Unhas Beri Gelar Kehormatan Doctor Honoris Causa ke Xanana Gusmao
Universitas Hasanuddin (Unhas) memberikan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa kepada Perdana Menteri Timor-Leste, Xanana Gusmao.
"Penghargaan yang diberikan bukan, karena jabatan, popularitas atau perjalanan politik seseorang," kata tim promotor, Hafid Abbas dalam sambutannya, Sabtu (5/9).
Hafid Abbas mengatakan bagi sebuah universitas, doktor kehormatan merupakan bentuk penghargaan terhadap nilai, prinsip, serta standar moral, intelektual, dan akademik yang dianggap penting bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.
Hafid menyebut Xanana sebagai "perpustakaan raksasa" sekaligus laboratorium kehidupan yang menyimpan gagasan, pengalaman, rekam jejak perjuangan, dan keteladanan yang layak dipelajari serta diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Karenanya pada hari ini promotor menyatakan bahwa simbol perjuangan yang melahirkan gagasan-gagasan besar tersebut," ujarnya.
Lihat Juga : |
Hafid menuturkan ada empat pertimbangan utama sehingga Unhas memberikan gelar kehormatan tersebut kepada Xanana Gusmao yakni, sebagai simbol perjuangan lahirnya negara Timor-Leste.
"Xanana bukan hanya sebagai saksi sejarah lahirnya Republik Demokratik Timor-Leste, melainkan salah seorang arsitek utamanya, yang memimpin rakyatnya melewati masa-masa paling sulit dalam perjalanan sejarahnya menuju awal kemerdekaan," ungkapnya.
Kemudian kata Hafid bahwa Xanana dinilai berhasil mengubah konflik menjadi rekonsiliasi dan perdamaian.
"Tidak semua pejuang mampu menjadi pembawa perdamaian. Namun, Xanana memilih jalan yang lebih sulit dengan memaafkan tanpa melupakan dan mengingat tanpa mewariskan kebencian yang membatu mengubah hubungan Indonesia-Timor Leste pernah diliput konflik menjadi hubungan yang dibangun atas dasar saling menghormati dan saling memuliakan," katanya.
Selanjutnya, Xanana dinilai berhasil bertransformasi dari pejuang menjadi negarawan setelah Timor-Leste meraih kemerdekaan. Kemudian membangun institusi negara, memperkuat demokrasi dan mendorong pembangunan nasional serta memperjuangkan kedaulatan Timor-Leste melalui jalur hukum dan diplomasi.
"Kepimpinannya menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya membebaskan, tetapi juga kemampuan menghadirkan harapan, the power of hope, menghadirkan kesejahteraan dan martabat bagi seluruh rakyat," jelasnya.
Hafid menilai Xanana berhasil mewariskan nilai-nilai perdamaian yang sejalan dengan misi Unhas. Nilai tersebut tercermin dari keberanian yang berpadu dengan kerendahan hati, perjuangan yang berujung pada rekonsiliasi, serta kepemimpinan yang berlandaskan nilai kemanusiaan.
"Xanana Gusmao bukan hanya perjalanan seorang pejuang menuju kemerdekaan. Ia adalah perjalanan seorang manusia dari perjuangan melalui perdamaian, menuju perdamaian," katanya.
Hafid juga menyinggung hubungan historis Indonesia dan Timor-Leste, khususnya masyarakat Bugis-Makassar. Menurutnya, hubungan tersebut telah terjalin jauh sebelum terbentuknya negara modern.
Pelaut dan saudagar Bugis-Makassar telah menjelajahi kawasan timur Nusantara dan membangun jaringan perdagangan serta hubungan antarmasyarakat.
"Hubungan kedua masyarakat telah terjalin jauh sebelum Indonesia dan Timor-Leste menjadi negara modern. Pelaut dan saudagar Bugis-Makassar telah menjelajahi kawasan timur Nusantara dan membangun jejaring perdagangan serta hubungan antarmasyarakat. Laut yang dahulu menjadi jalur perdagangan kini dapat menjadi jalur ilmu pengetahuan, pendidikan, persahabatan, dan perdamaian," tuturnya.
Pemberian gelar kepada Xanana di Makassar pun dinilai sebagai momentum untuk melanjutkan sejarah hubungan kedua masyarakat dalam bentuk kerja sama akademik dan kemanusiaan.
Hafid berharap Unhas dapat semakin memperkuat kerja sama dengan Timor-Leste, termasuk membuka peluang pengembangan jejaring pendidikan di negara tersebut.
(mir/agt)