Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu gagal bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pada Kamis (24/9).
Selama kunjungannya di New York, Netanyahu tidak memiliki agenda pertemuan dengan Trump maupun sejumlah tokoh politik Amerika Serikat lainnya.
Trump bahkan dilaporkan enggan menemui Netanyahu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Jurnalis Times of Israel Lazar Berman sebelumnya melaporkan Netanyahu berusaha mengatur pertemuan dengan Trump. Namun, presiden AS itu "tampaknya tak bersedia mewujudkan."
Pertemuan yang sebelumnya direncanakan dengan Elon Musk juga dibatalkan.
Jadwal Netanyahu justru mencakup pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara lain. Ia dijadwalkan bertemu Presiden Argentina, Bolivia, Paraguay, Panama, dan Ethiopia, serta wakil presiden Kolombia.
Selain itu, ia dijadwalkan bertemu dengan perdana menteri Yunani, Slovenia, dan Papua Nugini.
Kantor Perdana Menteri Israel sebelumnya mengeklaim banyak pemimpin dunia meminta bertemu Netanyahu. Namun, hanya sebagian yang dapat diakomodasi karena keterbatasan waktu dalam kunjungan singkatnya ke New York.
Kondisi tersebut terjadi ketika Israel menghadapi tekanan diplomatik yang semakin besar dari negara-negara Barat menyusul agresi brutalnya terhadap Palestina, terutama di Jalur Gaza.
Makin dijauhi sekutu
Isolasi internasional terhadap Israel terus meningkat setelah beberapa negara, termasuk Prancis, Inggris, dan Kanada, mengakui Negara Palestina pada Sidang Umum PBB tahun lalu di tengah serangan Israel di Gaza.
Di sisi lain, Netanyahu kini berada dalam tekanan politik lantaran berupaya mempertahankan jabatannya menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober mendatang.
Netanyahu mesti meyakinkan publik Israel dan politikus negaranya sekali lagi di tengah isu perang dengan Hamas dan Iran yang cukup menguras tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahannya.
Menjelang pemilu, Israel bergerak untuk melanjutkan proyek permukiman E1 di Tepi Barat, Palestina.
Proyek tersebut dirancang untuk menghubungkan sejumlah pemukiman Israel dan memisahkan Yerusalem Timur dari wilayah Tepi Barat lainnya.
Rencana tersebut mendapat penolakan dari sejumlah negara Barat, terutama Inggris.
Beberapa dari 12 negara Barat, termasuk Inggris, Prancis, dan Kanada, bahkan memberlakukan sanksi terhadap pemukiman Yahudi ilegal di Tepi Barat. Sementara, beberapa negara lainnya mengisyaratkan kemungkinan mengambil langkah serupa.
Sebagai tanggapan terhadap sanksi London, Israel memutuskan untuk menutup Konsulat Inggris yang melayani warga Palestina di Yerusalem Timur.
Tel Aviv juga mengusir perwakilan Inggris dari kota Kiryat Gat serta mengakhiri partisipasi keterlibatan Inggris dalam pelatihan pasukan keamanan Otoritas Palestina.
Israel turut melarang 12 warga negara Inggris memasuki wilayahnya. Sebagian besar dari mereka merupakan anggota parlemen.
Pada Kamis (24/9) pagi, Netanyahu berangkat ke New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB. Kunjungan tersebut diperkirakan hanya berlangsung beberapa jam.
Sebelum keberangkatan Netanyahu, media Israel melaporkan bahwa pemerintah berupaya mengatur pertemuan dengan sejumlah pemimpin dunia. Namun, laporan tersebut menyebut agenda itu sulit diwujudkan.
Netanyahu juga diperkirakan menghadapi aksi demonstrasi di New York, seperti yang terjadi dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya.
Mantan duta besar Israel dan mantan sekretaris Kementerian Luar Negeri Israel, Alon Liel, menilai kunjungan Netanyahu kali ini berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya.
Menurutnya, martabat seorang perdana menteri Israel benar-benar jatuh dalam pertemuan PBB kali ini.
"Belum pernah ada kunjungan yang begitu memalukan ke PBB bagi seorang perdana menteri Israel," kata Liel kepada AnadoluAgency.
Menurut Liel, reputasi internasional Israel memburuk sejak perang yang dimulai pada Oktober 2023. Ia mengatakan bahwa pengakuan negara Palestina oleh negara-negara Barat tahun lalu memberikan pukulan yang lebih besar daripada sanksi terhadap pemukiman Yahudi ilegal di Tepi Barat.
"Dibandingkan dengan sebelum 7 Oktober 2023, kita berada dalam posisi yang jauh lebih lemah secara internasional, termasuk di Timur Tengah," kata Liel.
Liel juga menyoroti tidak adanya pertemuan Netanyahu dengan pejabat Amerika Serikat dalam kunjungan kali ini.
"Netanyahu bisa bertemu dengan para pemimpin Argentina dan Yunani, tetapi dia tidak bisa bertemu dengan politisi atau pejabat Amerika mana pun," kata Liel.
Menurut Liel, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap Netanyahu tidak hanya datang dari negara-negara Eropa, tetapi juga terlihat di Amerika Serikat.
"Ini berarti bukan hanya orang Eropa tetapi juga orang Amerika menghindarinya. Saya pikir ini adalah pukulan besar karena satu-satunya negara yang bisa dikunjungi Netanyahu di dunia adalah AS," tambahnya.
Liel juga berpendapat bahwa posisi masa depannya akan bergantung pada apakah "sayap kanan" tetap berkuasa.
Selain itu, Liel mengatakan Netanyahu telah mencapai titik "bahkan di AS, dia tidak lagi merasa nyaman". Ia juga menambahkan bahwa Netanyahu tidak dapat mendarat atau menginap di New York.
Netanyahu dilaporkan tidak akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy di New York. Pesawatnya diperkirakan menggunakan lapangan terbang militer di New Jersey.
Sejumlah laporan menyebut faktor keamanan, logistik, dan potensi aksi demonstrasi menjadi pertimbangan terkait perubahan lokasi pendaratan tersebut.
Liel menilai tidak adanya agenda dengan pejabat Amerika Serikat, potensi demonstrasi, serta kritik terhadap Israel di Sidang Umum PBB membuat kunjungan Netanyahu kali ini berbeda.
"Ini jelas bukan kunjungan biasa. Keberatan politik terhadapnya, pidato-pidato anti-Israel di PBB, dan situasi keamanan bukanlah hal yang normal," kata Liel.
"Bahkan di AS, Netanyahu bertindak seperti orang yang tidak diinginkan," lanjutnya.