Harga tiket kereta bawah tanah di ibu kota Korea Utara (Korut), Pyongyang, dikabarkan naik nyaris tiga kali lipat.
Sejumlah mahasiswa internasional yang mengenyam pendidikan di Universitas Kim Il Sung, institut paling bergengsi di Korea Utara, mengungkap kondisi tersebut di media sosial mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam unggahan di platform media sosial Xiaohongshu, yang juga dikenal sebagai RedNote, beberapa mahasiswa mengaku terkejut dengan kenaikan harga tiket kereta sekembalinya mereka dari China. Para mahasiswa pulang ke China untuk liburan musim panas dan kembali lagi ke Pyongyang setelah liburan selesai.
"Saya membayar 5.000 won (7 sen) di loket seperti biasa, tetapi saya hanya menerima sekitar 13 tiket, bukan sekitar 30 tiket seperti sebelumnya," tulis salah satu mahasiswa internasional, seperti dikutip Radio Free Asia (RFA).
Berdasarkan keterangan para mahasiswa, tarif kereta bawah tanah di Pyongyang sebelumnya sebesar 150 won. Namun sekarang, harganya melonjak 2,7 kali lipat jadi senilai 400 won.
Kenaikan tarif merupakan hal tak biasa untuk kereta bawah tanah Pyongyang, di mana selama beberapa puluh tahun perjalanan kereta hanya seharga 5 won.
Kenaikan signifikan pertama didokumentasikan pada 2024 oleh seorang Youtuber asal Rusia, Viktor, yang mengunjungi negara terisolasi tersebut pada November 2024. Dalam videonya, ia membeli tiket seharga 150 won.
Para ahli mengatakan kenaikan harga terbaru ini berkaitan erat dengan penurunan nilai won Korut akibat pencetakan uang besar-besaran oleh pemerintah guna mendanai proyek-proyek negara.
Menurut peneliti senior di Institut Strategi Keamanan Nasional Korea, Lim Su Ho, nilai tukar won Korut terhadap dolar Amerika Serikat meroket sebesar 377 persen selama dua tahun sejak kuartal pertama 2024.
Lim mengatakan penyebabnya ialah pemerintah mencetak uang dalam jumlah besar ketika mereka menaikkan upah mulai akhir tahun 2023, dan untuk mengamankan dana bagi proyek-proyek pembangunan nasional berskala besar.
Meski kenaikan ini terlihat begitu signifikan, mahasiswa internasional lain mengaku tidak keberatan. Sebab nilai konversi won Korea Utara ke mata uang lain masih sangat rendah.
"Tampaknya inflasi telah menaikkan harga beberapa kali lipat, tetapi jika dikonversi menggunakan nilai tukar, harganya sangat murah, jadi tidak berbeda dengan membayar hampir gratis sama sekali," tulisnya.
Kendati begitu, kenaikan tajam ini tentu saja sangat terasa bagi warga Korea Utara.
(blq/bac)


