Keluhan Siswa Pedemo di Prancis: Kelas Sumpek, Atap Bocor & Ada Tikus

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 07:35 WIB
Protes siswa SMA di Prancis meluas menjadi aksi demonstrasi dan kerusuhan setelah mereka mengeluhkan kondisi sekolah yang dianggap tidak layak.
Protes siswa SMA di Prancis meluas menjadi aksi demonstrasi dan kerusuhan setelah mereka mengeluhkan kondisi sekolah yang dianggap tidak layak. (REUTERS/Abdul Saboor)
Jakarta, CNN Indonesia --

Protes siswa sekolah menengah di Prancis meluas menjadi aksi demonstrasi dan kerusuhan setelah mereka mengeluhkan kondisi sekolah yang dianggap tidak layak, mulai dari ruang kelas terlalu penuh, kekurangan guru, hingga fasilitas yang rusak.

Para siswa membakar tempat sampah dan mendirikan barikade di sejumlah kota pada Kamis (1/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aksi tersebut juga menyebabkan sejumlah kepala sekolah mengalami cedera, pelecehan, atau serangan selama blokade sekolah.

Polisi menahan ratusan demonstran di sejumlah lycée, sekolah menengah yang umumnya diikuti siswa berusia 15 hingga 18 tahun.

Di SMA Victor Hugo di Marseille, guru secara tidak sengaja terkena cipratan bensin ketika seorang siswa mencoba menuangkan bensin ke tempat sampah, menurut pihak berwenang setempat.

Sebelumnya, kantor kejaksaan menyatakan sejumlah guru telah diserang dan "disiram bensin".

[Gambas:Video CNN]

Aksi kekerasan juga terjadi di SMA Saint-Exupery di Marseille. Ratusan anak muda mengepung mobil pemadam kebakaran yang datang untuk memadamkan api pada Kamis (1/10) pagi.

Polisi mengatakan para penyerang memaksa petugas pemadam kebakaran keluar dari kendaraan sebelum mobil tersebut dibakar.

Di Nantes, petugas pemadam kebakaran memadamkan api di pintu masuk sebuah sekolah menengah. Pejabat pendidikan regional mengatakan aksi tersebut "ditandai dengan kekerasan terhadap staf".

Sementara itu, di Strasbourg, layanan trem dihentikan untuk "membatasi pergerakan perusuh dan demonstran". Para siswa juga membakar penghalang yang dipasang di jalur trem.

Di tengah aksi tersebut, sejumlah siswa mengungkapkan alasan mereka turun ke jalan. Raphael, siswa berusia 17 tahun di Strasbourg, mengatakan ruang kelas yang terlalu penuh membuat kegiatan belajar tidak nyaman.

"Ada 35 orang di setiap ruang kelas. Dengan suhu 35 derajat Celsius [95 derajat Fahrenheit] di musim panas, itu tidak tertahankan. Toilet tidak cukup, dan ada kebocoran air di beberapa ruangan," kata Raphael kepada AFP.

Ia tidak menyebutkan nama belakangnya karena khawatir mendapat pembalasan.

Raphael juga mengeluhkan kondisi bangunan sekolah dan keterbatasan fasilitas.

"Bangunannya sudah bobrok, kantinnya terlalu kecil. Tidak ada anggaran, tidak ada sumber daya, dan jumlah pengawas tidak mencukupi," ujarnya.

Keluhan tersebut mencerminkan kemarahan siswa yang menyebar di berbagai wilayah Prancis sejak pekan lalu. Aksi yang awalnya berupa protes terhadap kondisi sekolah berkembang menjadi kerusuhan di sejumlah kota.

Sekitar 340 aksi demonstrasi berlangsung di luar sekolah menengah pada Kamis pagi. Polisi menyatakan lebih dari 160 sekolah ditutup akibat aksi tersebut.

Mahasiswa universitas juga ikut melakukan aksi. Sebuah serikat mahasiswa mengatakan mereka memblokir akses ke sekitar 30 kampus, termasuk di Paris dan Marseille.

Pihak berwenang melaporkan puluhan orang terluka. Sebagian terluka akibat benda yang dilempar selama kerusuhan, sementara lainnya dilaporkan terkena proyektil yang digunakan polisi untuk mengendalikan massa.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan polisi telah membuka penyelidikan internal terkait dugaan kekerasan yang melibatkan tiga siswa.

Perdana Menteri Sebastien Lecornu juga menggelar rapat krisis. Ia meminta para menteri membatalkan perjalanan dinas yang akan datang agar pemerintah dapat fokus menangani demonstrasi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray dijadwalkan bertemu dengan perwakilan serikat pekerja serta asosiasi orang tua dan siswa pada Jumat (25/9).

Aksi protes tersebut juga masuk ke dalam persaingan politik menjelang pemilihan presiden Prancis pada Mei mendatang.

Pemerintah menuduh partai sayap kiri France Unbowed mendorong aksi tersebut. Namun, kandidat presiden Jean-Luc Melenchon mengatakan partainya menyerukan "metode perjuangan tanpa kekerasan".

Melenchon juga mengkritik respons pemerintah terhadap demonstrasi yang dinilainya represif.

(mge/bac)
placeholder