Stres Gegara Perang, Warga-Tentara Rusia Kini Suka Sihir & Hal Gaib

CNN Indonesia
Rabu, 07 Okt 2026 14:00 WIB
Russian servicemen dressed in historical uniforms march during the military parade at Red Square in Moscow on November 7, 2019, as part of the ceremonies marking the 78th anniversary of the 1941 historical parade, when Red Army soldiers marched past
Ilustrasi. Stres gara-gara perang, warga hingga militer Rusia kini suka praktik sihir. Foto: Dimitar DILKOFF / AFP
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang dengan Ukraina yang sudah berlangsung selama empat tahun memengaruhi kondisi sosial dan ekonomi warga Rusia. Mereka dilanda kecemasan atas situasi yang semakin tidak menentu ini.

Menurut laporan studi medis dalam jurnal The Lancet, sebagian besar warga yang terdampak perang mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), tingkat stres tinggi, hingga kecemasan berat yang terus berlanjut seiring belum berakhirnya perang.

Akibatnya, banyak warga Rusia yang kini mencari cara baru agar terbebas dari kecemasan. Reuters membuat laporan tentang warga Rusia yang kini gandrung pada praktik sihir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Natalia Malinovskaya, salah satunya. Dia menyebut dirinya sebagai "penyihir" dan kini memiliki basis klien baru yakni para pria yang bertempur di Ukraina timur, di mana seperti semakin banyak warga Rusia lainnya, tertarik pada hal-hal gaib di tengah konflik dan ketidakpastian ekonomi.

Di apartemennya yang remang-remang di Moskow, Malinovskaya, mengatakan bahwa ia mewarisi kekuatannya dari neneknya, menawarkan berbagai layanan mulai dari mantra cinta hingga perlindungan dari kejahatan. Ia juga sering tampil di televisi Rusia.

"Tantangan geopolitik dan ekonomi saat ini di Rusia dan di seluruh dunia meningkatkan kecemasan, memicu lonjakan mistisisme," kata lembaga survei negara VTsIOM pada bulan Maret lalu ketika menerbitkan jajak pendapat yang menunjukkan bahwa 85% warga Rusia pernah mencoba praktik magis.

"Dalam kondisi seperti itu, terutama di tengah ancaman militer, kepercayaan (terlepas dari dewa mana yang terlibat) berubah menjadi alat pertahanan psikologis," demikian pernyataan tersebut.

Data terbaru dari VTsIOM menggarisbawahi skala pergeseran ini. Sebagian besar warga Rusia melaporkan terlibat dalam beberapa bentuk praktik magis, sementara kepercayaan pada kemampuan supranatural telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Perilaku konsumen mencerminkan tren ini. Penjualan barang-barang seperti jimat pelindung, kristal, dan alat-alat ritual telah melonjak, menunjukkan bahwa mistisisme bukan hanya sistem kepercayaan tetapi juga pasar yang berkembang.

Mistisisme bukanlah hal baru di Rusia. Kepercayaan pada kekuatan gaib telah lama hidup berdampingan dengan Kekristenan Ortodoks, bertahan melewati pemerintahan kekaisaran dan penindasan era Soviet, demikian dikutip dari laman Modern Diplomacy.

Munculnya mistisisme di Rusia bukan semata-mata tentang kepercayaan pada sihir itu sendiri, melainkan lebih tentang pencarian kepastian di dunia yang tak terduga. Perang, tekanan ekonomi, dan ketidakstabilan sosial menciptakan kondisi di mana lembaga-lembaga tradisional mungkin terasa tidak memadai, mendorong individu untuk mencari sumber kepastian alternatif.

Fenomena ini dapat dipahami sebagai bentuk penyesuaian psikologis. Ketika kendali atas keadaan eksternal terbatas, sistem kepercayaan yang menawarkan kendali, bahkan secara simbolis, menjadi lebih menarik.

Pada saat yang sama, tren ini mengungkapkan ketegangan antara berbagai bentuk otoritas. Negara dan Gereja Ortodoks sama-sama berupaya mempertahankan pengaruh atas keyakinan publik, namun penyebaran praktik spiritual informal menantang dominasi tersebut.

Kebangkitan kembali praktik ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pihak berwenang dan lembaga keagamaan. Pemimpin tertinggi Kristen Ortodoks Patriark Kirill telah mengkritik keras praktik-praktik seperti ramalan, dan menganggapnya berbahaya secara spiritual.

Telah ada pula upaya legislatif untuk membatasi iklan layanan semacam itu, dengan para kritikus memperingatkan bahwa individu yang rentan dapat dieksploitasi secara finansial selama masa krisis.

(imf/dna/bac)