Istri Wafat di Usia 100 Tahun, Mahathir Pernah Beber Tips Panjang Umur

CNN Indonesia
Senin, 28 Sep 2026 14:35 WIB
Eks PM Malaysia Mahathir Mohamad dan mendiang istrinya Siti Hasmah Mohamed Ali pada Mei 2007 lalu. Foto: Bernama / AFP
Jakarta, CNN Indonesia --

Istri mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad, Tun Dr Hasmah Mohamad Ali, meninggal dunia pada usia 100 tahun, Senin (28/9).

Hasmah wafat sekitar pukul 09.20 waktu setempat, lapor Malaymail.

Sebelumnya, Mahathir pernah berbicara mengenai rahasia panjang umurnya dan sang istri. Dalam wawancara dengan Nikkei Asia yang diterbitkan pada November 2024, ia mengatakan kuncinya adalah menjalani hidup secara sederhana, terutama dalam hal makanan.

"Saya tidak makan terlalu banyak. Obesitas tidak baik untuk kelangsungan hidup," kata Mahathir, seperti dilaporkan Business Insider.

Menurut Mahathir, usia seseorang tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga kondisi tubuh dan kemampuannya untuk tetap berfungsi.

"Usia tidak mengikuti waktu. Usia mengikuti kesehatan tubuh - cara Anda dapat berfungsi. Karena itu, usia tua bukanlah karena waktu; bukan berarti Anda tua karena berusia 60 tahun. Anda mungkin berusia 90 tahun, tetapi jika orang berusia 90 tahun masih kuat, masih mampu bekerja dan berfungsi, maka 90 tahun bukanlah usia tua," katanya.

Mahathir juga mengatakan pandangan mengenai usia tua berubah dari waktu ke waktu.

"Saat ini, usia 60 atau 65 tahun dianggap tua, tetapi kita harus ingat bahwa di masa lalu, usia 30 tahun sudah dianggap tua. Pada zaman Julius Caesar, para pemimpin baru berusia 30-an karena mereka meninggal di usia yang sangat muda," katanya.

Saat memasuki usia 70-an hingga mendekati 80 tahun, Mahathir mengaku pernah mengira dirinya tidak akan mampu bekerja dengan baik lagi. Namun, setelah pensiun, ia menyadari masih bisa bekerja dan menjalankan berbagai aktivitas.

Selain menjaga pola makan, Mahathir juga mengatakan pentingnya menjaga rutinitas bangun pagi yang teratur untuk mendukung energi, pemulihan, dan performa jangka panjang.

Mahathir juga pernah menyampaikan bahwa masyarakat sebaiknya tidak buru-buru menyingkirkan pekerja yang lebih tua. Menurut dia, orang-orang yang lebih tua memiliki pengalaman yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan kerja.

"Jika Anda mempertahankan orang-orang yang lebih tua dalam angkatan kerja dan mengizinkan mereka untuk terus bekerja alih-alih pensiun terlalu dini, Anda dapat memperoleh manfaat dari pengalaman mereka," kata Mahathir.

[Gambas:Video CNN]

Pengalaman panjang tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan politik Mahathir. Ia pertama kali menjabat sebagai perdana menteri Malaysia pada 1981 hingga 2003. Mahathir kemudian kembali ke politik nasional pada 2018 untuk menghadapi pemerintahan Najib Razak di tengah skandal 1MDB.

Pada usia 92 tahun, ia kembali terpilih sebagai perdana menteri dan menjadi salah satu pemimpin nasional terpilih tertua di dunia.

Ia menjabat untuk kedua kalinya hingga 2020. Mahathir kemudian pernah mengatakan menyesal mengundurkan diri pada 2003 karena saat itu usianya bahkan belum mencapai 80 tahun.

Jumlah penduduk berusia 80 tahun ke atas di dunia sendiri diperkirakan terus meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan akan meningkat tiga kali lipat antara tahun 2020 dan 2050 hingga mencapai 426 juta jiwa di seluruh dunia.

(mge/dna/bac)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK