Veteran Militer Beber Cara Keji Israel: Bunuh Dahulu, Baru Cari Alasan
Direktur eksekutif kelompok veteran Israel Breaking the Silence, Nadav Weiman, membeberkan cara-cara keji tentara Tel Aviv selama melakukan agresi di Jalur Gaza.
Ia mengatakan para tentara Israel diperintahkan untuk "membunuh terlebih dahulu, kemudian berpikir dan mencoba mencari alasan" demi membenarkan pembunuhan tersebut.
Menurut Weiman, militer Israel berusaha melegitimasi serangan secara "retrospektif". Caranya dengan mencari hubungan antara korban dan kelompok Hamas atau Jihad Islam Palestina setelah serangan terjadi.
Weiman menyampaikan hal tersebut dalam wawancara dengan France 24, seperti dilaporkan Anadolu Agency.
Ia mengatakan pola itu terlihat dalam sejumlah serangan di Jalur Gaza, termasuk serangan terhadap Rumah Sakit Nasser dan pembunuhan 15 petugas darurat di Rafah.
"Dalam kasus seperti rumah sakit Nasser ini atau 15 paramedis yang dibunuh oleh tentara IDF (tentara Israel) di Rafah, atau serangan udara yang menewaskan ratusan warga sipil di Gaza... tiba-tiba juru bicara IDF di negara Israel perlu menjelaskan kepada komunitas internasional apa yang kami lakukan di sana dan siapa target serangan tersebut," kata Weiman.
Menurut Weiman, personel intelijen kemudian mengumpulkan nama-nama korban dan mencari bukti yang dapat digunakan untuk menghubungkan mereka dengan Hamas atau Jihad Islam Palestina.
Ia mengatakan bukti yang dicari dapat berupa hubungan keluarga dengan anggota kelompok tersebut, keberadaan korban di dekat bangunan yang disebut milik Hamas, atau dugaan bahwa korban pernah menerima gaji dari kelompok tersebut.
"Kemudian IDF mencoba membangun kasus seputar individu-individu tertentu untuk mengatakan bahwa kami menyerang karena ada anggota Hamas di sana," katanya.
Pada 25 Agustus 2025, terjadi serangan Israel terhadap Kompleks Medis Nasser di Gaza selatan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan tersebut menewaskan sebanyak 20 warga Palestina, termasuk pasien, tenaga kesehatan, petugas pertahanan sipil, dan awak media.
Selain itu, pada 23 Maret, 15 petugas darurat dan pertahanan sipil, yang dilindungi oleh hukum internasional, dibunuh oleh tentara Israel di Rafah, Gaza selatan.
Weiman mempertanyakan bagaimana militer dapat mengidentifikasi korban sebagai target sebelum serangan dilakukan, khususnya dalam serangan Rumah Sakit Nasser. Ia juga menyoroti peluru kedua yang menghantam lokasi itu dan menewaskan sejumlah orang yang berada di sana.
"Ini adalah sesuatu yang kami lakukan setelah kami menembak," kata Weiman.
"Pertama kami menembak, kami membunuh, lalu kami berpikir dan mencoba mencari alasan mengapa hal itu terjadi," ujarnya.
"Saya rasa tank yang menembakkan peluru ke rumah sakit itu tidak memiliki buku kecil berisi daftar 25.000 anggota Hamas dan melihat foto demi foto lalu berkata, 'Ah, ada anggota Hamas di sana,'" tambahnya.
Weiman mengatakan pola serupa juga terjadi dalam demonstrasi warga Palestina di perbatasan Gaza pada 2018. Menurutnya, lebih dari 200 warga Palestina tewas dalam aksi tersebut.
Aksi yang dikenal sebagai Pawai Akbar Kepulangan dan Pemutusan Blokade dimulai pada 30 Maret 2018. Warga Palestina berkumpul di sepanjang perbatasan Gaza-Israel untuk menuntut hak kembali bagi pengungsi Palestina dan mengakhiri blokade terhadap Gaza.
"Saat itu, berita di televisi Israel pada malam hari selalu sama: 'Kami telah membunuh sekian banyak teroris,'" kata Weiman.
Ia mengklaim Breaking the Silence juga menerima kesaksian dari tentara yang bertugas dalam perang Gaza saat ini. Kesaksian tersebut mengkonfirmasi bahwa "jika kami menembak dan membunuh seseorang, dia akan dicap sebagai teroris."
Seorang perwira operasi dari salah satu batalion yang bertugas dalam genosida di Gaza disebut mengatakan bahwa setiap malam ia harus menghitung warga Palestina yang ditembak dan mencatat semuanya sebagai teroris.
"Tidak peduli apakah mereka warga sipil atau bukan," kata Weiman. Ia menambahkan bahwa praktik tersebut terjadi karena hal itu telah menjadi asumsi di dalam militer Israel.
Weiman juga mengecam penyelidikan internal militer Israel terhadap pelanggaran. Menurutnya, penyelidikan tersebut hampir jarang menghasilkan pertanggungjawaban yang berarti.
"Hampir tidak pernah," ujarnya ketika ditanya seberapa sering penyelidikan militer berujung pada pertanggungjawaban.
Ia menilai penyelidikan militer lebih sering menyasar perwira berpangkat rendah. Menurut Weiman, penyelidikan seharusnya juga memeriksa pihak yang "memberikan perintah, mengesahkan aturan keterlibatan, atau menyetujui jumlah kematian warga sipil yang dianggap dapat diterima sebagai kerusakan tambahan."
"Masalahnya adalah apa yang dianggap sah oleh negara Israel dan IDF (tentara Israel) sebagai perintah yang wajar, sebagai perintah penting, dan di situlah kami ingin menyelidikinya," katanya.
Menurut data Palestina yang dikutip Middle East Monitor, lebih dari 73.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 174.000 lainnya terluka sejak Israel melancarkan perang di Gaza pada Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 juga dilaporkan masih mengalami pelanggaran.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut serangan Israel setelah gencatan senjata menewaskan 1.320 warga Palestina dan melukai 4.385 lainnya, yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak.
(mge/bac)