Kelompok milisi Houthi Yaman melaporkan Arab Saudi meluncurkan lebih dari 50 serangan pada Minggu (13/9) usai kelompoknya menggempur pangkalan militer Riyadh.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan Saudi melancarkan 58 serangan ke arah Houthi dalam 24 jam terakhir pasca pihaknya menyerang pangkalan Saudi di hari yang sama.
Lihat Juga :KILAS INTERNASIONAL Prabowo Hadiri KTT BRICS sampai Trump Tuduh Iran Pengaruhi Pemilu Sela |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut saluran televisi Houthi Almasirah, dua serangan Saudi diluncurkan ke Saada, benteng milik Houthi. Serangan lain diluncurkan ke perbatasan distrik Monabbih di provinsi yang sama.
Houthi dan Saudi kembali panas usai kelompok tersebut mendeklarasikan blokade terhadap Riyadh dan menyerang kapal-kapal di Laut Merah.
Serangan Houthi diklaim balasan atas serangan yang diluncurkan militer Yaman bekingan Saudi terhadap bandara di ibu kota Sanaa pada 13 Juli lalu.
Pekan ini merupakan serangan rudal dan drone terberat Houthi selama beberapa tahun terakhir. Situs minyak Saudi kebakaran dan sedikitnya 73 orang terluka.
Serangan Houthi selama seminggu terakhir berpuncak pada perebutan pantai Laut Merah Yaman, yang amat terkait dengan Selat Bab Al Mandab.
Jalur air tersebut merupakan arteri vital bagi ekspor minyak Saudi seiring masih ditutupnya Selat Hormuz imbas perang Amerika Serikat vs Iran.
Menurut Houthi, Saudi telah menyerang balik mereka dengan 100 lebih serangan sejak Selasa (8/9).
Sampai saat ini, serangan-serangan Saudi sebagian besar menyasar garis depan tanpa menargetkan jantung kekuasaan Houthi, termasuk Sanaa.
Saudi membantu pemerintah Yaman memerangi Houthi sejak 2015. Konflik Yaman meletus pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota dan menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional.
Pada 2022, gencatan senjata tercapai berkat mediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, perang kembali berkobar pada Juli buntut insiden di bandara Sanaa.
Menurut badan PBB, pertempuran beberapa pekan ini telah menyebabkan nyaris 86 ribu orang mengungsi. Lebih dari 2.000 orang dikabarkan telah mencapai Djibouti.
(blq/rds)