Netanyahu Minta Presiden UEA Tutupi Perihal Peringatan Serangan Hamas

CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2026 14:35 WIB
FILE PHOTO: Israel's Prime Minister Benjamin Netanyahu addresses the 79th United Nations General Assembly at U.N. headquarters in New York, U.S., September 27, 2024.  REUTERS/Eduardo Munoz/File Photo
PM Benjamin Netanyahu meminta Presiden UEA membantah laporan bahwa ia telah memperingatkan Israel soal kemungkinan serangan Hamas sebelum 7 Oktober 2023. (Foto: REUTERS/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed bin Zayed Al Nahyan, membantah laporan bahwa ia telah memperingatkan Netanyahu soal kemungkinan serangan Hamas sebelum 7 Oktober 2023.

Permintaan itu disampaikan dalam pertemuan rahasia keduanya pada Minggu (27/9), menurut laporan surat kabar Israel, Haaretz, Senin (28/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Netanyahu meminta Mohamed membantah laporan mengenai percakapan telepon mereka, serta sejumlah detail sebelum serangan 7 Oktober yang dinilai "dapat mempermalukan dirinya", lapor Haaretz.

Netanyahu juga disebut meminta apa yang digambarkan salah satu sumber sebagai "dukungan moral" dari pemimpin UEA tersebut.

Menurut dua sumber yang mengetahui perjalanan itu, Netanyahu bertemu dengan Mohamed selama sekitar satu jam.

Namun, pemerintah Israel dan UEA belum secara resmi mengkonfirmasi kunjungan tersebut.

Laporan mengenai pertemuan itu muncul di tengah kontroversi soal dugaan peringatan intelijen yang diterima Netanyahu sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Pada Jumat, The New York Times melaporkan bahwa Netanyahu telah menerima peringatan rahasia dari Presiden UEA sebelum serangan tersebut. Namun, informasi itu disebut tidak diteruskan kepada para kepala keamanan Israel.

Netanyahu telah memimpin pemerintahan Israel saat ini sejak akhir 2022.

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Sejak 8 Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan lebih dari 175.000 lainnya terluka. Sebagian besar korban disebut perempuan dan anak-anak.

Sekitar 90 persen infrastruktur di Gaza juga dilaporkan mengalami kerusakan, seperti dilaporkan Middle East Monitor.

(mge/rds)
placeholder