Inggris Kecam Israel soal Gaza: Mereka Kehilangan Sekutu di Mana-mana

CNN Indonesia
Kamis, 17 Sep 2026 12:55 WIB
British Foreign Secretary Ed Miliband speaks as he meets his Spanish counterpart at the Palacio de Viana in Madrid on July 29, 2026.  (Photo by Leon Neal / POOL / AFP)
Menlu Inggris Ed Miliband mengatakan Israel semakin kehilangan teman dan sekutu akibat agresi brutalnya terhadap Palestina terutama di Jalur Gaza.(Foto: AFP/LEON NEAL)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband mengecam Israel dan mengatakan Tel Aviv semakin kehilangan teman dan sekutu akibat agresi brutalnya terhadap Palestina terutama di Jalur Gaza.

Menurut Miliband, tindakan brutal Israel selama ini terhadap Palestina telah menggerakan kesadaran masyarakat di berbagai negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah Israel kehilangan teman. Mereka tidak mendapatkan sekutu; mereka kehilangan sekutu. Mereka kehilangan sekutu di mana-mana," kata Miliband dalam wawancara dengan podcast Inggris The Rest is Politics, pada Selasa (15/9), seperti dilansir Anadolu Agency.

Miliband mengatakan Inggris mengambil sejumlah langkah terhadap Israel karena status quo di wilayah Palestina dinilai tidak dapat terus dipertahankan. Ia merujuk pada pengumuman sanksi baru terhadap permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki.

Menurutnya, langkah tersebut diambil setelah muncul peringatan bahwa solusi dua negara antara Israel dan Palestina sedang "dihancurkan oleh fakta di lapangan."

"Semua langkah tersebut bertujuan untuk membuat perbedaan dalam hal itu, rezim sanksi menargetkan pendudukan ilegal, bukan menargetkan atau mendelegitimasi negara Israel dengan cara apa pun," ujar Miliband.

Miliband juga menyoroti rencana perluasan pemukiman Israel di kawasan E1, Tepi Barat. Ia mengatakan proyek tersebut telah lama dianggap sebagai "garis merah" oleh komunitas internasional karena berpotensi memisahkan Yerusalem Timur dari wilayah Tepi Barat.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat pembentukan negara Palestina menjadi semakin sulit.

"Status quo tidak berhasil," kata Miliband.

Ia mengatakan keputusan Inggris untuk mengambil langkah terhadap pemukiman Israel juga dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya putusan Mahkamah Internasional (ICJ) pada 2024, lamanya pendudukan wilayah Palestina, serta pengusiran banyak warga Palestina.

Dalam putusan tersebut, ICJ memerintahkan Israel untuk mengakhiri pendudukannya, membongkar permukiman, dan membayar ganti rugi.

Miliband menegaskan Inggris tidak boleh menyerah dalam menghadapi apa yang dia sebut sebagai "terorisme pemukim".

"Kita harus menghentikan terorisme pemukim, terorisme sejati, saya menggunakan istilah itu, pembersihan etnis oleh teroris pemukim, itulah yang sedang terjadi," katanya.

Ia juga mengatakan dirinya meyakini tidak akan ada stabilitas di Timur Tengah tanpa penyelesaian konflik melalui solusi dua negara bagi Israel dan Palestina.

Miliband turut menyoroti kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza. Ia mengatakan tidak ada alasan yang dapat membenarkan situasi yang terjadi di wilayah tersebut.

Miliband mengaku baru-baru ini bertemu dengan sejumlah orang, termasuk seorang dokter yang bekerja di Gaza. Menurutnya, kesaksian yang disampaikan kelompok tersebut mengenai kondisi di Gaza "benar-benar tak terucapkan" dan "mengerikan".

Ia juga menuding pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh Israel "tampaknya merupakan strategi yang benar-benar disengaja."

"Situasi di lapangan sangat mengerikan," ujar Miliband.

"Tidak ada yang dapat membenarkan apa yang telah terjadi di Gaza," tambahnya.

Miliband juga menyebut sekitar 1.200 warga Palestina telah tewas sejak apa yang disebut sebagai gencatan senjata. Karena itu, ia menilai gencatan senjata tersebut tidak dapat disebut sebagai gencatan senjata yang berarti.

"Sejak apa yang disebut gencatan senjata, 1.200 warga Palestina telah tewas. Itu bukanlah gencatan senjata yang berarti," katanya.

Sebelum Inggris mengumumkan sanksi terbaru, Miliband mengatakan dirinya sempat membayangkan apa yang akan dikatakan ibunya, yang meninggal pada Mei lalu, mengenai situasi warga Palestina.

"Dia akan berkata, 'Lihat apa yang terjadi pada warga Palestina! Lihat apa yang terjadi pada orang-orang miskin ini; ini salah,'" ujar Miliband.

Miliband mengatakan pemerintah Inggris berusaha menyampaikan pesan kepada Israel bahwa masyarakat internasional tidak akan tinggal diam ketika pendudukan di wilayah Palestina terus berlangsung.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam pemilihan umum Israel pada 27 Oktober, tetapi kita mencoba mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada rakyat Israel untuk mengatakan, 'lihat, komunitas internasional tidak akan tinggal diam sementara pendudukan ini berlanjut,'" katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Miliband mengumumkan serangkaian langkah baru Inggris pada pekan sebelumnya.

Kebijakan itu mencakup larangan impor dari pemukiman Israel di wilayah pendudukan, sanksi terhadap perusahaan dan individu yang membantu perluasan pemukiman, serta sanksi tambahan terhadap warga Israel yang disebut ekstremis dan dituduh mendukung atau menghasut kekerasan terhadap warga Palestina.

(mge/rds)
placeholder