Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih enggan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pezeshkian mengatakan bahwa pertemuan dengan Trump sulit dilakukan selama AS masih memberikan tekanan terhadap Iran, termasuk melalui sanksi dan ancaman serangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam wawancara dengan Margaret Brennan dalam program Face the Nation CBS, Pezeshkian menyebut hubungan Iran dan AS kini diliputi ketidakpercayaan.
Ia mengatakan ketidakpercayaan tersebut muncul setelah serangkaian perundingan antara kedua negara yang menurutnya tidak berujung pada pelaksanaan kesepakatan.
Ia juga menegaskan "ada atmosfer ketidakpercayaan yang telah berkembang antara Iran dan Amerika Serikat."
Pezeshkian menyinggung kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai Iran dan AS. Menurut dia, Washington tidak menjalankan kesepakatan yang telah dituangkan secara tertulis.
"Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka," ujar Pezeshkian.
Ia kemudian menjelaskan sejumlah tindakan AS yang menurutnya membuat Teheran semakin sulit mempercayai Washington.
"Setiap hari, mereka meningkatkan sanksi terhadap kami. Setiap hari, mereka mengancam kami, menyerang kami, dan mereka tidak menghormati apa yang telah mereka tulis. Jadi, jika mereka terlibat pembicaraan, apakah mereka akan benar-benar menindaklanjutinya?" lanjutnya.
Menurut Pezeshkian, persoalan kepercayaan perlu diselesaikan terlebih dahulu sebelum pertemuan langsung dengan Trump dapat dilakukan. Iran, kata dia, perlu mengetahui tujuan pembicaraan dan memastikan kesepakatan yang nantinya dicapai benar-benar akan dipatuhi.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan terbuka untuk bertemu dengan pejabat Iran di New York. Pezeshkian dan sejumlah pejabat Iran memang berada di kota tersebut untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-81.
Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB, Trump juga mengatakan dirinya memiliki "keputusan besar" terkait apakah akan membuat kesepakatan dengan Iran atau menghancurkan negara tersebut.
Di tengah kebuntuan tersebut, Iran pekan ini mengajukan proposal kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun AS belum memberikan tanggapan resmi terhadap proposal Iran.
(anm/bac)


