Kolombia Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran, Apa Alasannya?

CNN Indonesia
Jumat, 25 Sep 2026 16:35 WIB
A Colombian flag waves during the closing campaign rally of Colombia's presidential candidate Abelardo de la Espriella, of the Defensores de la Patria party, in Medellin, Colombia on May 24, 2026. Colombia will hold presidential elections on May 31.
Kolombia resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran yang berlaku sejak 19 September 2026. (Foto: AFP/JAIME SALDARRIAGA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kolombia resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Kolombia mengatakan keputusan tersebut berlaku sejak 19 September 2026.

Dalam pernyataan yang diumumkan pada Kamis (24/9), Kolombia menyatakan keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan "keamanan nasional dan regional" serta upaya memerangi kejahatan transnasional.

Bogota juga menyoroti dugaan keterkaitan pemerintah Iran dengan kelompok teroris dan narkoteroris yang disebut mengancam keamanan Kolombia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kolombia juga menyebut sejumlah alasan lain, termasuk pelanggaran hak asasi manusia yang disebut telah terkonfirmasi, serangan terhadap negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik di Timur Tengah, serta blokade Selat Hormuz.

"Kolombia juga mempertimbangkan pelanggaran hak asasi manusia yang telah dikonfirmasi, serangan yang telah diverifikasi terhadap negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah, blokade Selat Hormuz," kata Kemlu Kolombia seperti dikutip Anadolu Agency.

Kemlu Kolombia turut menyoroti tindakan otoritas Iran yang disebut menghambat upaya Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memverifikasi cakupan program nuklir Iran.

"Penghambatan yang dilakukan oleh pihak berwenang terhadap upaya Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memverifikasi cakupan program nuklir Iran," kata Kemlu Kolombia.

Menurut Kemlu Kolombia, berbagai persoalan tersebut telah mengikis kepercayaan pemerintah terhadap Iran.

"Fakta-fakta ini memperburuk kepercayaan Kolombia terhadap pemerintah Republik Islam Iran," tambahnya.

Keputusan tersebut diambil di bawah pemerintahan Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella yang mulai menjabat pada Agustus.

Sejak berkuasa, pemerintahannya juga mengubah sejumlah arah kebijakan luar negeri Kolombia, termasuk mempercepat upaya memulihkan hubungan dengan Israel.

Langkah itu berbeda dengan kebijakan pendahulunya, Gustavo Petro, yang mengambil sikap keras terhadap Israel terkait perang di Gaza.

(rds)
placeholder