Dapat Info AS Siap Gempur Lagi, Iran Bersumpah Balas Tanpa Ampun

CNN Indonesia
Minggu, 20 Sep 2026 20:10 WIB
Female members of Iranian militia forces (Basij) carry a banner against U.S. President Donald Trump during a military march in Tehran, Iran, September 18, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTUR
Iran menerima informasi yang mengindikasikan AS akan kembali menggempur negaranya usai mendapat restu dari negara-negara di kawasan Teluk. (Foto: via REUTERS/Majid Asgaripour)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran mengatakan telah menerima informasi yang mengindikasikan bahwa Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk kembali melancarkan serangan terhadap negaranya.

Militer Iran menyebut langkah AS melanjutkan gempuran telah mendapat restu dari sejumlah negara di kawasan Teluk.

"Berdasarkan informasi yang diterima, Amerika yang kriminal sekali lagi memutuskan untuk melanjutkan tindakan terhadap Iran, dengan lampu hijau dari sejumlah negara kawasan, dalam pertemuan bersama yang digelar di sebuah negara Eropa," kata Komando Pusat Khatam al-Anbiya dalam pernyataan yang disiarkan stasiun televisi pemerintah IRIB, dikutip Anadolu, Minggu (20/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Merespons itu, Iran bersumpah akan membalas AS tanpa ampun. Teheran juga memperingatkan negara-negara di Timur Tengah akan dianggap 'terlibat' jika Amerika embali melancarkan serangan besar terhadap Iran dari pangkalan-pangkalan militer AS.

Komando pusat militer Iran mengatakan setiap serangan AS akan dibalas Iran dengan menyerang pangkalan dan kepentingan Amerika tanpa batasan atau pertimbangan apa pun.

"Kami memperingatkan bahwa jika negara-negara di kawasan berpihak pada agresi Setan Besar terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, mereka semua akan dianggap terlibat dalam kejahatan ini dan tidak dapat lagi mengharapkan angkatan bersenjata Iran yang kuat menahan diri maupun menunjukkan sikap baik," kata pernyataan tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan provokasi terhadap Iran pada 28 Februari.

Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset-aset militer AS.

Iran juga menutup Selat Hormuz, salah satu jalur perairan terpenting di dunia bagi ekspor minyak dan gas.

Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan kerangka pada Juni yang mengatur penghentian operasi militer serta mekanisme untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran.

Namun, kesepakatan rapuh tersebut kemudian runtuh akibat perbedaan pendapat kedua pihak mengenai pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.

(pta)