Netanyahu 'Pede' Rezim Mojtaba Khamenei Akan Segera Tumbang, Kenapa?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merasa percaya diri bahwa rezim ayatollah Iran yang kini dipimpin Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei akan segera tumbang.
Ia merasa yakin bahwa musuh bebuyutannya itu kini berada dalam kondisi lebih lemah dari sebelumnya menyusul serangan terbaru Amerika Serikat beberapa hari terakhir.
"Rezim ini saat ini berada di ambang kehancuran. Mereka lebih lemah dari sebelumnya. Mereka sedang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya," kata Netanyahu dalam sebuah acara bersama para petinggi militer Israel, Kamis (3/9).
"Saya yakin kita dapat menyingkirkan ancaman ini untuk selamanya, yakni dengan menggulingkan rezim tersebut. Itulah tugas utama yang masih harus kita selesaikan, tetapi waktunya sudah dekat. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Kita sudah berada dalam jangkauan untuk mewujudkannya," ujarnya.
Menurut Netanyahu, misi Israel terhadap Iran masih belum selesai meski AS saat ini bak "kehilangan arah" lantaran upaya negosiasinya dengan Teheran tak kunjung berhasil. Sebab, Iran ogah bernegosiasi hingga Washington kembali habis kesabaran.
Lihat Juga :KILAS INTERNASIONAL Perempuan RI Jadi Tentara Kamboja sampai Prabowo Temui Putin di Rusia |
"Jika mereka tidak menyerang kita, itu bukan kebetulan. Mereka menyerang semua orang, tetapi tidak kita," kata Netanyahu.
"Mereka tahu kekuatan kita-kekuatan persenjataan kita-dan tekad kita."
Setelah selama beberapa dekade menggambarkan pemerintahan Iran sebagai ancaman eksistensial Israel, Netanyahu bergabung dengan AS melancarkan serangan bersama terhadap Iran.
Setelah perang dirasa berkepanjangan dan melenceng dari rencana awal, Presiden Donald Trump berupaya menggeret Iran ke meja perundingan untuk bernegosiasi dan mengakhiri pertempuran.
AS-Iran pun meraih gencatan senjata pada April lalu dan memulai perundingan namun mandek. Sementara Israel menunjukkan keengganan menghentikan peperangan dengan Iran, hingga bertekad Tel Aviv bisa melancarkan serangan sepihak tanpa lampu hijau Washington.
Namun, belakangan AS kembali menerapkan tekanan kepada Iran mulai dari ancaman sanksi baru hingga serangan teranyar ke negara itu lantaran Trump telah habis kesabaran.
Iran pun tidak tinggal diam dan kembali melancarkan serangan ke sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk seperti Kuwait, Qatar, hingga Yordania, serta wilayah Kurdistan yang otonom di Irak.
(rds)