Peresmian pameran sementara di Museum Tibet, Dharamshala, pada 14 September 2026 berlangsung dengan penuh kekhidmatan.
Acara tersebut dihadiri oleh Sikyong Penpa Tsering selaku kepala pemerintah Tibet di pengasingan, para mantan tahanan politik, saksi mata warga asing, serta warga Tibet yang menjadi saksi sejarah pergolakan.
Prosesi menyalakan butter lamp dan pemotongan pita membuka ruang pameran yang dirancang khusus untuk mengingat kembali memori kelam dan perlawanan rakyat Tibet sepanjang tahun 1987 hingga 1989.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruang-ruang pameran membawa pengunjung merasakan kembali atmosfer Kota Lhasa pada tahun 1987. Saat itu, para biksu dari Biara Drepung dan Sera turun ke jalanan sembari membawa bendera Tibet dan menyerukan penolakan terhadap tatanan politik yang dipaksakan oleh Beijing.
Berdasarkan data yang belakangan diungkapkan oleh seorang pejabat China yang membelot, unjuk rasa tersebut meluas hingga mencakup lebih dari 150 gelombang demonstrasi di lebih dari 40 lokasi di seluruh Tibet.
Eskalasi ini memperlihatkan puncak konfrontasi antara masyarakat Tibet dan otoritas China, yang direspons dengan kekerasan militer yang kian memuncak.
Kisah saksi mata dan kekejaman aparat
Dua wisatawan asal Amerika Serikat, Dr. Blake Kerr dan John Ackerly, yang berada di Lhasa saat penindasan terjadi, memberikan kesaksian hidup yang menjadi bagian penting dalam pameran tersebut. Ackerly sempat ditangkap oleh polisi setelah mereka menemukan stiker bendera Tibet di tas kameranya.
Sementara itu, Dr. Kerr mengungkapkan ingatan mengerikan yang ia saksikan sendiri: para tahanan yang tangannya diikat sangat kencang hingga tulang sikunya patah, pemotongan lidah tahanan sebelum dieksekusi agar tidak dapat mengucapkan kata-kata terakhir, hingga truk-truk dengan pengeras suara yang menyusuri jalanan menyebarkan propaganda pasca-pengumuman Lima Poin Rencana Perdamaian oleh Dalai Lama pada September 1987.
Pemberontakan mencapai puncaknya pada 1 Oktober, yang bertepatan dengan Hari Nasional Republik Rakyat China. Asap membumbung di kawasan Barkhor dekat Candi Jokhang ketika para biksu Sera mengelilingi tempat suci tersebut sambil memekikkan slogan "Tibet Merdeka, Tiongkok Keluar dari Tibet."
Kerr mengenang bagaimana truk-truk polisi tiba dan para petugas memukuli warga Tibet secara brutal. Aparat keamanan melepaskan tembakan dari atap-atap bangunan dan jalanan. Seorang ayah terlihat menggendong putranya yang berusia 10 tahun yang tertembak di dada dan tewas beberapa detik kemudian.
Melalui lensa kamera, kedua warga Amerika ini mengabadikan para biksu yang membawa bendera, aksi penembakan oleh aparat dari posisi tinggi, serta penggerebekan yang merusak pemukiman warga.
Dokumentasi tersebut juga menyingkap penderitaan para perempuan Tibet yang menjadi sasaran program aborsi dan sterilisasi paksa, sebagaimana dikisahkan lewat pengalaman seorang warga bernama Rinchen.
Gelombang perlawanan ini bahkan berlanjut ke dalam penjara, di mana masa hukuman para tahanan politik sering kali diperpanjang karena aksi penentangan yang terus berjalan di balik jeruji besi. Setelah berhasil meninggalkan Tibet, Kerr dan Ackerly melakukan perjalanan ke Dharamshala untuk menyerahkan seluruh bukti foto dan kesaksian mereka secara langsung kepada Dalai Lama.
Konteks historis dan warisan perjuangan
Dalam pidato peresmiannya, Sikyong Penpa Tsering meletakkan peristiwa 1987-1989 dalam kerangka sejarah perlawanan Tibet yang lebih luas. Ia merujuk pada invasi militer Tiongkok ke wilayah Tibet timur pada era 1950-an, penandatanganan Perjanjian 17 Poin tahun 1951 di bawah tekanan, serta kehancuran budaya pada dekade-dekade berikutnya.
Penpa Tsering secara khusus menyebutkan "Petisi 70.000 Kata" yang disusun oleh Panchen Lama ke-10 sebagai salah satu kritik internal paling mendalam terhadap kebijakan Partai Komunis China yang pernah ditulis oleh seorang pemimpin Tibet.
Ia juga menguraikan masa-masa awal pengasingan di India, pembentukan komunitas di Dharamshala, serta perjalanan diplomasinya yang dilakukan oleh Dalai Lama ke luar negeri sejak tahun 1967. Kehadiran para pengunjung asing di Lhasa pada tahun 1987 dan 1988 dinilai berperan besar dalam membawa narasi penindasan tersebut ke dunia internasional, yang memicu kembali perhatian global terhadap isu Tibet.
Pameran di Museum Tibet ini kini berfungsi sebagai media edukasi penting bagi generasi muda Tibet dan pengunjung mancanegara untuk memahami atmosfer pemberontakan, keberanian rakyat yang terlibat, serta skala kekerasan yang mereka hadapi demi mempertahankan identitas dan kebebasan mereka.

