Trump Cari Tahu ke Putin soal Peneliti Wabah Pes Rusia Meninggal
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan segera berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait wabah pes atau plague yang menyebar di Siberia timur setelah kematian seorang peneliti laboratorium wabah di Irkutsk.
Trump mendesak Rusia bersikap transparan terkait kasus wabah pes ini.
Lihat Juga :KILAS INTERNASIONAL Israel Siap Serang Iran Tanpa AS sampai Peneliti Wabah Rusia Meninggal |
"Saya memang memiliki jadwal panggilan, ya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih ketika ditanya apakah ia sudah berbicara dengan Putin mengenai masalah tersebut, Selasa (6/10).
Trump memastikan percakapannya dengan Putin soal ini akan berlangsung "segera."
Pihak berwenang Rusia membantah bahwa mereka memberlakukan langkah-langkah penanggulangan wabah pes dan mengecilkan laporan mengenai insiden yang terjadi di institut penelitian wabah pes di wilayah Irkutsk, Siberia, pekan lalu, ini.
Namun, Washington menunjukkan kekhawatiran yang semakin besar. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyerukan agar Rusia terbuka mengenai situasi tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyampaikan seruan serupa pada Selasa.
"Kami mendorong Rusia untuk transparan dan berbagi lebih banyak informasi dengan dunia sehingga kita semua dapat merespons secara tepat dan sesuai," kata Rubio saat melakukan kunjungan ke Islandia seperti dikutip AFP.
"Bergantung pada apa yang kami ketahui mengenai hal ini, kami akan memahami bagaimana harus merespons," papar Rubio menambahkan.
Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan Kementerian Luar Negeri AS telah mengirimkan komunikasi diplomatik rahasia yang dikenal sebagai demarche kepada Rusia soal ini.
Pesan diplomatik itu disebut sebagai peringatan terhadap Moskow bahwa kegagalan mengungkapkan informasi secara terperinci bertentangan dengan kewajiban internasionalnya di bidang kesehatan.
Media Rusia People of Baikal melaporkan pada Jumat bahwa peneliti perempuan yang meninggal tersebut diduga tertular wabah pes pneumonik akibat pecahnya tabung reaksi.
Peneliti tersebut diidentifikasi sebagai Darya Shipilova, 28 tahun.
Sejumlah media lain melaporkan kemungkinan ada kaitan antara kematiannya dan kecelakaan laboratorium di fasilitas tersebut.
People of Baikal juga melaporkan bahwa hingga 200 orang yang kemungkinan melakukan kontak dengannya telah menjalani karantina.
Namun, pihak berwenang Rusia mengatakan penyebab kematian belum dikonfirmasi. Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, juga membantah klaim yang beredar dalam sebuah dokumen di internet bahwa langkah-langkah khusus telah diberlakukan.
"Kami ingin menegaskan bahwa dokumen dan informasi yang dimaksud tidak berasal dari sumber resmi dan tidak benar," kata badan tersebut melalui Telegram.
Pejabat Rusia mengatakan pemeriksaan setelah kematian tidak mendeteksi penyakit tersebut.
Sementara itu, Gubernur Oblast Irkutsk Igor Kobzev mengatakan pada Senin bahwa pemeriksaan oleh Rospotrebnadzor menemukan perempuan tersebut meninggal akibat pneumonia dan penyebabnya "belum dapat ditentukan."
"Tidak ditemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaan profesional perempuan muda tersebut dalam sampel biologisnya," katanya. Ia menambahkan bahwa tidak ada staf lain di institut tersebut yang mencari pertolongan medis sejak kematiannya.
(rds)