Sejarah Milisi Houthi, dari Kelompok Keagamaan Jadi Kekuatan Tempur
CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 08:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto pemimpin Houthi, Abdul Malik Al Huthi. (AFP/MOHAMMED HUWAIS)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perang di Timur Tengah semakin tak terkendali setelah milisi Houthi menyerangArab Saudi.
Kelompok perlawanan yang berbasis di Yaman itu, kini benar-benar merepotkan setelah mereka memblokade maritim di Bab Al Mandab yang merupakan jalur perdagangan penting di sana.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa blokade ini bertujuan mencegah Arab Saudi menggunakan jalur pelayaran strategis di Laut Merah untuk mengekspor energi dan komoditas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintahan Yaman pun haru minta bantuan ke Amerika Serikat. Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, disebut melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump untuk meminta dukungan Amerika Serikat melawan Houthi.
Namun menurut sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak menjanjikan dukungan militer untuk Yaman. Permintaan Yaman ini terjadi setelah Houthi meluncurkan serangan ke ibu kota Riyadh Saudi pada Sabtu (19/9).
Percakapan yang berlangsung pada Minggu (20/9) sebagai tanda bahwa pemerintah Yaman sedang terdesak, setelah Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan.
Siapa mereka?
Milisi Houthi telah berperang dengan pemerintah Yaman sejak tahun 2004. Dalam setiap pertempuran, peralatan mereka semakin canggih dengan kemampuan tempur yang terus diperbaiki.
Menurut Michael Knights, peneliti senior di Program Militer dan Keamanan di The Washington Institute for Near East Policy, setelah tahun 2010, mereka bermetamorfosis menjadi entitas militer paling kuat di negara itu, merebut tiga kota terbesar di Yaman. Houthi dengan cepat menguasai senjata canggih yang belum pernah mereka kendalikan sebelumnya, termasuk banyak yang berasal dari Iran.
Knights yang sudah mengunjungi sejumlah wilayah yang dikuasai Houthi, menulis di situs militer West Point tentang awal mula mereka menjadi kelompok militan yang ambisius, dapat merebut dan menggunakan persenjataan negara serta mendapat manfaat dari dukungan Iran.
Gerakan Houthi tidak hanya merujuk pada keluarga Houthi (sebuah klan dari Pegunungan Marran di provinsi Sa'ada), tetapi juga pada aliansi kesukuan dan sektarian yang lebih luas dan beroperasi terutama di Yaman utara.
Klan Houthi diyakini punya garis keturunan Nabi Muhammad, dan sosok modern mereka adalah seorang ulama yang dihormati, Badr Al Din Al Huthi, seorang pendakwah berpengaruh hingga kematiannya pada tahun 2010.
Keluarga Houthi adalah penganut Islam Syiah Zaidi, yang doktrin paling dekat dengan Muslim Syiah Lima Imam (berbeda dengan Syiah Dua Belas Imam yang lebih umum di Iran, Irak, dan Lebanon).
Kelompok Houthi menjadi terkenal setelah jatuhnya imamat Zaidi (1962 M) dan pada saat Revolusi Islam di Iran dan pertumbuhan salafisme yang didukung Saudi di Yaman utara.
Pada tahun 1980-an, kelompok ini mulai aktif untuk kebangkitan, terutama oleh Badr Al Din Al Huthi dan dilanjutkan oleh putra-putranya yang terkemuka, Hussein, Yahya, Mohammed, dan Abdulmalik.
Kebangkitan kelompok ini sebagian bersifat revolusioner sosial dan politik. Pada tahun 1990-an, Badr al-Din al-Huthi dan putra-putranya membangun jaringan sosial yang kuat dan lintas sektoral di sekitar gerakan kebangkitan Zaidi yang mencakup perkawinan campur dengan keluarga suku, hingga membuatperkemahan musim panas dan program sosial "Pemuda Beriman" (Muntada al-Shahabal-Mu'min), dan sebuah partai politik.
Gerakan mereka semakin menarik perhatian karena menyasar isu-isu korupsi yang mewabah di tubuh pemerintahan serta semakin dekatnya pemerintah Yaman dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Mereka menjadi lebih vokal dalam isu-isu luar negeri dan perbatasan sejak tahun 2000 dan seterusnya, mengucilkan sekutu utama Yaman yaitu Arab Saudi dan AS, dan berisiko bentrok dengan pemerintah.
Pada tahun 2000, gerakan tersebut memanfaatkan kecenderungan anti Barat tradisional dan ketakutan akan dominasi asing di Yaman utara, khususnya penanganan sengketa perbatasan oleh Arab Saudi.
Dengan cepat mereka memiliki slogan menentang tindakan keamanan Israel dan Barat di dunia Arab, mengecam intervensi militer AS di Afghanistan, Yaman, dan Irak.
Pada akhir 2000, gerakan Houthi mengadopsi slogannya, "teriakan" (al-shi'ar): "Matilah Amerika, Matilah Israel, Kutukan bagi orang Yahudi, Kemenangan bagi Islam."
Kritik eksplisit terhadap kerja sama kontra-terorisme AS-Yaman oleh Houthi merupakan penyebab langsung dimulainya permusuhan oleh pemerintah Yaman pada Juni 2004.
Ideologi
Kelompok Houthi menganut Zaidisme, cabang Islam Syiah yang meyakini bahwa kepemimpinan spiritual dan duniawi harus dipegang oleh keturunan Nabi Muhammad, dan berkembang sebagai cabang militan dan radikal dari gerakan kebangkitan Zaidisme, seperti ditulis laman Middle East Institute.
Ideologi kelompok ini bersumber dari tradisi Islam tentang akhir zaman, termasuk hadits yang merujuk pada peran Yaman di dalamnya. Mereka juga mempercayai bahwa pembebasan Yerusalem sebagai kewajiban agama.
Kelompok Houthi percaya bahwa perang di Gaza telah membawa hal ini lebih dekat pada pemenuhannya dan telah menggunakannya sebagai alat perekrutan serta pembenaran untuk serangan mereka di Laut Merah.
Kelompok ini juga dipengaruhi oleh bentuk pemerintahan yang didirikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini di Iran setelah revolusi 1979, meskipun ada beberapa perbedaan antara kedua sekte Syiah tersebut.
Meskipun demikian, tujuan awal Houthi untuk membangun kendali atas Yaman dan menyebarkan doktrin Zaidisme, yang terhambat oleh perpecahan internal dan perang saudara selama bertahun-tahun, dibayangi oleh hubungan kelompok tersebut dengan Iran dan serangan terhadap Israel serta aset pelayaran Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Perang panjang
Sejak awal pertempuran pada 2004, gerakan Houthi mampu mengerahkan apa yang disebut para analis Barat seperti sebagai "tim tempur berbasis jaringan kekerabatan."
Tim-tim ini biasanya tidak lebih besar dari ukuran peleton (yaitu, 20-30 orang). Taktik 'perang gerilya' (harb al-'isabat) yang paling umum digunakan adalah penyergapan dengan tembakan senjata ringan, penembakan jitu, dan ranjau-metode yang telah lama digunakan oleh suku-suku yang sama.
Dalam perang kedua (19 Maret - 11 April 2005) dan ketiga (30 November 2005 - 23 Februari 2006), Houthi melancarkan perang serang-dan-mundur dengan serangan mendadak, pembunuhan, penyergapan, dan operasi ala teroris di Sana'a.
Selama perang keempat (27 Januari - 17 Juni 2007), Houthi mengembangkan ketahanan defensif untuk membentengi dan mempertahankan kota-kota dari serangan lapis baja menggunakan ranjau, RPG, dan bom Molotov. Mereka juga melancarkan serangan serbu yang lebih besar terhadap kompleks pemerintahan, terkadang dalam unit seukuran kompi (yaitu, 60-90 orang).
Dalam perang kelima (2 Mei - 17 Juli 2008), gerakan Houthi menyerang logistik pemerintah dengan mengendalikan atau menghancurkan jembatan-jembatan utama yang menghubungkan Sana'a ke Sa'ada, menyelidiki pinggiran utara Sana'a, dan mengepung serta memaksa mundur unit-unit Yaman hingga kekuatan brigade.
Selama perang ini, gerakan Houthi mulai memproduksi seri video laporan pertempuran yang canggih, Basha' ir al-Nasr (Nubuat Kemenangan).
Pada perang keenam (11 Agustus 2009 - 11 Februari 2010), gerakan Houthi cukup percaya diri untuk memaksa penyerahan seluruh brigade Yaman 31 dan melancarkan serangan besar-besaran dengan kekuatan batalion (yaitu, 240-360 personel) dengan kendaraan lapis baja di Sa'ada, merebut sebagian kota dari pemerintah.
Houthi juga memulai serangan ofensif ke Arab Saudi, tanpa terpengaruh oleh tingkat pengawasan udara dan pemboman yang tak tertandingi.
Taktik tempur
Pengalaman tempur telah membuat Houthi semakin kuat dan percaya diri. Ditambah, melemahnya kekuatan pemerintah Yaman, yang dengan cepat menyerah pada protes Musim Semi Arab yang meluas mulai Januari 2011 dan seterusnya, di mana Presiden Ali Abdullah Saleh digulingkan pada November 2011.
Runtuhnya pemerintahan Yaman kala itu, dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperluas jaringan pasukan di seluruh Yaman utara ke lokasi-lokasi penting yang oleh seorang komandan lapangan Houthi disebut sebagai "titik hegemoni."
Pada akhir tahun 2012, kelompok ini menguasai hampir seluruh provinsi Sa'ada dan sebagian besar wilayah provinsi Amran, al-Jawf, dan Hajjah. "Pemberontakan Houthi beroperasi melalui rencana yang disusun dengan cermat dan langkah-langkah brilian di papan catur.
Mereka mengandalkan aliansi, baik rahasia maupun yang terlihat secara terbuka... Strategi Houthi didasarkan pada pengetahuan yang tepat tentang suku-suku setempat dan pada kehadiran sosial yang luas di wilayah mereka; mereka membangun jaringan pos pemeriksaan dan patroli yang ketat di dusun-dusun dalam operasi yang oleh sumber-sumber lokal digambarkan sebagai operasi Houthi untuk merasakan denyut nadi suku tersebut," begitu catatan Knights.
Sejak menjadi aktor tingkat negara dengan sekutu internasional yang kuat, gerakan Houthi telah efektif dalam merekrut, memotivasi, dan melatih pasukan untuk melawan pemerintah Yaman dan koalisi Teluk.
Kepemimpinan karismatik tetap menjadi inti gerakan ini, dengan solidaritas kelompok diperkuat oleh nyanyian dan khotbah di serangkaian festival, pertemuan di tempat kerja, perkemahan musim panas, dan sesi indoktrinasi di kelas yang semakin banyak. Houthi yang juga bernama Ansarallah memanfaatkan kematian para pemimpin mereka, sebagai daya dorong dan motivasi lebih jauh lagi.
Gerakan Houthi mengklasifikasikan rekrutan baru dengan indoktrinasi dan pelatihan terbatas sebagai mutahawith , yang secara kasar diterjemahkan sebagai pejuang yang "di-Houth-kan". Sebagian besar pejuang ini berusia di bawah 18 tahun, sehingga mereka diklasifikasikan sebagai tentara anak.
Menurut Amnesty International, Houthi memberlakukan kuota perekrutan di wilayah yang dikuasainya dan akan mendisiplinkan klan yang tidak mematuhi aturan. Perpaduan indoktrinasi, sikap sok jantan, dukungan materi, dan ancaman telah membuat gerakan Houthi terus mendapatkan pasokan pejuang baru di hampir selusin medan perang utama di Yaman selama lebih dari tiga tahun perang.
Militer Houthi terbagi di tujuh wilayah dan mengumpulkan intelijen melalui Dinas Keamanan dan Intelijen (SIS), yang terdiri dari cabang Intelijen Militer dan Dinas Intelijen Preventif, sebuah unit yang memantau gerakan Houthi itu sendiri untuk melindungi dari infiltrasi.
Kekuatan pasukan Houthi diperkirakan mencapai 350.000 tentara pada April 2025, sementara pasukan pemerintah yang didukung Saudi mengendalikan sekitar 300.000 personel.
Berbagai milisi yang didukung Saudi dan Emirat, pada gilirannya, dapat mengerahkan antara 150.000 dan 200.000 pejuang. Militer Houthi mencakup tentara anak-anak, pengungsi Afrika yang dipaksa wajib militer, dan tentara bayaran asing. Pasokan makanan dan energi yang terbatas, mengingat ketergantungan Yaman pada impor untuk keduanya, merupakan kendala signifikan bagi kapasitas militer.
Dari mana mereka mendapatkan logistik? "Iran telah memberikan bantuan militer penting kepada Houthi, khususnya dengan pengiriman rudal dan sistem pesawat tanpa awak," tulis laman Middle East Institute.
Iran telah memberikan bantuan militer penting kepada Houthi, khususnya dengan pengiriman rudal dan sistem pesawat tanpa awak (UAV). Komponen rudal dan UAV dirancang dan diproduksi di Iran dan diselundupkan ke Yaman melalui perahu kecil, kapal kontainer, atau melalui perbatasan Oman-Yaman , di mana komponen tersebut dirakit dan sering diuji serta dijual kepada kelompok bersenjata non-negara lainnya.
Sistem rudal balistik Houthi meliputi Asif, Burkan (versi 1-3), Hatem (1-2), Karar, Mohit, dan Toofan. Sistem rudal jelajah Houthi meliputi al-Mandab-1 dan Quds (1-4). Sistem UAV Houthi meliputi Qasef (versi 1 dan 2k), Sammad (2-4), dan Waid (1-2). Houthi juga telah mendiversifikasi jalur pasokan mereka dengan mencari komponen dan bantuan dari Tiongkok dan Rusia.
Meski tidak mengendalikan kepemimpinan Houthi, tapi Iran disebut memberikan dukungan. Tidak hanya untuk mengendalikan Yaman utara tetapi juga untuk membangun benteng pertahanan jauh di luar jantung tradisional Zaidi.
Iran juga telah memberikan bantuan penting dengan memungkinkan Houthi untuk memperlambat perebutan kembali wilayah oleh pemerintah Yaman yang didukung negara-negara Teluk.
Hubungan antara Iran dan Houthi dapat tetap bersifat transaksional atau dapat semakin mendalam. Iran, Hizbullah Lebanon, dan Houthi memiliki pandangan dunia yang sangat mirip yang menentang Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi, seperti yang digarisbawahi oleh slogan Houthi: "Matilah Amerika, Matilah Israel, Kutukan bagi orang Yahudi, Kemenangan bagi Islam."
Komandan militer garis keras dalam gerakan Houthi seperti Abdullah Eida al-Razzami dan Abdullah al-Hakim mungkin lebih rentan terhadap pengaruh IRGC daripada bagian lain dari hierarki Houthi, dan sayap gerakan ini dapat diperkuat dari waktu ke waktu, terutama jika perang saat ini berlanjut.
Seperti yang dikatakan seorang ahli tentang Yaman, "beberapa pemimpin Houthi berpikir bahwa Saudi ingin memusnahkan mereka hingga orang terakhir, baik pria, wanita, maupun anak-anak, dan mereka ingin melanjutkan perang hingga Mekah".
Jakarta, CNN Indonesia --
Perang di Timur Tengah semakin tak terkendali setelah milisi Houthi menyerangArab Saudi.
Kelompok perlawanan yang berbasis di Yaman itu, kini benar-benar merepotkan setelah mereka memblokade maritim di Bab Al Mandab yang merupakan jalur perdagangan penting di sana.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa blokade ini bertujuan mencegah Arab Saudi menggunakan jalur pelayaran strategis di Laut Merah untuk mengekspor energi dan komoditas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintahan Yaman pun haru minta bantuan ke Amerika Serikat. Kepala badan pemerintahan Yaman, Rashad Al Alimi, disebut melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Donald Trump untuk meminta dukungan Amerika Serikat melawan Houthi.
Namun menurut sumber dari kantor Alimi kepada AFP, Trump tidak menjanjikan dukungan militer untuk Yaman. Permintaan Yaman ini terjadi setelah Houthi meluncurkan serangan ke ibu kota Riyadh Saudi pada Sabtu (19/9).
Percakapan yang berlangsung pada Minggu (20/9) sebagai tanda bahwa pemerintah Yaman sedang terdesak, setelah Houthi menguasai seluruh pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan.
Siapa mereka?
Milisi Houthi telah berperang dengan pemerintah Yaman sejak tahun 2004. Dalam setiap pertempuran, peralatan mereka semakin canggih dengan kemampuan tempur yang terus diperbaiki.
Menurut Michael Knights, peneliti senior di Program Militer dan Keamanan di The Washington Institute for Near East Policy, setelah tahun 2010, mereka bermetamorfosis menjadi entitas militer paling kuat di negara itu, merebut tiga kota terbesar di Yaman. Houthi dengan cepat menguasai senjata canggih yang belum pernah mereka kendalikan sebelumnya, termasuk banyak yang berasal dari Iran.
Knights yang sudah mengunjungi sejumlah wilayah yang dikuasai Houthi, menulis di situs militer West Point tentang awal mula mereka menjadi kelompok militan yang ambisius, dapat merebut dan menggunakan persenjataan negara serta mendapat manfaat dari dukungan Iran.
Gerakan Houthi tidak hanya merujuk pada keluarga Houthi (sebuah klan dari Pegunungan Marran di provinsi Sa'ada), tetapi juga pada aliansi kesukuan dan sektarian yang lebih luas dan beroperasi terutama di Yaman utara.
Klan Houthi diyakini punya garis keturunan Nabi Muhammad, dan sosok modern mereka adalah seorang ulama yang dihormati, Badr Al Din Al Huthi, seorang pendakwah berpengaruh hingga kematiannya pada tahun 2010.
Keluarga Houthi adalah penganut Islam Syiah Zaidi, yang doktrin paling dekat dengan Muslim Syiah Lima Imam (berbeda dengan Syiah Dua Belas Imam yang lebih umum di Iran, Irak, dan Lebanon).
Kelompok Houthi menjadi terkenal setelah jatuhnya imamat Zaidi (1962 M) dan pada saat Revolusi Islam di Iran dan pertumbuhan salafisme yang didukung Saudi di Yaman utara.
Pada tahun 1980-an, kelompok ini mulai aktif untuk kebangkitan, terutama oleh Badr Al Din Al Huthi dan dilanjutkan oleh putra-putranya yang terkemuka, Hussein, Yahya, Mohammed, dan Abdulmalik.
Kebangkitan kelompok ini sebagian bersifat revolusioner sosial dan politik. Pada tahun 1990-an, Badr al-Din al-Huthi dan putra-putranya membangun jaringan sosial yang kuat dan lintas sektoral di sekitar gerakan kebangkitan Zaidi yang mencakup perkawinan campur dengan keluarga suku, hingga membuatperkemahan musim panas dan program sosial "Pemuda Beriman" (Muntada al-Shahabal-Mu'min), dan sebuah partai politik.
Gerakan mereka semakin menarik perhatian karena menyasar isu-isu korupsi yang mewabah di tubuh pemerintahan serta semakin dekatnya pemerintah Yaman dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi.
Mereka menjadi lebih vokal dalam isu-isu luar negeri dan perbatasan sejak tahun 2000 dan seterusnya, mengucilkan sekutu utama Yaman yaitu Arab Saudi dan AS, dan berisiko bentrok dengan pemerintah.
Pada tahun 2000, gerakan tersebut memanfaatkan kecenderungan anti Barat tradisional dan ketakutan akan dominasi asing di Yaman utara, khususnya penanganan sengketa perbatasan oleh Arab Saudi.
Dengan cepat mereka memiliki slogan menentang tindakan keamanan Israel dan Barat di dunia Arab, mengecam intervensi militer AS di Afghanistan, Yaman, dan Irak.
Pada akhir 2000, gerakan Houthi mengadopsi slogannya, "teriakan" (al-shi'ar): "Matilah Amerika, Matilah Israel, Kutukan bagi orang Yahudi, Kemenangan bagi Islam."
Kritik eksplisit terhadap kerja sama kontra-terorisme AS-Yaman oleh Houthi merupakan penyebab langsung dimulainya permusuhan oleh pemerintah Yaman pada Juni 2004.
Ideologi
Kelompok Houthi menganut Zaidisme, cabang Islam Syiah yang meyakini bahwa kepemimpinan spiritual dan duniawi harus dipegang oleh keturunan Nabi Muhammad, dan berkembang sebagai cabang militan dan radikal dari gerakan kebangkitan Zaidisme, seperti ditulis laman Middle East Institute.
Ideologi kelompok ini bersumber dari tradisi Islam tentang akhir zaman, termasuk hadits yang merujuk pada peran Yaman di dalamnya. Mereka juga mempercayai bahwa pembebasan Yerusalem sebagai kewajiban agama.
Kelompok Houthi percaya bahwa perang di Gaza telah membawa hal ini lebih dekat pada pemenuhannya dan telah menggunakannya sebagai alat perekrutan serta pembenaran untuk serangan mereka di Laut Merah.
Kelompok ini juga dipengaruhi oleh bentuk pemerintahan yang didirikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini di Iran setelah revolusi 1979, meskipun ada beberapa perbedaan antara kedua sekte Syiah tersebut.
Meskipun demikian, tujuan awal Houthi untuk membangun kendali atas Yaman dan menyebarkan doktrin Zaidisme, yang terhambat oleh perpecahan internal dan perang saudara selama bertahun-tahun, dibayangi oleh hubungan kelompok tersebut dengan Iran dan serangan terhadap Israel serta aset pelayaran Laut Merah sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sejarah Houthi, Milisi Pemberontak di Yaman
Milisi Houthi telah berperang dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi sejak 2004. (REUTERS/KHALED ABDULLAH)
Perang panjang
Sejak awal pertempuran pada 2004, gerakan Houthi mampu mengerahkan apa yang disebut para analis Barat seperti sebagai "tim tempur berbasis jaringan kekerabatan."
Tim-tim ini biasanya tidak lebih besar dari ukuran peleton (yaitu, 20-30 orang). Taktik 'perang gerilya' (harb al-'isabat) yang paling umum digunakan adalah penyergapan dengan tembakan senjata ringan, penembakan jitu, dan ranjau-metode yang telah lama digunakan oleh suku-suku yang sama.
Dalam perang kedua (19 Maret - 11 April 2005) dan ketiga (30 November 2005 - 23 Februari 2006), Houthi melancarkan perang serang-dan-mundur dengan serangan mendadak, pembunuhan, penyergapan, dan operasi ala teroris di Sana'a.
Selama perang keempat (27 Januari - 17 Juni 2007), Houthi mengembangkan ketahanan defensif untuk membentengi dan mempertahankan kota-kota dari serangan lapis baja menggunakan ranjau, RPG, dan bom Molotov. Mereka juga melancarkan serangan serbu yang lebih besar terhadap kompleks pemerintahan, terkadang dalam unit seukuran kompi (yaitu, 60-90 orang).
Dalam perang kelima (2 Mei - 17 Juli 2008), gerakan Houthi menyerang logistik pemerintah dengan mengendalikan atau menghancurkan jembatan-jembatan utama yang menghubungkan Sana'a ke Sa'ada, menyelidiki pinggiran utara Sana'a, dan mengepung serta memaksa mundur unit-unit Yaman hingga kekuatan brigade.
Selama perang ini, gerakan Houthi mulai memproduksi seri video laporan pertempuran yang canggih, Basha' ir al-Nasr (Nubuat Kemenangan).
Pada perang keenam (11 Agustus 2009 - 11 Februari 2010), gerakan Houthi cukup percaya diri untuk memaksa penyerahan seluruh brigade Yaman 31 dan melancarkan serangan besar-besaran dengan kekuatan batalion (yaitu, 240-360 personel) dengan kendaraan lapis baja di Sa'ada, merebut sebagian kota dari pemerintah.
Houthi juga memulai serangan ofensif ke Arab Saudi, tanpa terpengaruh oleh tingkat pengawasan udara dan pemboman yang tak tertandingi.
Taktik tempur
Pengalaman tempur telah membuat Houthi semakin kuat dan percaya diri. Ditambah, melemahnya kekuatan pemerintah Yaman, yang dengan cepat menyerah pada protes Musim Semi Arab yang meluas mulai Januari 2011 dan seterusnya, di mana Presiden Ali Abdullah Saleh digulingkan pada November 2011.
Runtuhnya pemerintahan Yaman kala itu, dimanfaatkan sepenuhnya untuk memperluas jaringan pasukan di seluruh Yaman utara ke lokasi-lokasi penting yang oleh seorang komandan lapangan Houthi disebut sebagai "titik hegemoni."
Pada akhir tahun 2012, kelompok ini menguasai hampir seluruh provinsi Sa'ada dan sebagian besar wilayah provinsi Amran, al-Jawf, dan Hajjah. "Pemberontakan Houthi beroperasi melalui rencana yang disusun dengan cermat dan langkah-langkah brilian di papan catur.
Mereka mengandalkan aliansi, baik rahasia maupun yang terlihat secara terbuka... Strategi Houthi didasarkan pada pengetahuan yang tepat tentang suku-suku setempat dan pada kehadiran sosial yang luas di wilayah mereka; mereka membangun jaringan pos pemeriksaan dan patroli yang ketat di dusun-dusun dalam operasi yang oleh sumber-sumber lokal digambarkan sebagai operasi Houthi untuk merasakan denyut nadi suku tersebut," begitu catatan Knights.
Sejak menjadi aktor tingkat negara dengan sekutu internasional yang kuat, gerakan Houthi telah efektif dalam merekrut, memotivasi, dan melatih pasukan untuk melawan pemerintah Yaman dan koalisi Teluk.
Kepemimpinan karismatik tetap menjadi inti gerakan ini, dengan solidaritas kelompok diperkuat oleh nyanyian dan khotbah di serangkaian festival, pertemuan di tempat kerja, perkemahan musim panas, dan sesi indoktrinasi di kelas yang semakin banyak. Houthi yang juga bernama Ansarallah memanfaatkan kematian para pemimpin mereka, sebagai daya dorong dan motivasi lebih jauh lagi.
Gerakan Houthi mengklasifikasikan rekrutan baru dengan indoktrinasi dan pelatihan terbatas sebagai mutahawith , yang secara kasar diterjemahkan sebagai pejuang yang "di-Houth-kan". Sebagian besar pejuang ini berusia di bawah 18 tahun, sehingga mereka diklasifikasikan sebagai tentara anak.
Menurut Amnesty International, Houthi memberlakukan kuota perekrutan di wilayah yang dikuasainya dan akan mendisiplinkan klan yang tidak mematuhi aturan. Perpaduan indoktrinasi, sikap sok jantan, dukungan materi, dan ancaman telah membuat gerakan Houthi terus mendapatkan pasokan pejuang baru di hampir selusin medan perang utama di Yaman selama lebih dari tiga tahun perang.
Militer Houthi terbagi di tujuh wilayah dan mengumpulkan intelijen melalui Dinas Keamanan dan Intelijen (SIS), yang terdiri dari cabang Intelijen Militer dan Dinas Intelijen Preventif, sebuah unit yang memantau gerakan Houthi itu sendiri untuk melindungi dari infiltrasi.
Kekuatan pasukan Houthi diperkirakan mencapai 350.000 tentara pada April 2025, sementara pasukan pemerintah yang didukung Saudi mengendalikan sekitar 300.000 personel.
Berbagai milisi yang didukung Saudi dan Emirat, pada gilirannya, dapat mengerahkan antara 150.000 dan 200.000 pejuang. Militer Houthi mencakup tentara anak-anak, pengungsi Afrika yang dipaksa wajib militer, dan tentara bayaran asing. Pasokan makanan dan energi yang terbatas, mengingat ketergantungan Yaman pada impor untuk keduanya, merupakan kendala signifikan bagi kapasitas militer.
Dari mana mereka mendapatkan logistik? "Iran telah memberikan bantuan militer penting kepada Houthi, khususnya dengan pengiriman rudal dan sistem pesawat tanpa awak," tulis laman Middle East Institute.
Iran telah memberikan bantuan militer penting kepada Houthi, khususnya dengan pengiriman rudal dan sistem pesawat tanpa awak (UAV). Komponen rudal dan UAV dirancang dan diproduksi di Iran dan diselundupkan ke Yaman melalui perahu kecil, kapal kontainer, atau melalui perbatasan Oman-Yaman , di mana komponen tersebut dirakit dan sering diuji serta dijual kepada kelompok bersenjata non-negara lainnya.
Sistem rudal balistik Houthi meliputi Asif, Burkan (versi 1-3), Hatem (1-2), Karar, Mohit, dan Toofan. Sistem rudal jelajah Houthi meliputi al-Mandab-1 dan Quds (1-4). Sistem UAV Houthi meliputi Qasef (versi 1 dan 2k), Sammad (2-4), dan Waid (1-2). Houthi juga telah mendiversifikasi jalur pasokan mereka dengan mencari komponen dan bantuan dari Tiongkok dan Rusia.
Meski tidak mengendalikan kepemimpinan Houthi, tapi Iran disebut memberikan dukungan. Tidak hanya untuk mengendalikan Yaman utara tetapi juga untuk membangun benteng pertahanan jauh di luar jantung tradisional Zaidi.
Iran juga telah memberikan bantuan penting dengan memungkinkan Houthi untuk memperlambat perebutan kembali wilayah oleh pemerintah Yaman yang didukung negara-negara Teluk.
Hubungan antara Iran dan Houthi dapat tetap bersifat transaksional atau dapat semakin mendalam. Iran, Hizbullah Lebanon, dan Houthi memiliki pandangan dunia yang sangat mirip yang menentang Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi, seperti yang digarisbawahi oleh slogan Houthi: "Matilah Amerika, Matilah Israel, Kutukan bagi orang Yahudi, Kemenangan bagi Islam."
Komandan militer garis keras dalam gerakan Houthi seperti Abdullah Eida al-Razzami dan Abdullah al-Hakim mungkin lebih rentan terhadap pengaruh IRGC daripada bagian lain dari hierarki Houthi, dan sayap gerakan ini dapat diperkuat dari waktu ke waktu, terutama jika perang saat ini berlanjut.
Seperti yang dikatakan seorang ahli tentang Yaman, "beberapa pemimpin Houthi berpikir bahwa Saudi ingin memusnahkan mereka hingga orang terakhir, baik pria, wanita, maupun anak-anak, dan mereka ingin melanjutkan perang hingga Mekah".