Peta Baru Benua Afrika yang Lebih Akurat Disahkan PBB, AS Menolak

CNN Indonesia
Selasa, 08 Sep 2026 20:15 WIB
PBB sepakat untuk mengadopsi resolusi agar dunia secara resmi memakai peta benua Afrika yang lebih baru dan meninggalkan peta lama.
PBB sepakat untuk mengadopsi resolusi agar dunia secara resmi memakai peta benua Afrika yang lebih baru dan meninggalkan peta lama. (Getty Images/PeterHermesFurian)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sepakat untuk mengadopsi resolusi agar dunia secara resmi memakai peta benua Afrika yang lebih baru dan meninggalkan peta lama.

Peta terbaru itu dinilai lebih akurat dibandingkan versi lama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sebuah sesi di markas besarnya di New York, Majelis Umum PBB secara resmi menghentikan penggunaan proyeksi Mercator abad ke-16 dan menggantinya dengan proyeksi yang didasarkan pada desain Equal Earth tahun 2018 yang lebih akurat, dikutip The Guardian, Kamis (4/9).

Pada sesi tersebut, 164 negara memberikan suara mendukung resolusi tersebut. Hanya AS yang memberikan suara menolak, dengan perwakilannya mengatakan bahwa resolusi tersebut "berlebihan". Terdapat enam negara abstain.

Usulan resolusi dipimpin oleh Togo atas nama Uni Afrika.

Argumen yang disampaikan adalah "mengakui dan menegaskan bahwa representasi kartografi yang tidak proporsional, khususnya yang dihasilkan dari proyeksi Mercator, telah memiliki dampak kognitif, pendidikan, budaya, geopolitik, dan sosial ekonomi yang berlangsung lama, berkontribusi pada pengurangan drastis dalam persepsi ukuran Afrika dan wilayah lain di dunia dalam imajinasi kolektif global."

Selama ini, peta Afrika berdasarkan pada ukuran Mercator, ahli peta Gerardus Mercator (1512-1594), yang selama berabad-abad menjadi standar global.

Namun, karena gaya proyeksinya, wilayah di dekat khatulistiwa tampak jauh lebih kecil daripada ukuran sebenarnya, sedangkan wilayah lintang tinggi terlihat jauh lebih besar. Misalnya, di peta menunjukkan Afrika memiliki ukuran yang mirip dengan Greenland, padahal benua tersebut 14 kali lebih besar daripada wilayah Denmark.

"Amerika Serikat, Tiongkok, India, Jepang, Meksiko, dan sebagian besar Eropa dapat dimasukkan ke dalam Afrika dan masih ada lahan yang tersisa," demikian bunyi petisi di Change.org untuk kampanye #CorrectTheMap, yang telah mengumpulkan lebih dari 11.000 tanda tangan.

Uni Afrika mendukung kampanye ini pada Agustus 2025 dan kemudian meminta Togo untuk memimpin penerapannya.

Para sejarawan dan ahli geografi mengatakan selama bertahun-tahun bahwa proyeksi Mercator berakar pada stereotip Barat. Para aktivis pun menyuarakan hal ini, dengan beberapa di antaranya menciptakan istilah "kolonialisme kartografi".

Sebagian pihak berpendapat bahwa peta tersebut secara halus telah membentuk dinamika kekuatan internasional dengan meminimalkan kehadiran fisik negara-negara selatan dan secara visual memperbesar negara-negara belahan bumi utara sambil mengecilkan wilayah khatulistiwa.

Hal ini dikatakan telah memperkuat bias sistemik dalam perdagangan internasional, prioritas pembangunan, dan kerangka pendidikan.

Salah satu kritikus terkemuka proyeksi Mercator adalah Arno Peters, seorang sejarawan Jerman, yang meluncurkan peta dunia Peters berdasarkan proyeksi Gall-Peters pada tahun 1973. Peta ini sering digunakan sebagai alternatif peta Mercator.

(imf/bac)
placeholder