Tim peneliti menemukan pecahan tembikar yang diduga berasal dari masa sebelum banjir Nabi Nuh dalam tradisi keagamaan Abrahamik di kawasan formasi Durupinar, dekat Gunung Agri atau Ararat, Turki.
Temuan tersebut masih menunggu hasil analisis laboratorium untuk memastikan usia material dan kaitannya dengan dugaan keberadaan struktur kayu di bawah tanah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian lapangan yang dipimpin Profesor Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University itu berlangsung sekitar 90 hari di dekat Dogubayazit, Provinsi Agri. Tim melibatkan 20 ilmuwan dari lima negara.
Selain pecahan tembikar, peneliti mengambil sampel tanah dan inti tanah dari sejumlah titik untuk diperiksa di laboratorium. Sampel inti tanah tersebut telah dikirim ke Ankara untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Atila mengatakan analisis terhadap material organik dan kemungkinan sisa kayu menjadi bagian penting untuk menentukan apakah terdapat struktur yang menyerupai kapal di bawah permukaan tanah.
"Material organik dan sisa kayu akan memberikan data yang sangat penting bagi kami. Dengan penanggalan karbon yang akan kami lakukan terhadap material organik, kami akan memahami apakah benar-benar ada kapal di sini," kata Atila, melansir Turkiye Today.
Pemindaian menggunakan radar
Sebelum mengambil sampel, tim melakukan pemetaan menggunakan sistem GPS serta survei dua dan tiga dimensi. Peneliti kemudian melakukan pemindaian radar terhadap area bawah tanah.
Menurut Atila, pemindaian radar membantu tim menentukan lokasi yang dinilai perlu diambil sampelnya. Dari proses tersebut, peneliti mengumpulkan sekitar 1.000 sampel tanah dari 150 lokasi di kawasan penelitian.
Formasi Durupinar merupakan bentang alam alami di dekat Gunung Agri yang selama ini menjadi perhatian dalam pencarian lokasi yang dikaitkan dengan Bahtera Nabi Nuh. Penelitian kali ini berfokus pada material bawah tanah untuk melihat apakah terdapat bukti fisik yang berkaitan dengan struktur tersebut.
Peneliti juga menemukan pecahan tembikar di sekitar lokasi pengambilan sampel tanah. Mereka menduga tembikar tersebut berasal dari masa sebelum banjir yang disebut dalam tradisi Nabi Nuh. Namun, dugaan tersebut belum dikonfirmasi dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Tim peneliti akan melanjutkan pemeriksaan terhadap material organik dan kemungkinan sisa kayu menggunakan metode penanggalan karbon. Hasil analisis tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai usia material yang ditemukan.
Atila mengatakan hasil penelitian selama musim dingin diharapkan dapat memberikan bukti yang lebih jelas. Penelitian di kawasan tersebut juga direncanakan berlanjut dalam beberapa tahun mendatang.
"Kami akan mendapatkan bukti definitif sepanjang musim dingin. Jika Bahtera Nabi Nuh benar-benar ada, kita dapat mengatakan bahwa tempatnya adalah formasi Durupinar," ujarnya.
Meski demikian, temuan pecahan tembikar maupun sampel bawah tanah tersebut belum membuktikan keberadaan Bahtera Nabi Nuh. Kesimpulan mengenai usia dan asal material masih menunggu hasil analisis laboratorium.
(del/bac)


