Viral 'Langit Merah Darah' Gegerkan Warga China

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 06:30 WIB
Fenomena langit warna merah.
Ilustrasi. (Arsip Istimewa via Detikcom)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Changzhou, Provinsi Jiangsu, China, digegerkan oleh pemandangan langit berwarna merah muda hingga merah pekat, pada Minggu (31/8) pagi lalu.

Fenomena yang berlangsung selama sekitar tujuh hingga delapan menit itu kemudian ramai dibagikan di media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langit Changzhou berubah warna sekitar pukul 05.30 waktu setempat. Saat itu, awan gelap berukuran besar bergerak di atas kota sehingga menciptakan kontras dengan cahaya dari Matahari.

Fenomena tersebut bukan disebabkan oleh kejadian luar biasa. Perubahan warna langit terjadi akibat kombinasi posisi Matahari, kelembapan udara yang tinggi, serta keberadaan partikel dan tetesan air di atmosfer.

Kontras dengan awan badai membuat pemandangan itu semakin mencolok

Ketika Matahari berada dekat dengan cakrawala, sinarnya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih panjang. Dalam proses tersebut, cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan ungu lebih banyak tersebar.

Sementara itu, cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, seperti kuning, oranye, merah, dan merah muda, menjadi lebih dominan. Proses penyebaran cahaya tersebut dikenal sebagai hamburan Rayleigh.

Di Changzhou, kelembaban tinggi atmosfer sarat dengan tetesan air dan partikel menjelang badai hebat. Unsur-unsur ini dapat mengubah cara cahaya tersebar dan dipantulkan di antara lapisan-lapisan awan yang berbeda.

Awan juga berperan dalam menciptakan warna mencolok tersebut. Met Office menjelaskan bahwa tetesan air dalam awan berukuran jauh lebih besar daripada molekul udara sehingga menyebarkan hampir seluruh panjang gelombang cahaya.

Saat Matahari terbit, tetesan air di awan dapat menerima cahaya yang didominasi warna kemerahan dari arah cakrawala.

Langit merah disusul hujan deras

Fenomena langit merah tersebut muncul sebelum cuaca buruk melanda sejumlah wilayah Changzhou. Sekitar 20 menit setelah langit berubah warna, beberapa wilayah mulai diguyur hujan deras yang disertai petir.

Sebelumnya, Dinas Meteorologi Changzhou telah mengeluarkan peringatan kuning untuk hujan lebat. Peringatan tersebut mencakup potensi curah hujan lebih dari 100 milimeter dalam enam jam atau lebih dari 50 milimeter dalam satu jam.

Dinas meteorologi juga memperingatkan potensi petir dan angin kencang akibat sistem konvektif yang berkembang di wilayah tersebut.

Pengamatan menunjukkan besarnya intensitas hujan yang terjadi. Dari pukul 08.00 pada 30 Agustus hingga pukul 08.00 pada 31 Agustus, Changzhou mencatat rata-rata curah hujan 57 milimeter.

Wilayah Henglin bahkan mencatat curah hujan hingga 150 milimeter dalam periode tersebut. Sementara itu, Weicun mencatat 61,1 milimeter hujan hanya dalam waktu satu jam, yakni pada pukul 05.00 hingga 06.00.

Curah hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat tersebut berpotensi menyebabkan banjir di kawasan perkotaan apabila sistem drainase tidak mampu mengalirkan air dengan cepat.

Langit merah bukan penanda pasti badai

Meski kerap dikaitkan dengan perubahan cuaca, warna merah pada langit tidak dapat menjadi tanda pasti bahwa badai akan segera terjadi.

Warna tersebut terutama dipengaruhi oleh posisi Matahari dan kondisi optik atmosfer. Laboratorium Pemantauan Global NOAA menjelaskan bahwa debu, aerosol, dan partikel lain dapat memperkuat warna kemerahan ketika Matahari berada rendah di cakrawala.

Kondisi tekanan rendah juga dapat mendukung terbentuknya awan dan hujan dalam situasi tertentu. Namun, hubungan tersebut harus dilihat berdasarkan kondisi meteorologi secara keseluruhan.

Di Changzhou, cahaya kemerahan saat fajar bertemu dengan atmosfer yang sangat lembab dan awan badai berwarna gelap. Kombinasi tersebut menghasilkan pemandangan langit merah muda yang hanya berlangsung beberapa menit.

Fenomena itu akhirnya menjadi pemandangan viral, sekaligus muncul sebelum hujan deras melanda wilayah Changzhou.

(mge/bac)
placeholder