Wahana roller coaster X2 di taman hiburan Six Flags Magic Mountain, California, Amerika Serikat, ditutup secara permanen setelah puluhan orang mengaku mengalami cedera, termasuk kerusakan otak, saat menaikinya.
Keputusan itu diambil setelah sejumlah pengunjung melaporkan cedera serius. Dua wanita bahkan harus menjalani operasi otak darurat setelah menaiki wahana tersebut pada Juli.
X2 merupakan salah satu wahana populer di Six Flags Magic Mountain yang berada di Valencia, sebelah utara Los Angeles. Wahana ini menawarkan sensasi meluncur dengan kecepatan hingga 130 kilometer per jam, melewati turunan curam dan tikungan tajam. Kursinya juga dapat berputar 360 derajat selama gerbong melaju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, di balik sensasi tersebut, X2 menghadapi serangkaian gugatan hukum terkait dugaan cedera yang dialami para penumpangnya.
Pamela Guillen (40) mengalami hematoma subdural parah dan kompresi otak setelah menaiki X2 pada 5 Juli.
Keluarganya mengatakan kepada CNN bahwa Guillen harus menjalani operasi darurat. Dokter bahkan terpaksa mengangkat sebagian tengkoraknya untuk menangani kondisinya.
Insiden serupa menimpa Naomi Greer Wilkinson (25), warga Los Angeles, kurang dari sepekan kemudian. Ia kehilangan kesadaran setelah menaiki X2 dan harus menjalani operasi otak darurat.
Menurut orang tuanya, Wilkinson sempat mengalami koma selama berminggu-minggu. Hingga kini, ia masih belum bisa berbicara ataupun bernapas sendiri.
Wahana tersebut telah berhenti beroperasi tidak lama setelah insiden kedua. Pada Selasa (28/9), pengelola Six Flags Magic Mountain akhirnya mengumumkan penutupan X2 secara permanen.
Presiden Six Flags Magic Mountain, Brian Oerding, mengatakan keputusan itu diambil setelah wahana tersebut beroperasi selama hampir 20 tahun.
"Setelah hampir 20 tahun, kami telah memutuskan untuk menghentikan operasi X2 secara permanen," kata Oerding.
Ia menyebut X2 telah menarik lebih dari 16 juta pengunjung sejak pertama kali dibuka pada 2008. Wahana tersebut juga memiliki basis penggemar setia, khususnya di kalangan pencinta wahana ekstrem.
Oerding mengatakan X2 secara konsisten lolos berbagai pengujian keselamatan. Meski demikian, pengelola tetap memilih menutup wahana itu secara permanen.
"Kami telah memutuskan untuk menutup wahana tersebut karena kami yakin itulah langkah yang tepat. Keselamatan wahana merupakan landasan utama bisnis kami, dan ketika kami melihat kepercayaan pengunjung terganggu, kami menanggapinya dengan serius," ujarnya.
Sementara itu, pengacara dari Dordick Law yang mewakili Wilkinson mengaku telah menerima laporan dari lebih dari 100 orang yang mengklaim mengalami cedera setelah menaiki X2.
Pengacara Christopher Bulone menilai desain wahana tersebut memiliki risiko yang tidak mudah diperkirakan oleh penumpang.
"Desain wahana ini membuatnya secara inheren berbahaya, dan berbahaya dengan cara yang tidak akan pernah diduga oleh penumpang yang berakal sehat," kata Bulone kepada wartawan.
Operator taman hiburan Six Flags, yang mengelola berbagai taman hiburan di Amerika Utara, tidak memberikan komentar terkait gugatan hukum yang masih berlangsung.
Kasus hukum terkait X2 juga melibatkan insiden yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Pada Agustus, Six Flags dan produsen wahana S&S Worldwide Inc. mencapai kesepakatan damai dengan keluarga Christopher Hawley (22), yang meninggal dunia setelah menaiki X2 pada 2022.
Selain itu, gugatan lain dijadwalkan menjalani persidangan pada tahun depan. Sheila Katerelos (56) menuduh dirinya mengalami cedera otak traumatis setelah menaiki X2 pada 2020.
(mge/dna)


