Trump Disebut Mau Lanjut Serangan Besar-besaran ke Iran

CNN Indonesia
Selasa, 01 Sep 2026 19:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berencana kembali menyerang besar-besaran ke Iran usai saling tempur pada pekan lalu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berencana kembali menyerang besar-besaran ke Iran usai saling tempur pada pekan lalu. (REUTERS/Stoyan Nenov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut berencana kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran usai saling hantam pada pekan lalu.

Tiga pejabat AS mengatakan kepada media Axios bahwa Trump dan para pembantunya mempertimbangkan untuk melanjutkan perang ke Iran. Langkah ini diambil untuk mencegah Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden masih memiliki semua opsi yang tersedia. Pihak Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka selalu terlambat dan kekurangan dana," kata pejabat Gedung Putih, dikutip dari New Arab, Senin (31/8).

Rencana tersebut, lanjut mereka, disusun Komando Pusat AS (CENTCOM) dan didukung Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Namun, rencana itu tak akan sampai perang skala penuh, melainkan berupa serangan terbatas yang menargetkan situs rudal dan rada Iran.

Salah satu pejabat menggambarkan operasi tersebut "memotong rumput." Istilah ini populer di kalangan pejabat militer Israel untuk mendeskripsikan pemboman berkala di Gaza.

Pernyataan itu muncul usai AS menggempur pulau Iran di dekat Selat Hormuz pada Minggu. Teheran lalu membalas dengan menyerang target militer AS di Timur Tengah.

Trump bahkan kembali mengancam akan menggempur Iran.

"Kita akan menyerang mereka dengan keras. Akan ada balasannya," kata Trump.

AS dan sekutu dekatnya Israel saling gempur pada akhir Februari lalu. Imbas serangan ini, pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat top pertahanan tewas.

Iran langsung membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Kedua negara sempat gencatan senjata pada April, kemudian Juni mereka menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri perang. Namun, AS berulang kali melanggar kesepakatan dan mengkhianati perjanjian.

(isa/bac)
placeholder