PM Malaysia Viral di India Gegara Nyanyi Lagu Bollywood

CNN Indonesia
Selasa, 22 Sep 2026 20:45 WIB
Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim attends the 28th ASEAN-Japan Summit, as part of the 47th ASEAN Summit in Kuala Lumpur, Malaysia October 26, 2025. REUTERS/Chalinee Thirasupa/Pool
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menjadi perhatian warga India setelah video dirinya menyanyikan lagu klasik Bollywood viral di media sosial. (Foto: REUTERS/Chalinee Thirasupa)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menjadi perhatian warga India setelah video dirinya menyanyikan lagu klasik Bollywood viral di media sosial. Aksi tersebut terjadi di tengah upaya Malaysia mempererat hubungan dengan India.

Dalam video yang diunggah ke akun media sosialnya, Anwar menyanyikan lagu "Khwab Ho Tum Ya Koi Haqeeqat" yang dipopulerkan penyanyi legendaris India Kishore Kumar pada 1965.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Anwar menyanyikan lagu yang berarti "Apakah kau mimpi atau kenyataan?". Video tersebut kemudian mendapat perhatian media India.

Momen itu terjadi ketika Anwar menghadiri KTT BRICS di New Delhi pada 12-13 September. Malaysia hadir dalam pertemuan tersebut sebagai negara mitra BRICS.

Terlepas dari aksi Anwar menyanyikan lagu Bollywood, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Malaysia memperluas pilihan ekonomi dan strategis di tengah persaingan Amerika Serikat (AS) dan China.

Setelah bertemu Perdana Menteri India, Narendra Modi, Anwar melakukan serangkaian pertemuan dengan para pemimpin politik dan pelaku industri di India. Ia mendorong peningkatan modal dan peluang bisnis antara kedua negara.

Kebijakan tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Malaysia, yakni menjadi "sahabat bagi semua, tidak bermusuhan dengan siapa pun".

Direktur Muda untuk Malaysia di perusahaan konsultan strategis Asia Group Advisors, Kamles Kumar, mengatakan hubungan yang lebih erat dengan India dapat memberi Malaysia mitra ekonomi dan keamanan tambahan tanpa harus berpihak kepada AS atau China.

"Kerja sama yang lebih erat dengan India memberi Malaysia mitra ekonomi dan keamanan penting lainnya tanpa mengharuskan Putrajaya untuk secara tegas memihak salah satu kubu," kata Kamles.

Putrajaya sendiri merupakan pusat administrasi pemerintahan federal Malaysia yang menggantikan Kuala Lumpur.

Selama ini, Malaysia memiliki ketergantungan ekonomi yang besar terhadap AS dan China. Nilai perdagangan dua arah Malaysia dengan kedua negara tersebut mencapai lebih dari 900 miliar ringgit atau sekitar AS$220 miliar pada 2025.

AS menjadi sumber investasi asing terbesar bagi Malaysia. Sementara itu, China memasok bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan industri Malaysia.

Kedua negara juga menjadi pembeli dan pemasok penting bagi industri semikonduktor Malaysia. Sektor tersebut menyumbang sekitar 13 persen kebutuhan global untuk perakitan, pengujian, dan pengemasan chip serta sekitar 7 persen dari pendapatan tahunan Malaysia.

Di sisi lain, hubungan ekonomi Malaysia dengan India masih belum berkembang.

Nilai perdagangan bilateral Malaysia dan India diperkirakan mencapai 79,3 miliar ringgit pada 2025. Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan nilai perdagangan Malaysia dengan AS dan China.

Malaysia dan India sebenarnya telah menandatangani kemitraan strategis komprehensif pada 2024. Namun, Malaysia masih belum memanfaatkan sepenuhnya potensi pasar India yang memiliki populasi lebih dari 1,4 miliar orang.

Lebih lanjut, Malaysia secara aktif memperkuat kemitraan lain untuk membantu menstabilkan posisinya di tengah-tengah kepentingan dua ekonomi terbesar di dunia, yaitu AS dan China.

"Memperkuat hubungan Malaysia-India dalam hal ini bukan hanya tentang menjauh dari China atau Amerika Serikat, tetapi lebih kepada memperluas pilihan dan posisi ekonomi serta strategis Malaysia, terutama untuk jangka panjang," kata mitra di firma penasihat strategis Densui yang berbasis di Kuala Lumpur, Eric Low.

Profesor ekonomi Universitas Sunway, Yeah Kim Leng, mengatakan Malaysia perlu memperkuat hubungan dengan pasar alternatif karena AS dan China menghadapi tekanan pertumbuhan serta persoalan struktural.

"Hubungan ekonomi Malaysia dengan India masih belum berkembang. Dengan melemahnya pertumbuhan dan meningkatnya masalah struktural yang dihadapi oleh AS dan Tiongkok, mencari pasar alternatif menjadi suatu keharusan yang mendesak," kata Yeah.

Ia mengatakan India menjadi salah satu pasar yang memiliki potensi besar bagi ekspor Malaysia.

"Selain meningkatkan perdagangan dan investasi dengan negara-negara anggota ASEAN, India adalah tetangga terdekat dengan potensi terbesar untuk meningkatkan ekspor Malaysia," ujarnya.

Sektor semikonduktor dinilai menjadi salah satu bidang yang dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.

Malaysia memiliki keunggulan dalam pengemasan dan pengujian chip, sedangkan India memiliki keahlian dalam desain sirkuit terpadu dan pengalaman dalam fabrikasi chip bagian depan.

Yeah mengatakan Malaysia berpeluang meningkatkan ekspor minyak sawit ke India. Malaysia juga dapat meningkatkan impor beras dari India untuk memperkuat ketahanan pangan.

Kerja sama kedua negara juga berpotensi meluas ke sektor pertahanan. Setelah bertemu Modi, Anwar menyatakan ketertarikan Malaysia untuk membeli sistem rudal udara-ke-permukaan BrahMos yang dikembangkan bersama India dan Rusia.

Pembelian tersebut dapat membantu Malaysia mengurangi ketergantungan terhadap AS atau negara-negara sekutu Washington dalam memenuhi kebutuhan pertahanannya.

Kamles mengatakan diversifikasi mitra pertahanan juga dapat mendukung upaya Malaysia mempertahankan otonomi strategis.

Namun, rencana tersebut berpotensi mempengaruhi persepsi China terhadap posisi Malaysia di Laut China Selatan.

"Mengingat jangkauan dan keserbagunaan rudal tersebut, hal itu juga dapat mempengaruhi persepsi tentang postur pencegahan Malaysia di Laut China Selatan," kata Kamles.

"Oleh karena itu, Putrajaya perlu mengkomunikasikan dengan jelas bahwa setiap akuisisi dimaksudkan untuk memperkuat pertahanan nasional, bukan untuk menargetkan negara tertentu," lanjut Kamles.

Para pengamat menilai Malaysia dapat menghadapi tekanan lebih besar dari AS dan China jika hubungan dengan India semakin erat. Ketiga negara tersebut merupakan kekuatan nuklir yang memperebutkan dominasi.

Namun, Kepala Eksekutif perusahaan penasihat kebijakan Strategic Counsel, Hafidzi Razali, mengatakan kondisi tersebut justru membuat Malaysia perlu mempertahankan kebijakan luar negeri yang berbasis prinsip dan non-blok.

"Malaysia selalu melindungi posisinya melalui diversifikasi dan mempertahankan posisi netral. Negara ini memperdalam hubungannya dengan negara-negara lain, seringkali secara paralel," kata Hafidzi, seperti dilaporkan SCMP.

(mge/rds)
placeholder