Israel Ditinggalkan 1.370 Dokter selama 3 Tahun, Setara Satu RS

CNN Indonesia
Sabtu, 12 Sep 2026 12:10 WIB
Ilustrasi bendera Israel. Foto: heathertruett/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia --

Israel telah ditinggalkan oleh 1.370 dokter dalam kurun dua tiga tahun terakhir, menurut sebuah studi terbaru dari Universitas Tel Aviv.

Mereka telah meninggalkan negara zionis itu antara tahun 2023 dan 2025, yang menimbulkan kekhawatiran tentang semakin dalamnya eksodus tenaga ahli di sistem perawatan kesehatan negara tersebut.

Selama periode tiga tahun tersebut, jumlahnya hampir dua kali lipat dibandingkan periode 2013-2015 yang mencapai 705 dokter.

Para peneliti mencatat 416 kepergian pada tahun 2023, 530 pada tahun 2024, dan perkiraan awal 419 pada tahun 2025.

"Jumlah total kepergian selama tiga tahun ini melebihi seluruh staf medis di fasilitas besar seperti Rumah Sakit Medis Shaare Zedek, Pusat Medis Soroka, atau Pusat Medis Shamir, kata para peneliti," dikutip dari Times of Israel.

Para peneliti mencatat peningkatan proporsi dokter berpengalaman yang meninggalkan negara tersebut. Prof. Itai Ater dari Sekolah Manajemen Coller di Universitas Tel Aviv mengatakan, eksodus ini mencakup semua bidang kedokteran, dipimpin oleh dokter anak, dokter mata, dokter kulit, dan spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan; 6,2 persen dari semua praktisi Israel dalam kategori ini meninggalkan negara tersebut.

Ahli bedah berada di urutan berikutnya dengan 6 persen , dokter perawatan intensif dan gawat darurat dengan 4,7 persen, dokter kandungan dengan 4 persen, dokter penyakit dalam dan spesialis pendukung dengan 3,9 persen, psikiater dengan 3,2 persen, dan dokter keluarga dengan 2 persen.

Di antara dokter spesialis mata, dokter kulit, dan dokter THT yang masih bekerja dan berusia di bawah 60 tahun, 9,4 persen meninggalkan negara tersebut, bersama dengan 8,8 persen dokter bedah dan 6,4 persen dokter anak dalam kelompok usia yang sama.

Distrik Tel Aviv mengalami penurunan terbesar, kehilangan 429 dokter, atau 7,4 persen dari dokter di bawah usia 60 tahun, diikuti oleh distrik pusat dengan 290 dokter, Haifa dengan 190 dokter, Yerusalem dengan 132 dokter, dan distrik selatan dengan 125 dokter.

"Sejak tahun 2023, Negara Israel telah kehilangan orang-orang terbaiknya," kata Ater. "Kita semua memiliki anggota keluarga yang menunggu operasi atau perawatan medis lainnya. Kepergian hampir 1.400 dokter secara langsung berdampak pada waktu tunggu yang lebih lama, perawatan medis yang kurang efektif, dan pada akhirnya sangat merugikan kualitas hidup kita."

Penyebanya ternyata bukan kondisi politik atau peperangan, tapi pemerintah memulai upaya legislatif perombakan peradilan yang sangat kontroversial dan memicu reaksi keras. Terutama sejak 2023.

(imf/dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK