Hujan deras dengan intensitas ekstrem memicu gelombang banjir bandang dan tanah longsor di wilayah utara India serta Nepal. Bencana alam ini menewaskan sedikitnya 68 orang dalam kurun waktu tiga hari terakhir.
Di negara bagian Uttar Pradesh, India, Badan Penanggulangan Bencana setempat mengonfirmasi bahwa 56 orang tewas dan lebih dari 1.000 unit rumah mengalami kerusakan parah akibat terjangan air dan material longsor.
Sementara itu, Nepal yang baru saja berjuang dari dampak banjir dahsyat pada akhir Agustus lalu, kembali dihantam gelombang susulan yang menewaskan 12
orang sejak Kamis (24/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak Kamis, 12 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana yang dipicu hujan deras seperti banjir dan tanah longsor," ungkap juru bicara badan penanganan bencana Nepal, Shanti Mahat, melansir AFP. Ia menambahkan bahwa tujuh warga lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang.
Uttar Pradesh yang dihuni oleh lebih dari 240 juta jiwa mencatatkan curah hujan mencapai 66,5 milimeter sejak Jumat (25/9) lalu, melonjak tajam dari rata-rata musiman yang biasanya hanya berada di angka 7,6 milimeter.
Lonjakan curah hujan ekstrem ini dipicu oleh fenomena depresi atmosfer di Teluk Benggala yang bergerak melintasi daratan.
Selain merusak pemukiman warga, banjir merusak areal pertanian secara luas di India, memicu kekhawatiran para petani akan penundaan masa tanam mendatang.
Di negara bagian Odisha, India bagian timur, meluapnya sungai-sungai utama memaksa otoritas setempat mengungsikan lebih dari 70 ribu warga yang tinggal di kawasan dataran rendah, mengutip laporan NDTV.
Kerusakan pada jembatan dan gorong-gorong juga memaksa pemerintah menutup sementara kawasan wisata populer Devkund guna mencegah timbulnya korban jiwa tambahan.
Para ilmuwan telah berulang kali memperingatkan bahwa fenomena cuaca ekstrem di kawasan Asia Selatan terus meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir akibat kenaikan suhu global serta perubahan pola iklim yang drastis.
(wiw)