China Bangun Kehadiran Militer Baru di Asia Tenggara

CNN Indonesia
Rabu, 30 Sep 2026 20:00 WIB
Ilustrasi bendera China. Foto: istockphoto/blackred
Jakarta, CNN Indonesia --

China membangun pusat pelatihan dan akademi penerbangan di Asia Tenggara di tengah upaya Beijing meningkatkan kehadiran militer di kawasan tersebut.

Kementerian Pertahanan Nasional China melaporkan Pusat Dukungan dan Pelatihan Gabungan China-Laos serta Akademi Penerbangan Persahabatan China-Laos resmi beroperasi pada Selasa (29/9) di sebuah bandara yang terletak di Ban Keun.

Para analis mewanti-wanti bahwa pusat pelatihan dan akademi ini ditujukan untuk memperkuat kehadiran Beijing di Asia Tenggara.

"Fakta bahwa ini merupakan pusat dukungan dan pelatihan gabungan menunjukkan bahwa (Tentara Pembebasan Rakyat China/PLA) mungkin berupaya mendapatkan akses tetap ke pusat logistik yang dapat mendukung pasukan yang bergiliran bertugas di Laos," kata analis senior di Australian Strategic Policy Institute, Rachel Vandenbrink, kepada Reuters.

Ini merupakan ekspansi terbaru militer China di ASEAN. Pembangunan pusat pelatihan dan akademi ini dimulai tahun lalu, tepatnya pada akhir 2025.

Menurut beberapa catatan, area ini pernah digunakan oleh Amerika Serikat (AS) selama perang di Laos dan negara tetangganya, yakni Vietnam dan Kamboja, pada tahun 1960-an dan 1970-an.

Namun, pusat pelatihan dan akademi China ini dibangun jauh lebih besar dibandingkan pangkalan AS kala itu, berdasarkan jejak yang terlihat hingga tahun lalu di citra satelit.

Selain di Laos, China mengoperasikan pusat pelatihan dan dukungan di pangkalan angkatan laut Ream di Kamboja. China juga memiliki pangkalan logistik di Djibouti.

Berdasarkan keterangan Kamboja, tidak ada personel atau kapal perang China yang ditempatkan secara permanen di Ream.

"Tidak seperti Pangkalan Angkatan Laut Ream, pangkalan logistik militer di Laos ini tampak lebih mirip dengan yang ada di Djibouti," tulis Collin Koh, pakar keamanan di S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura, dalam unggahan media sosial X.

"Mungkin tidak salah untuk menyimpulkan bahwa ini adalah pangkalan luar negeri PLA pertama yang beroperasi penuh di Asia Tenggara."

Laos adalah negara satu partai yang diperintah oleh Partai Revolusioner Rakyat Laos. Negara ini memiliki sejarah panjang dan kompleks dengan negara-negara tetangganya yang komunis, yaitu China dan Vietnam.

Angkatan udara Laos kecil dan mengoperasikan sejumlah pesawat yang dirancang China dan Rusia.

Pasukan Laos biasanya perlu melakukan perjalanan ke Vietnam, Rusia, dan China untuk pelatihan tingkat lanjut, tetapi sekarang beberapa di antaranya dapat dilatih di dalam negeri, menurut seorang diplomat dari Asia Tenggara.

Diplomat tersebut menambahkan bahwa China belakangan memang telah memperluas kehadiran militernya di ASEAN, termasuk di Indonesia, yang akan mendirikan pabrik amunisi bersama Beijing.

Para atase militer dan analis regional telah lama mengatakan bahwa China kekurangan jaringan pangkalan militer yang memadai mengingat modernisasi militer yang sedang berlangsung dan kebutuhan yang dirasakan untuk memproyeksikan kekuatan guna bersaing dengan Amerika Serikat.

Vandenbrink sejauh ini belum bisa menilai kekuatan militer apa yang dapat diproyeksikan China dari Laos.

"Di Ban Keun, signifikansi yang lebih mendesak mungkin adalah kemampuan China untuk membangun kehadiran militer yang berkelanjutan dan memperdalam hubungan kelembagaannya dengan angkatan bersenjata Laos," katanya.

Kementerian Pertahanan China telah merespons pertanyaan mengenai fasilitas ini.

Kementerian mengeklaim fasilitas ini akan digunakan untuk melatih pilot angkatan udara dan "tidak ditujukan terhadap pihak ketiga mana pun."

Kementerian Luar Negeri Laos sementara itu tidak menanggapi permintaan komentar.

[Gambas:Video CNN]

(blq/dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK