Pakistan Hadapi Krisis Malnutrisi, Hampir 40 Persen Balita Stunting

CNN Indonesia
Rabu, 16 Sep 2026 04:30 WIB
Ilustrasi. Anak-anak di Pakistan disebut alami krisis malnutrisi. Foto: REUTERS/Akhtar Soomro
Jakarta, CNN Indonesia --

Tingkat malnutrisi anak di Pakistan tetap sangat tinggi selama beberapa dekade, seolah kebal terhadap berbagai program pemerintah, rencana pembangunan, dan jaring pengaman sosial.

Assadullah Channa, seorang akademisi asal Sindh, Pakistan, menyoroti realitas pahit ini di mana hampir 4 dari 10 anak di bawah usia lima tahun di negaranya mengalami stunting, sementara jutaan lainnya menderita wasting (kurus kering), anemia, dan kekurangan mikronutrien.

"Kenyataan ini mencerminkan kelemahan sistemik yang terus-menerus dalam penyediaan makanan bergizi, air bersih, perawatan kesehatan, dan perlindungan dari penyakit," ujarnya.

Skala krisis ini sangat mengkhawatirkan. Survei Nutrisi Nasional Pakistan 2018 mencatat prevalensi stunting mencapai 40,2 persen (sekitar 12 juta anak) dan wasting 17,7 persen.

Meski estimasi UNICEF pada 2022 menunjukkan sedikit penurunan menjadi 34 persen, kurang gizi kronis tetap menjadi beban berat secara nasional.

Channa menegaskan bahwa stunting dimulai bahkan sebelum kelahiran. Masa 1.000 hari pertama kehidupan menjadi titik paling kritis.

Nutrisi ibu yang buruk, anemia saat hamil, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan praktik pemberian makan yang salah menjadi akar masalahnya. Data UNICEF menyebutkan hanya 38 persen bayi yang disusui secara eksklusif selama enam bulan pertama.

"Banyak pihak keliru menganggap malnutrisi semata-mata karena kemiskinan ekstrem, padahal realitasnya jauh lebih kompleks," tutur Channa.

Sebuah keluarga mungkin memiliki cukup kalori, tetapi makanannya miskin protein dan mikronutrien. Seorang anak mungkin diberi makan dengan cukup, tetapi nutrisinya terbuang sia-sia akibat diare kronis yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi.

Ibu hamil yang kurang gizi berisiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah, yang pada akhirnya menciptakan siklus kekurangan gizi lintas generasi.

Hantaman bencana iklim dan bahaya lingkungan

Kelemahan sistemik ini semakin terekspos ketika bencana iklim melanda. Banjir monsun pada pertengahan 2025 lalu menghancurkan fasilitas kesehatan, sumber air, serta merendam jutaan hektar lahan pertanian di Punjab.

UNICEF mencatat 946 kematian (255 di antaranya anak-anak) dan lebih dari 61.100 anak dengan malnutrisi akut parah harus dirawat di ribuan fasilitas medis yang tersisa di Pakistan. Banjir tidak menciptakan krisis dari ketiadaan; bencana ini hanya mendorong anak-anak yang sudah rentan ke jurang kondisi yang mengancam jiwa.

Belum selesai dengan dampak banjir, masalah lingkungan lain muncul. Laporan UNICEF pada Mei 2026 menemukan bahwa 4 dari 10 anak berusia 12-36 bulan di daerah berisiko tinggi di tujuh kota Pakistan memiliki kadar timbal dalam darah yang sangat tinggi. Di wilayah Hattar, Haripur, 88 persen anak yang dites menunjukkan paparan timbal parah, sangat kontras dengan tingkat 1 persen di ibukota Islamabad.

Beban ekonomi dan kebutuhan integrasi sistem

Konsekuensi dari krisis malnutrisi ini tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Secara ekonomi, mitra nutrisi Pakistan memperkirakan bahwa kerugian akibat berkurangnya produktivitas dan rendahnya kapasitas kognitif generasi penerus membebani negara hingga USD17 miliar (sekitar Rp 260 triliun) setiap tahunnya.

Pemerintah Pakistan bukannya diam. Melalui Program Benazir Nashonuma, pemerintah dan mitra internasional pada Juli 2026 mengumumkan perpanjangan program selama tiga tahun untuk menjangkau 3,3 juta perempuan dan anak tambahan.

Intervensi ini terbukti menurunkan risiko stunting hingga 22 persen pada anak yang terdaftar. Namun, kebutuhan di lapangan masih sangat masif. Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan 7,5 juta orang berada dalam krisis kerawanan pangan akut.

Channa menilai bahwa krisis malnutrisi di Pakistan pada akhirnya adalah ujian tentang apakah negara mampu menjamin hak-hak dasar warganya.

"Ketika jutaan anak tetap rentan nutrisi meski ada intervensi bertahun-tahun, malnutrisi tidak bisa lagi diperlakukan sebagai keadaan darurat biasa," ungkapnya.

"Ini adalah krisis pembangunan manusia nasional yang membutuhkan komitmen politik berkelanjutan serta koordinasi lintas sektor, mulai dari kesehatan, pertanian, air, sanitasi, hingga perlindungan sosial," sambung Channa.

"Bagi jutaan anak Pakistan, masa depan mereka bergantung penuh pada seberapa cepat sistem negara ini dapat bekerja secara terintegrasi," pungkasnya.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK