Setelah berperang selama 250 hari dengan Iran, sekitar 5.000 marinir dan pelaut Amerika Serikat tiba di Pattaya, Thailand awal pekan ini.
South China Morning Post (SCMP) melaporkan para kru kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya menginjak daratan setelah laporan menyebut kondisi mereka di atas kapal yang memburuk imbas perang yang berkepanjangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribuan marinir dan pelaut AS ini akan plesiran di Pattaya selama kurang lebih empat hari sebelum pulang ke kampung halaman.
Rekor penugasan kru USS Abraham Lincoln selama sembilan setengah bulan di laut memunculkan kabar tentang kondisi hidup yang buruk, tekanan terhadap kesehatan mental, hingga kekurangan pasokan.
"Kedatangan kami di Laem Chabang memberikan kesempatan yang layak bagi para pelaut dan marinir kami untuk beristirahat dan memulihkan tenaga," kata Laksamana Muda Robert Loughran, komandan Carrier Strike Group 3, dalam sebuah pernyataan.
"Apa yang telah dicapai kelompok tempur ini benar-benar bersejarah. Saya sangat bangga atas profesionalisme dan keahlian luar biasa yang ditunjukkan setiap anggota tim ini selama menjalankan operasi."
Malam pertama di daratan ini banyak dihabiskan para marinir AS tersebut untuk menikmati kebebasan keluar kapal.
"Saya akan bersantai, pelan-pelan," kata seorang pelaut muda yang mengenakan kaus Angkatan Laut AS berwarna biru dan kusut.
Ia tidak menyebutkan namanya saat mengambil sejumlah uang tunai dari ATM. "Tapi ini pertama kalinya saya ke Pattaya, jadi kita lihat saja."
Desa nelayan kecil
Sebelum menjadi resort di pantai di Thailand timur, Pattaya hanyalah desa nelayan kecil yang sepi.
Situs Pattaya Knowledge memaparkan, "Pattaya dulunya adalah sebuah desa nelayan kecil dengan beberapa ratus penduduk yang menjalani kehidupan sederhana dan tradisional," tulisnya.
Namun pada 1959, sekelompok tentara AS yang sedang berperang di Vietnam mulai datang untuk sekadar melepas penat.
Sejarah mencatat sekelompok tentara AS yang pertama datang itu berbasis di Korat sengaja dikirim ke Pattaya untuk berlibur. Mereka menyewa rumah di tepi pantai dan sangat menikmati keindahan alamnya, lalu menyebarkan kabar tersebut ke tentara lain lewat cerita dari mulut ke mulut.
Ditambah lagi, Amerika Serikat pernah menggunakan pangkalan udara di Thailand (seperti U-Tapao dan Takhli) secara besar-besaran pada masa Perang Vietnam, yang membuat banyak tentara berkunjung ke sana untuk relaksasi dan rekreasi.
Sejak itu, Pattaya perlahan menjadi kawasan wisata bukan saja bagi tentara tapi juga masyarakat umum. Apalagi letaknya yang 150 kilometer dari Bangkok, dapat dicapai dengan berbagai moda transportasi.
(imf/dna)


