyaknya jenazah dan sebuah bangunan darurat telah didirikan untuk menampung para korban meninggal.

Di rumah sakit pendidikan Universitas Tribhuvan di ibu kota Nepal, Kathmandu, kerabat yang putus asa berkumpul dengan harapan mendapat kabar.

Mereka terus berkerumun di sekitar meja polisi untuk mendaftarkan nama anggota keluarga yang hilang. Ratusan korban luka sedang dirawat di bangsal rumah sakit dan orang-orang dengan panik memeriksa daftar pasien, putus asa mencari tanda bahwa orang yang mereka cintai masih hidup.

Poster dan foto orang hilang pun berjajar di dinding rumah sakit, lemnya masih terlihat jelas. Foto-foto korban yang dipasang dari beragam usia dan jenis kelamin dalam pose yang juga bermacam-macam.

Seorang siswi tersenyum dalam seragamnya, ada juga bayi berseri-seri dengan pipi tembam. Terpasang juga sepasang suami istri tersenyum di hari pernikahan mereka.

Ada seorang pemuda, tangan di pinggang, di puncak gunung lalu seorang gadis muda dengan rambut terurai, mengintip dari balik pintu.

"Wajah-wajah ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan orang yang belum terlihat sejak banjir bandang mematikan melanda Himalaya dan menghancurkan seluruh desa," demikian laporan The Guardian.

Karena kurangnya informasi dan daerah yang terdampak hampir sepenuhnya terisolasi, banyak keluarga terpaksa membuat poster untuk meminta informasi. Yavraj Lama mengatakan saudara perempuannya, suaminya, dan dua anak mereka hilang setelah desa mereka, Jaydada, di distrik Rusawa, hanyut seluruhnya.

Matanya berkaca-kaca saat ia menempelkan foto Sijan Tawang yang berusia satu tahun, bayi dalam pelukan ibunya, ke dinding rumah sakit. Foto Sahil, kakaknya yang berusia 12 tahun, tergantung di sebelahnya.

"Kami merasa mati rasa, kami tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan betapa sedih dan terpukulnya kami," kata Lama.

"Fokus utama kami adalah mencoba menemukan bayi Sijan. Dia sangat manis dan polos. Mustahil bagi kami untuk berpikir bahwa dia tidak bersama kami lagi."

"Namun seluruh desa mereka telah lenyap. Jadi kita tidak punya harapan lagi bahwa ada di antara mereka yang selamat," tambahnya.

(imf/bac)
placeholder