Geger Puluhan Anggota Parlemen Eropa Jadi Sasaran Deepfake Pormografi

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 16:00 WIB
Ilustrasi bendera Uni Eropa. Foto: AFP/Francois Walschaerts
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebanyak 50 anggota Parlemen Eropa menjadi sasaran deepfake pornografi. Dari jumlah tersebut, 46 di antaranya merupakan perempuan.

Temuan itu berasal dari laporan terbaru kelompok masyarakat sipil asal Jerman, Agora Digitale Transformation, yang dirilis pada Senin (5/10).

Berdasarkan penelitian tersebut, sekitar satu dari enam anggota Parlemen Eropa perempuan telah digambarkan atau dikaitkan dengan konten deepfake pornografi. 

Deepfake pornografi merupakan konten seksual eksplisit yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) tanpa persetujuan orang yang menjadi sasaran.

"Gambar intim tanpa persetujuan yang dihasilkan AI (AIG-NCII), yang secara umum dikenal sebagai deepfake pornografi, merupakan ancaman sistemik bagi perempuan dalam politik Eropa," demikian bunyi laporan tersebut.

Dalam penelitiannya, Agora Digitale Transformation memeriksa ratusan situs yang diketahui memuat atau memproduksi konten seksual berbasis AI. Situs tersebut mencakup platform yang berkaitan dengan deepfake pornografi, kebocoran foto selebritas, hingga gambar tidak pantas yang menampilkan perempuan di ruang publik.

Peneliti kemudian menelusuri nama 720 anggota Parlemen Eropa di sekitar 200 situs menggunakan mesin pencari khusus Google.

Hasilnya, peneliti menemukan 50 anggota parlemen yang digambarkan atau dikaitkan dengan deepfake pornografi. Sebanyak 46 merupakan perempuan, sedangkan empat lainnya laki-laki.

"Analisis baru kami menunjukkan 50 anggota Parlemen Eropa di antaranya 46 perempuan dan empat laki-laki, digambarkan dalam atau terkait dengan deepfake pornografi. Ini berarti sekitar satu dari enam anggota Parlemen Eropa perempuan," demikian bunyi laporan tersebut, seperti dikutip Anadolu.

Laporan itu menyebut paparan terhadap konten seksual berbasis AI tanpa persetujuan lebih banyak dialami perempuan. Peneliti juga menemukan masalah tersebut terjadi pada anggota parlemen dari berbagai kelompok politik.

Menurut laporan tersebut, tingginya visibilitas seseorang karena memegang jabatan publik juga dapat meningkatkan risiko menjadi sasaran konten semacam itu.

"Seperti dalam audit terbaru kami tentang paparan yang dihadapi anggota parlemen nasional Uni Eropa, kami menemukan bahwa paparan terhadap bahaya ini sebagian besar menimpa perempuan, diperkuat oleh visibilitas kelembagaan, dan mempengaruhi semua kelompok utama di seluruh spektrum politik," kata laporan itu.

Uni Eropa telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani penyalahgunaan teknologi AI dalam pembuatan konten seksual. Salah satunya dengan melarang aplikasi berbasis AI yang dapat membuat gambar telanjang tanpa persetujuan mulai 2 Desember.

Uni Eropa juga menyelidiki penggunaan teknologi serupa yang melibatkan Grok, layanan AI milik perusahaan media sosial X.

[Gambas:Video CNN]

(mge/dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK